podcast hiburan

podcast hiburan cerita hanya karangan belaka just hiburan 18+
(1)

Selamat lebaran 🥰🥰🥰..Maaf ada salah kata Mimin 🙏
21/03/2026

Selamat lebaran 🥰🥰🥰..
Maaf ada salah kata Mimin 🙏

Gas pak
14/03/2026

Gas pak

Amin..
11/03/2026

Amin..

Amiin  berat
08/03/2026

Amiin

berat

Bab.374 Misteri KehamilanMalaika"Apa yang dia katakan,Sayang?" Malaika menatapwajah Usta Gaffi dengan ragusetelah pria i...
03/03/2026

Bab.374 Misteri Kehamilan
Malaika
"Apa yang dia katakan,
Sayang?" Malaika menatap
wajah Usta Gaffi dengan ragu
setelah pria itu melontarkan
kalimatnya yang terakhir
dengan nada pertanyaan.
"Tapi Abi harus berjanji
dulu tidak akan marah kalau aku
mengatakannya hal ini." Ustaz
Gaffi tersenyum lantas
menc # hidung istrinya
dengan lembut.
"Iya, Sayang. Aku tidak
marah. Katakanlah.," ucap
Ustaz Gaffi selanjutnya.
"Dia mengatakan soal
kehamilanku." Ustaz
Gaffiengerutkan kening dan
kedua alosnya kuat-kuat setelah
mendengar jawaban Malaika
sekilas.
"Maksudnya apa dia
membahas kehamilan kamu,
Sayang?" tanya Ustaz Gaffi lagi
sambil terus menatap wajah
Malaika dengan intens.
"Dia mengatakan bahwa nak
yang ada di dalam kandunganku
bukan anak Abi melainkan
Sungguh Ustaz Gaffi sangat
terkejut mendengar jawaban
dari Malaika. Wajahnya
mengemas. Seketika itu juga
pria tampan itu menarik diri
dari t # sang istri.
Malika yang melihat
suaminya sudah berekspresi lain
sadar betul kalau laki-laki itu
sedang marah. Hingga pada
akhirnya apa yang ditakutkan
Malaika saat ini hampir terjadi.
"Apa dia mengatakan bahwa
itu anaknya?"
FEG!
Wajah Malaika
seketikaerah. Apa yang
seharusnya dia katakan ternyata
sudah diutarakan oleh
suaminya terlebilh dahulu.
"Abi sudah dapat
menduganya." Ustaz Gaffi
menseaqh mendengar keluhan
Malaika. Wanita itu kini
menunduk.
"Tapi demi Allah, Abi. Aku
tidak pernah berbuat hal
menjijikan itu. Akh masih
sangat setia pada Abi. Meskipun
kota pernah berpisah selama itu
dan Abi nggak ada kabarnya."
Malaika mengatakan itu
sambil menunduk. Tak terasa
tiba-tiba ada lelehan hangat
sudah meninggalkan jejak di
p**i cantiknya.
Ustaz Gaffi bergeming.
Bersikap dingin dan tak pernah
dilakukannya pada Malaika
setiap kali perempuan itu
menangis.
Namun kali inj sikap Istaz
Gaffi tak sama sekali
mempedulikan Malaika saat
hatinya sedih. Pria muda itu
mengabaikan istrinya dengan
sengaja.


"Apa Abi tidak percaya?"
tanga Mqlaika sambil
mend**gakkan wajahnya yang
basah. Melihat suaminya yang
tiba-tiba cuek dan atuh tak atuh.
"Noah semakin lama
semakin keterlaluan. Dari mana
dia bisa mengakui anak ini
adalah anaknya. Itu sama saja
sudah melec # harga dirimu
sebagai istri Abi, Sayang!"
Kedua tangan Ustaz Gaffi
mengepal. Dan terlihat sangat
jelas rahang tampan itu terlihat
menonjol saat kemarahan itu
kini berp # dengan dirinya.
.

"Tapi mang kami tidak
terjadi apa-apa, Abi. Demi Allah!
Akujuga tidak tahu kenapa dia
begitu yakin telah melakukan
sesuatu terhadapku."
Mendengar apa yang
dikatakan oleh Mqlaika Ustaz
Gaffi dengan cepat melakukan
pergerakan membuat Malaika
sangat terkejut.
"Abi! Abi mau ke mana?"
Teriakan itu menggema begitu
keras dari ruang kamar Ustaz
Gaffi dan Malaika.
Wanita itu mencoba
menyusul kepergian suaminya.
Namun sayang sudah terlambat.
Ustaz Gaffi sudah keluar dari
pintu gerbang. Terdengar suara
mobilnya sudah menjauh.
Teriakan yang baru saja
terdengar itu ternyata membuat
Intan dan Mbak Diah terkejut.
Kedua pegawai Ustaz Gaffi dan
Malaika itu keluar dari ruang
dapur.
"Anda tidak apa-apakan,
Nyonya?" tanya Mbqk Diah
sambil menatap wajah Malaika
dari kejauhan. Malaika hanya
menggeleng lantas kembali ke
kamarnya.
Wanita itueraih ponselnya.
Mencoba menghubungi
suaminya. Sayangnya
panggilannya ditolak oleh Ustaz
Gaffi. Dan sepertinya Malaika
cukup tahu. Ke mana Ustaz Gaffi
pergi.
Apartemen Noah Benjamin
BRAKK!
.

