03/03/2026
Bab.372 Malaika dan Ustaz Gaffi
meraupkan kedua telapak
tangan mereka ke wajah setelah
pembacaan doa ijab kabuk itu
selesai.
Beberap detik kemudian
mereka sudah menjadi salksi
bahwa Marwah dan Athallah
sudah resmi menjadi suami istri.
.
"Alhamdulillah, Abi."
"Alhamdulillah, Sayang,"
ucap Ustaz Gaffi sambil
menggenggam jemari istrinya.
"Abi nggak apa-apa.
Baik-sajakan?" Ustaz Gafi
mengerutkan dahinya saat
mendengar pertanyaan Malaika
yang terdengar janggal.
"Memang kenapa, Sayang.
Abi baik-baik saja kok." Malaika
hanya tersenyum mendengar
jawaban dari suaminya.
"Syukurlah kalau begitu,"
ujar Malaika sambil
mengeratkan genggaman jemari
suaminya. Ustaz Gaffi merasa
heran dengan perkataan
istrinya.
"Kok gitu, Sayang. Memang
kenapa?" tanya Ustaz Gaffi
penasaran lalu menatap ke arah
istrinya.
"Tidak apa-apa kok, Abi.
Kirain Abi sakit gitu, melihat
Marwah menikah dengan
saudara kembar Abi sendiri."
Ustaz Gafi seketika
mengerutkan dahi saat
mendengar apa yang dikatakan
oleh Malaika. Membuat wanita
itu terkekeh.
"Kalian bahagia sekali
sepertinya sudah nggak ada
orang yang akan mengganggu
rumah tangga kalian." Ucapan
itu sekilas namun mampu
membuat Malaika dan Ustaz
Gaffi tercengang beberapa saat.
"Kenapa dia?" tanya Ustaz
Gaffi sambil menatap sosok
Noah yang sudah berjalan
meninggalkan tempat resepsi
itu. Malaika hanya menggeleng
lantas kembali fokus duduk
dengan para tamu undangan
lain.
.
Tak lama kemudian
Intanendekatinya dan
membiarkan sesuatu.
"Abi, si kembar rewel. Aku
ke sana dulsu, ya?" Ustaz
Gaffiengangguk dan melihat
anak kbar mereka sedang
bertengkar.
"Ada apa, Sayang? Kalian
berantem?" tanya Malaika
sambil duduk bersimpuh di
hadapan mereka. Melihat itu
Ustaz Gaffi pun bangkit dari
tempat duduknta mendekat ke
arah Malaika dan putera
kembarnya.
"Sayang. Jangan duduk
bersimpuh begitu. Kasihan
janin kamu di dalam perut."
Kedua anak kembar itu terkejut
saat mendengar apa yang
dikatakan oleh papanya.
.
"Kan aku juga bilang apa,
Alqa. Mama sedang ada dwdwk
bayinya di dalam perut."
"Itu artinya kasih sayang
Mama dan Papa akan terbagi.
Sekarang lihat saja, merwka
lebih sayang sama dedek b # ."
Sempat terpna memdengar
celotehan anak berusia 5 tahun
itu, Malaika hanya tersenyum
bahagia. Ternyata anak
jembarnya sudah sangat pintar
berkomunikasi.
"Nggak d**g, Sayang.
Mama akan tetap sayang sama
kalian berdua meskipun ada
dedej b # di dalam perut Mama
Setidaknya perkataan
seorang ibu mampu membuat
anaknya merasa nyaman dan
terlindungi. Berbeda dengan
Usta Gaffi yang menatap tajam
ke arah dua pitra kembarnya.
Sikapnya ini ternyata
mampu membuat Alga dan
Alqienciut. Menunduk bahkan
menyingkirkan t # merwka
ke belakang Malaika.
Malaika yang melihat sikap
suaminya sedikit kaget
karenanggak biasanya laki-laki
itu bersikap kasar pada buah
hatinya.
"Abi. Jangan terlalu keras
pada mereka. Mereka masih
kecil dan butuh bimbingan."
Ustaz Gaffi kemudian
menggantikan posisi Malaika.
Duduk bersimpuh di hadapan
kedua anak kembar itu.
"Alqa dan Algi nggak boleh
buat Mama susah, ya. Sebentar
lagi kalian mempunyai adik.
Dan berdia adek kalian
perempuan. Jadi kalian bisa
bermain bersama. Bisa menjadi
pelindung bagi adik perempuan
kalian. Kalian juga bisa belajar
bertanggung jawab pada adik
kalian kalau adik perempuan
kalian diganggu orang lain.
Yang pasti kalian akqn mulai
belajar tentang tanggung jawab.
Apa kalian mengerti?"