"Apa yang sudah kamu
katakan pada istriku, Noah?"
Dengan kemarahan mutlak
Ustaz Gaffi langsung
menc # l # Noah yang
saat itu terkejut melihat
kedatangan adik kandungnya
itu di tempat tinggalnya.
"Maksud kamu apa Gaffi?
Kamu datang tiba-tiba dengan
membabi buta seperti ini," ucap
Noah sambil mencoba menepis
tangan Ustaz Gaffi di lehernya.
Pria tanmpan itu memang
lain kalau sedang marah besar.
.

"Kenapa kamu mengatakan
bahwa janin yang dikandung
Malaika itu anakmu. Itu sama
saja kamu merendahkan harga
diri istriku. Bagaimana bisa
kamu berpikir Malaika tidur
denganmu!"
Suara Ustaz Gafi
menggelegar saat mengatakan
itu. Dia memang tidak terima
istrinya direncanakan harga
dirinya.
Noah sekarang mengerti
kenapa adik kandungnya itu
sangat murka terhadapnya.
.

"Aku hakin Malaika tidak
melakukan hak menjijikan
selama aku pergi, Noah. Maka
jangan pernah kamu memfitnah
Malaika seperti itu.itu sama saja
kamu menyakitinya. Seharian
ini dia berpikir keras tentang
apa yang barusan kamu katakan
Noah bergeming
mendengar apa yang dikatakan
oleh Ustaz Gaffi. Begitu yakin
dan percayanya laki-laki
tampan itu kepada wanita
kesayangannya.
"Gaffi. Jangan salah paham.
Kalau memang benar au tidak
perlu marah. Hanya saja aku
ingat waktu itu malam dengan
hujan dan geledek menyambar.
Malaikaenelponku karena
merasa ketakutan. Bukankah
kamu juga tahu bahwasannya
istriku takut dengan petir.maka
dari itu akuenemaninya.
Aku tertidur di rumahmu.
Dan setelahnya tidak tahu apa
yang terjadi. Seingatku bahwa
pagi harinya aku sudah berada
di sofa dengan kondisi yang aku
kira kamu cukup tahu lah."
PLAK! PLAK!
Itu kamu saja yang
berkhayal tinggi, Noah. Istriku
tidur di kamarnya. Dan dia
selalu mengunci kamarnya bila
tertidur tanpa aku."
Uataz Gaffi semakin
meradang. Dia tidak ingin.
Harga diri istrinya dihancurkan
orang lain bahkan saudaranya
sendiri.
Melihat keyakinan yang
dimiliki oleh Ustaz Gaffi
akhirnya Noah menghela napas
lalu mencoba kembali
melepaskan diri dari
cengk # Ustaz Gaffi.
.
"Lepaskna aku, Gaffi,"
desisnya dengan mata tajam.
Seolah kini gantian dia yang
marah.
"Sekarang kalau memang
itu anak kamu, katakanlah.
Kapan kalian melakukannya.
Karena kalian berpisah selama
ini san mengakui kehamilan
istri kamu sendiri. Memang ini
aku akui sangat mengherankan.
Bahkan selama satu tahun ini
kamu tidak pulang tapi Malaika
bisa mengandung. Ini akan
menjadi tanda tanya besar oleh
sebagian orang. Bahkan akan
menimbulkan fitnah. Aku rasa
kamu lebih tahu dari pada aku."
Ustaz Gaffi tertegun
mendengar kalimat-kalimat
panjang yang dikatakan oleh
Noah. Kali ini pria itu
trrbungkam seolah mencari
kata-kata yang pas untuk
menjawab semua pertanyaan
Noah.
.

"Kenapa, Gaffi? Apa kamu
tidak mempunyai jawaban?
Swlam ini kamu melakukan
kesalahan apa, Gaffi sampai
kamu mau mengakui kehamilan
Malaika. Padahal jelas-jelas itu
hal yang tidak mungkin. Apa
kamu sesungguhnya di luar sana
juga mempunyai perempuan
lain? Kamu mempunyai istri
selain Malaika?"
Ustaz Gaffi sungguh
terkejut mendengar tuduhan
saudaranya itu.
"Jaga bicaramu, Noah!
Jangan mengucapkan fitnah
sembarangan! Apa yang kamu
katakan itu tidak benar sama
sekali. Bahkan kamua tidak
apunya buktinya. "
Noah hanya tersenyum
sinis mendengar apa yang
dikatakan oleh Ustaz Gaffi.
"Lantas apa sekarang kamu
bisa menjawab pertanyaanku
tadi. Bahwasannya hak yang
tidak mungkin kamu
melakukan hubungan itu di saat
kamu sedang jauh dengan
Malaika. Dan hampir satu tahun
terakhir sebelum
kepulanganmu ini kamu tidak
ada kabar sama sekali."
Ustaz Gaffi menelan
sali # . Dia bingung bahkan
saat ini ingin mengelak dari
serangan pertanyaan yang
memojokannya itu.

🥰❤️

Bab 373 Malaika tersentakmendengar perkataan Noah.Wanita itu tak menyangka kalauNoah yang selama injdianggapnya sahabat ...
03/03/2026

Bab 373 Malaika tersentak
mendengar perkataan Noah.
Wanita itu tak menyangka kalau
Noah yang selama inj
dianggapnya sahabat bahkan
sudah menjadi kakak iparnya
akan tega berkata seperti itu.
"Noah. Apa yang kamu
katakan ini? Sudah jelas-jelas
kamu mendengar bahwa Abi
mengakui ini calon b # ,
ucap Malaika mencoba
menyangkal apa yang sudah
terjadi dengan dirinya dan
Noah.
.

"Tapi sesuai dengan logika,
Malaika. Bahwa suami kamu
sudah selama setahun inj nggak
pulang. Bahkan kabar pun tidak
ada. Bagaimana mungkin kamu
bisa hamil? Sedangkan aku dan
kamu_
"Apa yang terjadi antara aku
dan kamu Noah? Tidak terjadi
apa-apa di antara kita. Bahkan
malam itu sepertinya aku hanya
ketakutan karena ada angin dna
petir serta hujan besar. Itu pun
aku di rumahku sendiri."
Noah terdiam menghela
napas. Mencoba untuk
mengingat apa yang terjadi
beberapa lama sebelum Ustaz
Gaffi kembali ke rumah.
Hari itu ada hujan angindan
petir yang menakutkan. Sampai
pada akhirnya Malaika
memanggil Noah
untukenemaninya di rumah.
Padahal itu sudah larut malam.
Bahkan kedatangannya juga
diketahui oleh Salman penjaga
rumahnya. Namun entah apa
yang terjadi setelah beberapa
lama Noah berada di rumah
Malaika dan merasa kedinginan
laki-laki itu mengetuk pintu
kamar wanita itu..

Selanjutnya di anggap
pernah tahu apa yang terjadi.
Karena sadar-sadar sudah
berada adi sofa ruang tamu
dengan pakaian tidur. Padahal
sebelumnya Noah memakai
pakaian biasa.
"Tidak terjadi sesuatu
denga. Kira, Noah. Aku yakin.
Karena waktu itu malah aku
nggak tahu kalau kamu
mengetuk pintu kamarku.
Untuk hal selanjutnya aku
kuga yidak tahu apa yang terjadi
denganmu. Yang ketahui aku
tertidur di kamarku dan kamu
tertidur di sofa ruang tamu."
Kembali Noah menghela
napas. Memang semua itu
seperti misteri. Rasanya tidak
masuk akal. Kalau tiba-tiba
terjadi hal yang mengejutkan
seperti ini.
Malaika tiba-tiba hamil di
saat suaminya sedang
melakukan perjalanan dinas ke
luar negeri dan selama satu
tahun tidak pulang. Bahkan
kabar pun nggak ada.
Lalu tiba-tiba ada fakta lain
bahwasannya ada suatu malam
di mana Noah ke rumah Malaika
karena panggilan wanita itu
untuk ditemani namun tiba-tiba
Noah merasa tidak sadarkan diri
seperti ada yang memukulnya.
Tapi bagaimana bisa Noah
mengatakan bahwa dirinya
yang menghamili Malaika.
Sesuatu yang mustahil sekali.
Apakah Noah hanya ingin
merusak rumah tangga Ustaz
Gaffi dan Malaika dengan cara
murahan seperti ini?
.

"Noah. Aku nggak
menyangka kalau obsesi kamu
ingin memilikimu sampai
membuatkan mata hatimu.
Dengan apa kamu mengatakan
ini anak kamu! Itu sama saja
kamu memfitnahku dan
menghancurkan rumah
tanggaku dengan Abi. Tega
kamu!"
Dengan cepat Malaika
berjalan ke dalam rumah. Dia
lupa sedang hamil. Berjalan
dengan kasar dan
menghentakkqn kaki hingga
meras anaknya terkilir.
Sedang Noah masih berdiri
terpaku di teras halaman rumah
Ustaz Gaffi, adiknya. Ada
hembusan naps berat yang
keluar dari hidungnya.
"Ternyata aku telah berbuat
salah, Ya Allah. Tak seharusnya
aku gegabah seperti ini," gumam
Noah sambil beranjak dari
tempat itu. Tampak rintik hujan
tiba-tiba mewarnai petang
menjelang magrib itu.
Dikabarkan setelah
beberapa jam, Malaika masih
duduk melamun. Tepatnya dia
sedang berada di atas ballkon
kamarnya.
Wanita itu merenungi apa
yang terjadi dengan dirinya
akhir-akhir ini semenjak
suaminya, Ustaz Gaffi pergi
menempuh pendidikan
sekaligus berdakwah ke Kairo,
Mesir.
"Bagaimana caranya agar
Akh tahu b # siapa yang ada di
dalam.kandunganku ini, Ya
Allah. Sedangkan aku tak
berhubungan intim dengan
siapa pun. Bahkan suamiku
waktu itu tidak sedang di rumah
Hati Malaika terus
bertanya-tanya dengan
kegalauan jiwanya. Hal yang
memang tidak mungkin kalau
dicerna lewat akal manusia.
Tapi anehnya dengan
lantang Ustaz Gaffiengakui
janin yang dikandungnya itu
adalah bayinya. Hasil buah
cintanya dengan Malaika. Tapi
kapan mereka melakukannya?
Sedangkan mereka terpisah oleh
jarak setahun lebih.
.