Baik Alqa dan Alqi saling
menatap kemudian tatapan
mereka berpindah ke arah
wajah cantik Malaika. Melihat
mama mereka mengangguk
akhirnya kedua anak itu pun
mengangguk paham.
"Intan. Jangan biarkan
mereka berantem lagi, ya. Bawa
ke po dok Abah saja." Intan
mengangguk patuh dengan
perintah Ustaz Gaffi.
Kemudian perempuan yang
masih muda Itu membawa anak
majikan mereka pergi dari
tempat itu.
"Tak seharusnya Abi
berkata keras padaerwka. Alqa
dan Alqi masih terlalu kecil
untuk mendapat pendidikan
setegas ini, Abi."
Ustaz Gaffi bangun dari
bersimpuhnya. Memegang
pundak ringkih Malaika. Lalu
mendaratkan sebuah kec #
singkat di kening wanita yang
saat ini sedang ada di
hadapannya itu.
Seperrinya kamu ini kurang
makan, Sayang. Perut kamu
masih rata. Seharusnya usia
kandungan 16 minggu sudah
mulai menonjol perutnya."
Malaika tertawa
kecilendengar ucapan suaminya.
Kehamilannya kali ini
benar-benar menyita waktu
Ustaz Gaffi. Pria tampan itu
stand bye di dalam rumah atau
pun ke mana pun Malaika pergi.
Sudah dapat dipastikan Ustaz
Gafi ada di sisi istrinya.
.
"Abi jangan khawatir. Ini
baru dua bulan. Insya Allah 2
bulan lagi perutku akan
menonjol, " ucap wanita itu
sambilengelus wajah suaminya.
Terasa wajah itu dengan
bulu-buu halusnya. Saat ini
Ustaz Gaffi memang sengaja
berpenampilan brewokan
setelah dari Mesir Kairo.
"Anak kedua kita ini pasti
istimewa, Sayang. Abi yakin itu."
Malaika mengerutkan dahi saat
mendengar perkataan suaminya.
"Maksudnya istimewa
bagaimana, Abi?" tanya Malaika
penasaran.
"Insya Allah seizing Allah.
Anak kita nanti akan
mempunyai indera ke enam
Malaika sungguh terkejut
setelahendengar apa yang
dikatakan oleh Ustaz Gaffi.
Wanita ituenatap intens ke arah
suaminya.
"Dari mana Abi mengetahui
itu?" Ustaz Gaffi hanya
tersenyum lantas menggandeng
tangan Malaika memasuki
kembali gedung resepsi.
"Dari Allah, Sayang. Karena
hanya Allah yang punya kuasa
itu."
Makjleb hati Malaika
mendengar apa yang dikatakan
oleh Ustaz Gafi. Sudah tidak
diragukan lagi bahw amemang
laki-laki muda yang sudah
berhelar ustaz muda itu
mempunyai banyak kelebihan
termasuk bisa mengetahui
sesuatu sebelum kejadian.
Bukan jngin mendahului
kodrat Allah. Namun
faktanyaang Pria tampan itu
mempunyai kelebihan itu.
Perbincangan merwka
terhenti dan pesta pernkahan
Marwah Athallah itu berjalan
lancar sampai Sore.
Setelah malam tiba
akhirnya Malaika kembali ke
rumah.
"Mala." Wanita itu menoleh
saat mendengar panggilan
untuknya.
"Noah. Kamu kok ada di
sini?" tanya Malaika saat
melihat Noah berada si teras
rumahnya.
"Karena aku tahu suamimu
tidak akan pulang
mengantarmu. Dan kamu di
antar sopir di sana."
Malaika mengerutkan dahi
saat kembali mendengar
perkataan Noah yang saat ini
sedang menyandarkan
punggungnya di tembok
rumahnya.
"Abi sedang sibuk
membantu di tempat Marwah.
Tidak enak kalau pulang begitu
saja.'
"Maka dari itu aku
memastikan kamu sampai di
rumah dalam kondisi yang
baik-baik saja. Karena kamu
sedang hamil."
Malaika tersenyum lantas
melanjutkan kakinya
melangkah. Duduk di sofa teras
rumahnya lantas melihat Intan
sudah selesai menidurkan anak
kembarnya.
"Aku baik-baik saja. Insya
Allah demikian dengan janin
yang ada di dalam kandunganku.
Kamu tidak usah khawatir,
Noah."
"Aku percaya padamu, Mala.
Akan tetapi ada hang melihat
kita malam itu." Malaika
mengernyitkan dahi.
"Maksudnya?"
"Athallah dan Marwah
mengetahui malam itu aku
bersama kamu. Dan mereka
sudah mencurigai anak di dalam
kandunganmu ini anakku."
DOERR!
🥰❤️