"Assalamualaikum."
Malaika terhenyak
mendengar suara salam itu
ternyata sudah menggema.di
dalam kamarnya. Wanita
ituenoleh dan mendapati sosok
suaminya sedang melepas baju
kebesarannya.
"Waalikumsalam, Abi. Abi
sudah pulang?
Ustaz Gaffi mengangguk
lalu tergesa3 mbu # t #
istrinya agar tidak bangun dari
tempat duduknya.
"Nggak usah bangun. Biar
Abi saja yang datang
menghampiri," ucap Ustaz Gaffi
sambil berisik dan meraih wajah
istrinya lalu menc # .
"Maaf, Abi tadi lama baru
pulang. Haris membantu
membereskan semua dulu. Dan
keluarga Marwah juga mengajak
berbincang sebentar."
Malaika hanya membelai
p**i suaminya yang ditumbuhi
bulu-bulu halus itu lalu
tersenyum.
"Iya, Abi. Nggak apa-apa
kok," javwab Malaika
sambilenarik tangan
rampingunya.
.

"Sayang belum makan,
bukan. Abi ambilin, ya. Soalnya
Abi sudah makan di sana.
Malaika menggeleng perlahan.
Entah mengapa selera
makannya turun drastis
semenjak kedatangan Noah.
Bahkan Malaika sendiri
belumemberi keputusan untuk
mengatakan bahwasanya tadi
Noah datang ke rumah dan
mengatakan tentang
kehamilannya.
"Kenapa, Sayang. Kamu
harus makan. Karena ini
berhubungan dengan janin kita.
Kamu tidak boleh kekurangan
nutrisi makanan. Kamu lupa
sedang mengandung anak Abi?"
DEG!
Malaika menghentikan
tatapannya tepat saat Ustaz Abi
mengatakan dengan lantang
soal janinnya. Ada sesak yang
tiba-tiba menyerang d # .
Entah mengapa wanita
ituerasa ketakutan saat ini.
Apalagiengingat Noah juga
dengan berani mengakui bahwa
anak yang ada di dalam
kandungannya itu adalah
anaknya.
.

"Ya Allah. Demi Engkau,
aku tidak pernah merasa
berhubungan dengan laki-laki
mana pun selain suamiku. Tapi
ini, tiba-tiba aku hamil di saat
suamiku sedang pergi dinas
selama satu tahun. Dan
kebetulan juga aku ditemani
dengan Noah malam itu. Aku
sungguh tidak melakukan
apa-apa. Seingat aku seperti itu.
Jangan sampai terjadi sesuatu
yang aku sendiri tidak sadar, Ya
Allah!"
"Sayang. Kenapa malah
melamun? Abi ambilin makan,
ya. Kamu belum makan sehabis
pulang dari resepsi tadi."
Malaika memberanikan diri
untuk menatap suaminya.
Dia sudah bertekad akan
berbicara pada Ustaz
Gaffiengenai kedatangan Noah
yang memberi pengakuan
kepadanya.
.

"Abi. Aku mau ngomong.
Tapi Abi jangan langsung
menuduhku, ya. Karena aku
sendiri juga nggak tahu apa-apa.
Ustaz Gaffiengerutkan dahi
saatendengar perkataan
istrinya. Lalu pria muda itu
menggeser duduknya. Bahkan
sudah berpindah tempat.
Pria itu duduk di belakang
Malaika. Lalu memeluk tubuh
istrinya yang masih terlihat
kurus. Karena usia
kandungannya masih sangat
muda.
"Ap yang ingin kamu
sampaikan pada Abi, Sayang?
Katakanlah. Abi akan
mendengarnya."
Malaika kembali menghela
napas panjang. Kali ini dia tidak
bisa menatap suaminya karena
posisinya sudah berubah.
Hanya saja wanita itu
menoleh dan mendapati wajah
suaminya sudahenempek di p**i
tirusnya.
.

"Tadi Noah datang ke
rumah."
Perkataan Malaika yang
baru satu kalimat itu sudah
mampu membuat laki-laki itu
memutar balikan t #
Malaika. Menangkup wajah
istrinya dengan kedua tangan
kekarnya seolah dia ingin
memastikan bahwa Noah tidak
berbuat macam-macam.

🥰❤️

Bab.372 Malaika dan Ustaz Gaffimeraupkan kedua telapaktangan mereka ke wajah setelahpembacaan doa ijab kabuk ituselesai....
03/03/2026

Bab.372 Malaika dan Ustaz Gaffi
meraupkan kedua telapak
tangan mereka ke wajah setelah
pembacaan doa ijab kabuk itu
selesai.
Beberap detik kemudian
mereka sudah menjadi salksi
bahwa Marwah dan Athallah
sudah resmi menjadi suami istri.
.

"Alhamdulillah, Abi."
"Alhamdulillah, Sayang,"
ucap Ustaz Gaffi sambil
menggenggam jemari istrinya.
"Abi nggak apa-apa.
Baik-sajakan?" Ustaz Gafi
mengerutkan dahinya saat
mendengar pertanyaan Malaika
yang terdengar janggal.
"Memang kenapa, Sayang.
Abi baik-baik saja kok." Malaika
hanya tersenyum mendengar
jawaban dari suaminya.
"Syukurlah kalau begitu,"
ujar Malaika sambil
mengeratkan genggaman jemari
suaminya. Ustaz Gaffi merasa
heran dengan perkataan
istrinya.
"Kok gitu, Sayang. Memang
kenapa?" tanya Ustaz Gaffi
penasaran lalu menatap ke arah
istrinya.
"Tidak apa-apa kok, Abi.
Kirain Abi sakit gitu, melihat
Marwah menikah dengan
saudara kembar Abi sendiri."
Ustaz Gafi seketika
mengerutkan dahi saat
mendengar apa yang dikatakan
oleh Malaika. Membuat wanita
itu terkekeh.
"Kalian bahagia sekali
sepertinya sudah nggak ada
orang yang akan mengganggu
rumah tangga kalian." Ucapan
itu sekilas namun mampu
membuat Malaika dan Ustaz
Gaffi tercengang beberapa saat.
"Kenapa dia?" tanya Ustaz
Gaffi sambil menatap sosok
Noah yang sudah berjalan
meninggalkan tempat resepsi
itu. Malaika hanya menggeleng
lantas kembali fokus duduk
dengan para tamu undangan
lain.
.

Tak lama kemudian
Intanendekatinya dan
membiarkan sesuatu.
"Abi, si kembar rewel. Aku
ke sana dulsu, ya?" Ustaz
Gaffiengangguk dan melihat
anak kbar mereka sedang
bertengkar.
"Ada apa, Sayang? Kalian
berantem?" tanya Malaika
sambil duduk bersimpuh di
hadapan mereka. Melihat itu
Ustaz Gaffi pun bangkit dari
tempat duduknta mendekat ke
arah Malaika dan putera
kembarnya.
"Sayang. Jangan duduk
bersimpuh begitu. Kasihan
janin kamu di dalam perut."
Kedua anak kembar itu terkejut
saat mendengar apa yang
dikatakan oleh papanya.
.

"Kan aku juga bilang apa,
Alqa. Mama sedang ada dwdwk
bayinya di dalam perut."
"Itu artinya kasih sayang
Mama dan Papa akan terbagi.
Sekarang lihat saja, merwka
lebih sayang sama dedek b # ."
Sempat terpna memdengar
celotehan anak berusia 5 tahun
itu, Malaika hanya tersenyum
bahagia. Ternyata anak
jembarnya sudah sangat pintar
berkomunikasi.
"Nggak d**g, Sayang.
Mama akan tetap sayang sama
kalian berdua meskipun ada
dedej b # di dalam perut Mama
Setidaknya perkataan
seorang ibu mampu membuat
anaknya merasa nyaman dan
terlindungi. Berbeda dengan
Usta Gaffi yang menatap tajam
ke arah dua pitra kembarnya.
Sikapnya ini ternyata
mampu membuat Alga dan
Alqienciut. Menunduk bahkan
menyingkirkan t # merwka
ke belakang Malaika.
Malaika yang melihat sikap
suaminya sedikit kaget
karenanggak biasanya laki-laki
itu bersikap kasar pada buah
hatinya.
"Abi. Jangan terlalu keras
pada mereka. Mereka masih
kecil dan butuh bimbingan."
Ustaz Gaffi kemudian
menggantikan posisi Malaika.
Duduk bersimpuh di hadapan
kedua anak kembar itu.
"Alqa dan Algi nggak boleh
buat Mama susah, ya. Sebentar
lagi kalian mempunyai adik.
Dan berdia adek kalian
perempuan. Jadi kalian bisa
bermain bersama. Bisa menjadi
pelindung bagi adik perempuan
kalian. Kalian juga bisa belajar
bertanggung jawab pada adik
kalian kalau adik perempuan
kalian diganggu orang lain.
Yang pasti kalian akqn mulai
belajar tentang tanggung jawab.
Apa kalian mengerti?"
Baik Alqa dan Alqi saling
menatap kemudian tatapan
mereka berpindah ke arah
wajah cantik Malaika. Melihat
mama mereka mengangguk
akhirnya kedua anak itu pun
mengangguk paham.
"Intan. Jangan biarkan
mereka berantem lagi, ya. Bawa
ke po dok Abah saja." Intan
mengangguk patuh dengan
perintah Ustaz Gaffi.
Kemudian perempuan yang
masih muda Itu membawa anak
majikan mereka pergi dari
tempat itu.
"Tak seharusnya Abi
berkata keras padaerwka. Alqa
dan Alqi masih terlalu kecil
untuk mendapat pendidikan
setegas ini, Abi."
Ustaz Gaffi bangun dari
bersimpuhnya. Memegang
pundak ringkih Malaika. Lalu
mendaratkan sebuah kec #
singkat di kening wanita yang
saat ini sedang ada di
hadapannya itu.
Seperrinya kamu ini kurang
makan, Sayang. Perut kamu
masih rata. Seharusnya usia
kandungan 16 minggu sudah
mulai menonjol perutnya."
Malaika tertawa
kecilendengar ucapan suaminya.
Kehamilannya kali ini
benar-benar menyita waktu
Ustaz Gaffi. Pria tampan itu
stand bye di dalam rumah atau
pun ke mana pun Malaika pergi.
Sudah dapat dipastikan Ustaz
Gafi ada di sisi istrinya.
.

"Abi jangan khawatir. Ini
baru dua bulan. Insya Allah 2
bulan lagi perutku akan
menonjol, " ucap wanita itu
sambilengelus wajah suaminya.
Terasa wajah itu dengan
bulu-buu halusnya. Saat ini
Ustaz Gaffi memang sengaja
berpenampilan brewokan
setelah dari Mesir Kairo.
"Anak kedua kita ini pasti
istimewa, Sayang. Abi yakin itu."
Malaika mengerutkan dahi saat
mendengar perkataan suaminya.
"Maksudnya istimewa
bagaimana, Abi?" tanya Malaika
penasaran.
"Insya Allah seizing Allah.
Anak kita nanti akan
mempunyai indera ke enam
Malaika sungguh terkejut
setelahendengar apa yang
dikatakan oleh Ustaz Gaffi.
Wanita ituenatap intens ke arah
suaminya.
"Dari mana Abi mengetahui
itu?" Ustaz Gaffi hanya
tersenyum lantas menggandeng
tangan Malaika memasuki
kembali gedung resepsi.
"Dari Allah, Sayang. Karena
hanya Allah yang punya kuasa
itu."
Makjleb hati Malaika
mendengar apa yang dikatakan
oleh Ustaz Gafi. Sudah tidak
diragukan lagi bahw amemang
laki-laki muda yang sudah
berhelar ustaz muda itu
mempunyai banyak kelebihan
termasuk bisa mengetahui
sesuatu sebelum kejadian.
Bukan jngin mendahului
kodrat Allah. Namun
faktanyaang Pria tampan itu
mempunyai kelebihan itu.
Perbincangan merwka
terhenti dan pesta pernkahan
Marwah Athallah itu berjalan
lancar sampai Sore.
Setelah malam tiba
akhirnya Malaika kembali ke
rumah.
"Mala." Wanita itu menoleh
saat mendengar panggilan
untuknya.
"Noah. Kamu kok ada di
sini?" tanya Malaika saat
melihat Noah berada si teras
rumahnya.
"Karena aku tahu suamimu
tidak akan pulang
mengantarmu. Dan kamu di
antar sopir di sana."
Malaika mengerutkan dahi
saat kembali mendengar
perkataan Noah yang saat ini
sedang menyandarkan
punggungnya di tembok
rumahnya.
"Abi sedang sibuk
membantu di tempat Marwah.
Tidak enak kalau pulang begitu
saja.'
"Maka dari itu aku
memastikan kamu sampai di
rumah dalam kondisi yang
baik-baik saja. Karena kamu
sedang hamil."
Malaika tersenyum lantas
melanjutkan kakinya
melangkah. Duduk di sofa teras
rumahnya lantas melihat Intan
sudah selesai menidurkan anak
kembarnya.
"Aku baik-baik saja. Insya
Allah demikian dengan janin
yang ada di dalam kandunganku.
Kamu tidak usah khawatir,
Noah."
"Aku percaya padamu, Mala.
Akan tetapi ada hang melihat
kita malam itu." Malaika
mengernyitkan dahi.
"Maksudnya?"
"Athallah dan Marwah
mengetahui malam itu aku
bersama kamu. Dan mereka
sudah mencurigai anak di dalam
kandunganmu ini anakku."
DOERR!

🥰❤️

Bab.371 Selalu Ten tang UstazGaffi Dan Malaika"Abi. Kok datang ke sini?"tanya Malaika dengan ekspresikaget saat melihat ...
03/03/2026

Bab.371 Selalu Ten tang Ustaz
Gaffi Dan Malaika
"Abi. Kok datang ke sini?"
tanya Malaika dengan ekspresi
kaget saat melihat sosok
laki-laki yang samgat dia
sayangi.
.

"Khawatir dengan
kondisimu, Sayang. Abo tidak
bisa membiarkan kamu pergi
lama-lama sendiri."
Malaika merasa tersanjung
dengan apa yang barusan
diucapkan oleh suaminya itu.
Semenjalk kepulangan Ustaz
Gaffi dari dakwah dan
menempuh pendidikannya di
Kairo Mesir perawakan ustaz
muda itu memang berubah.

"Aku tidak apa-apa, Abi.
Hanya duduk menandatangani
berkas. Dan bertemu dengan
kloen. Selebihya aku nggak
ngelakuin apa-apa."
Ustaz Gaffi tersenyum
lantas mendekati istrinya. Lalu
mem # perempuan itu dari
belakang membuat Malaika
sedikit meremangkan bu #
romanya.
"Abi. Jangan begini. Ini di
kantor," ucap Malika dengan
suara yang terlihat parau.
Apalagi ketika Ustaz Gaffi sudah
mengel # perut Malaika masih
rata.
"Abo mggak ngapa-ngapin,
Sayang. Hanya ingin menge #
calon puteri Abi," bisik Ustaz
Gaffi sambil memberikan
c # di telinga Malaika.
Semakin membuat wanita itu
bergerak sedikit lia # .
.

"Kita pulang saja, Abi. Aku
takut dilohat banyak karyawan,
ucap Malaika berusaha
tangannya menggapai tas kerja
yang masih di atas meja.
Ustaz Gaffi hanya terkekeh.
Dia paham bemar apa yang
dirasakan istrinya saat ini.
"Apa nggak terlalu
buru-buru, Sayang?" Malaika
melotot mendengar suaminya
meledeknya dengan jahil.
"Abi! Jangan meledek, akh!"
Ustaz Gaffi semakin melebarkan
senyumnya malah kini
terdengar tawannya yang
membahana.
Namum tawa itu seketika
terhenti saat terlohat pintu
ruangan Malaika terbuka.
"Bu Mala. Ada tamu untuk
Anda." Malaika terkekut
sedangkan Ustaz Gaffi begitu
lembut melepaskan pel #
pada wanita kesayangannya itu.
"Perasaan kita yang mau
menikah, kenpa jadi kalian yang
begitu mesra." Ucapan itu
terdengar dari b # Athallah
yang baru saja datang dengan
Marwah di kantor Malaika.
Ustaz Gaffi hanya
tersenyum dan kembali
mem # t # Malaika dengan
erat. Membuat sepasang calon
pengantin itu
kembaliemdemgus kesal..

"Athallah. Marwah. Kalian
ke sini ada apa? Apa ada hal
penting?" tanya Malaika sambil
berjalan ke arah sofa yang
berada di ruang kerjanya.
"Tentu saja kami ada
keperluan yang sangat penting.
Soal pernikahan kami tentunya
bukan?" Malaika sedikit
terhenyak. Dia sempat
melupakan tentang pernikahan
Athallah dan Marwah yang akan
diadakan bulan ini.
"Malaika. Aku mau
kamuenkadi orang pertama
yang menjadi saksi hidup aku
sudah menikah dengan
Athallah."
Malaika dan Ustaz Gaffi
saling berpandangan. Sedikit
merasa tersindir bahkan sangat
menyinggung perasaan Malaika.
Bahwa Marwah sepertinya ingin
menunjukkan kalu wanita itu
sudah bisa melupakan
suaminya.
Marwah lupa bahwasannya
kalau Athallah adalah saudara
kembar Ustaz Gaffi yang
mempunyai wakah sama dan
sangat mirip.
Itu artinya Marwah masih
bisa memiliki sosok Ustaz Gaffi
dalam t # yang berbeda
dengan wajah yang sama.
"Tentu saja, Marwah. Kamu
jangan khawatir. Aku dan Abi
akan menjadi salksi utama
pernikahanmu dengan Athallah.
Semoga demgan ini kamu
bahagia memiliki suami yang
berwajah sama dengan suamiku
meskipun perilaku dan sikap
serta tabiatnya berbeda. Karena
mereka adalah saudara kembar
yang baru saja dipertemukan.
Dan mulai kamu menjadi istri
sah Athallah kita adalah saudara
ipar."
Jawaban cerdas yang
diberikan oleh Malaika itu
membuat Marwah seperti
tertampr. Wanita itu tak
menyangka kalau Malaika
sudah menyiapkan semua
jawaban itu dengan apik dan
rapi.
Ustaz Gaffi hanya
tersenyum lebar mendengar apa
yang disampaikan istrinya pada
Marwah. Wanita yang
menurutnya selalu menjadi
ujian dan cobaan di dalam
rumah tangganya.
Laki-laki bertitel ustaz
muda itu selalu bersyukur
karwna Malaika selalu
mempunyai hati yang tegar dan
lapang untuk memgadapi semua
ang diberikan oleh Allah.
Termasuk ketika dia
mendapatkan ujian berupa
godaan dari wanita baik nakal
maupun wanita soleha.
.

"Ya, sudah. Kalau begitu,
kami alan datang tepat waltu
nantinya, Marwah. Semoga
persiapan pernikahan kalian
benar-benar sudah matang
supaya scara ituberjalan degan
lancar. Kami selalu mendoakan
itu," ucap Ustaz Gaffi dengan
wajah sumrigah diselingi
genggaman erat di jemari
Malaika.
Hal itu membuat Marwah
meremas jemarinya sendiri.
Dan Athallah mengetahui
tentang itu. Tak selang lama
Malaik meminta izin untuk ke
toilet diikuti Ustaz Gaffi yang
turun tangan untuk ke pantri
membuatkan mereka kopi.
"Aku ke toilet sebentar,
Marwah. Kamu tdak apa-apakan
kalau aku tnggal?" Marwah
hanua menggeleng lantas
menerbitkan senyum manisnya
saat Athallah meminta izin
untuk pergi ke toilet sebentar.
Akhirnya Athallah beranjak
keluar dari ruangan kerja
Malaika. Dia sendiri pun seolah
tidak ingin duduk sendiri di
ruangan tersebut lalu
melangkahkam kakinya menuju
ke suatu tempat.
.

"Mala! Sudah ke toilet nya?"
Malaika menoleh mendengar
panggilan dari sOsok Athallah
iru.
"Hei, Athallah. Kok keluar?
Nggak betah, ya?" Athallah
hanya menggeleng lantas
tersenyum tipis.
"Bukan nggak betah. Hanya
ingin berbicara denganmu. Aku
minta maaf atas perkataan
Marwah yang menyinggung
perasaanmu tadi." Malaika
sedikit tersentak namun wanita
itu kemudian melebarkan
senyumnya dengan sumringah.
"Kata-kata yang mana?
Biasa saja kok. Aku sudah sangat
paham tentang sifat Marwah
selama ini. Karena aku
mengenal Marwah sudah
seumuran pernikahanku
dengan Abi. Kamu jangan
khawatir, Athallah. Aku nggak
apa-apa. Yang perlu kamu
pikirkan sekarang acara u
berjalamn dengan lancar. Kamu
sudah memutuskan untuk
menikahinya dan itu artinya
pernikahan kalian bukanlah
main-main. Melibatkan banyak
orang terutama Allah. Karena
kalian bersaksi di hadapan Allah
secara langsung untk menjadi
sepasang ostri. Kalau bisa
pernikahan cukup sekali. Maka
dari itu kalian harus
benar-benar menuipakan ini
secara lahir dan batin. Karena
setelah menikah tidak ada yang
sederhana. Semua harus dijalani
dengan hati yang ikhlas dan
lapang. Bisa menerima semua
perbedaan dan kekurangan
masing-masing. Dan kalian
sudah menjadi orang yamg
berbeda. Sudah dipaksa menjadi
orang yang lebih dewasa
untukemhambil keputusan di
setiap ada hal yang harus
dinicatakan dengan kepala
dingin."
.

Bukan lagi terpana Athallah
menxengar apa yang
disampaikan oleh Malaika.
Taisiah beberapa menit itu
membuat pria tampan yang
memiliki wajah yamg sama
dengan Ustaz Gaffi itu itu
seperti terhipnotis.
Athallah yerdiam namun
menyimak dan mencerna.
Hingga pada akhornyaMalaika
meninggalkan pria tampan itu
sendiri di koridor toilet kantor
perusahaan Malaika.
"Abi. Biar alu saja yang
membuatnya. Kenapa jadi Abi
masuk ke ruang pantri?" tanya
Malaika yang sudah berniat
untuk membuatkan kopi buat
tamunya setelah dari tpilet.
Ustaz Gaffi sudah
menyangka kalau istrinya akan
ke ruang ka dari itu dia terlebih
dahulu ke ruangan tersebut.
.

"Karena Abi yahu kamu
pasti ke sino, Sayang," ucap
Ustaz Gaffi sambil memeluk
istrinya dari belakang saat
wanita itu sedang sibuk
menuangkan kopi ke dalam
beberapa gelas.
Malaika selalu merasa
beruntung karwna di mana pun
tempatnya Ustaz Gaffi selalu
memprioritaskan dirinya.
Memberikan kelembutan dan
kedekatan yang intim untuk
membuktikan bahwa laki-laki
Itu hamya menjadi miliknya
dan wajib menkadi miloknya
seorang. Tak sedikt pun berniat
mempunyai wanita apalagi istri
selain Malaika.
Hal itu ternyata membuat
sosok yang tak lain Marwah
menghentikan kakinya untuk
melangkah masuk ke ruang
pantri setelah mengetahui
sepasang suami istri itu sedang
bermesSraan di sana. Rasa kesal
bercampur aduk di dalam hati
saat menyaksikan kemesraan
dua orang itu.

🥰🙏

03/03/2026

Masih mau di lanjut kah pak ustadz??
Sampe 400lebih bab 🥰🙏

Address

Denpasar

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when podcast hiburan posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share