TAO TSM Bali

TAO TSM Bali Agama TAO yang mengAgungkan Maha Dewa Thai Shang Lao Jun (太上老君) sebagai Dewa Utama TAO , didampingi Dewa Er Lang Shen (二郎神) dan Dewi Jiu Tian Xuan Nv (九天玄女).

Yayasan TAO SEJATi
BCA 611.5888.688

Xie Shen En 🙏
Gong de Wu liang(功德无量)

He Xian Gu (何仙姑)Satu-satunya tokoh wanita di antara Delapan Dewa (Ba Xian) dalam Kedewaan Tao. Ia sering digambarkan seb...
13/06/2026

He Xian Gu (何仙姑)

Satu-satunya tokoh wanita di antara Delapan Dewa (Ba Xian) dalam Kedewaan Tao. Ia sering digambarkan sebagai sosok wanita anggun yang memegang bunga teratai, membawa keranjang bunga, atau memakai daun teratai raksasa sebagai payung.

He Xian'gu lahir pada masa Dinasti Tang di wilayah Guangdong dengan nama asli He Qiong. Sejak kecil dikenal sebagai gadis yang sangat berbakti, cerdas, dan memiliki hati yang murni.
Saat menginjak usia remaja (sekitar 14-15 tahun), ia mendapatkan sebuah mimpi spiritual. Dalam mimpi tersebut, sesosok Dewa memintanya untuk naik ke sebuah gunung untuk mencari mata air. Keesokan paginya, karena merasa mimpinya bukanlah mimpi biasa, He Xian Gu berjalan mendaki gunung yang terjal itu. Setelah perjalanan panjang nan melelahkan, beliau menemukan mata air yang dimaksud. Karena sangat haus, He Xian Gu minum air itu. Tidak disangka, setelah minum air tersebut, He Xian Gu merasa badannya begitu ringan dan sanggup berlari dengan kencang. Beliau pun menuruni gunung dengan kecepatan yang luar biasa. Sesampainya di rumah, beliau menyadari bahwa dirinya diberikan kekuatan yang luar biasa. Dirinya tidak lagi merasakan lelah serta mampu mengeluarkan tenaga yang besar.

Walaupun demikian, He Xian Gu menggunakan kekuatannya itu untuk menolong orang-orang di sekitarnya. Beliau mendaki gunung untuk mengumpulkan tanaman obat-obatan untuk orang tuanya dan rakyat yang membutuhkan. Beliau juga mengajarkan cara bercocok tanam dan cara mengumpulkan tanaman obat-obatan. Oleh karena itu, banyak orang yang mengagumi kerja keras dan dedikasi beliau.

Saat kedua orang tuanya sakit, He Xian Gu pergi mengumpulkan buah-buahan terbaik dari pelbagai tempat dan merawat mereka dengan baik. Beliau menyadari bahwa kehidupan ini hanyalah sementara sehingga perbuatan yang dilakukan sehari-hari menjadi sangat penting. Ketika kedua orang tuanya tiada, He Xian Gu melanjutkan dedikasinya kepada masyarakat dengan membantu orang-orang yang membutuhkan.

Suatu ketika, Ratu Wu Ze Tian yang mengetahui tentang kesaktian He Xian Gu, berusaha memanggil beliau ke istana untuk berbagi rahasia tentang ilmu kesaktiannya. He Xian Gu yang menyadari bahwa Wu Ze Tian hanya berambisi untuk hidup abadi dan kekal, mengabaikan permintaan sang ratu dan pergi meninggalkan Guangzhou dan menghilang. Banyak orang yang percaya bahwa beliau telah menjadi dewi dan terbang ke kahyangan.

Simbolisme Bunga Teratai
Dalam mitologi, He Xian'gu hampir selalu membawa **bunga atau daun teratai**. Teratai ini bukan sekadar hiasan, melainkan simbol dari:

Kesucian diri:
Teratai tumbuh di dalam lumpur namun mekar dengan sangat bersih dan indah, melambangkan jiwa He Xian'gu yang tetap murni di tengah dunia fana.

Kesehatan tubuh dan mental:
Teratai tersebut dipercaya memiliki kekuatan untuk menyembuhkan penyakit dan memulihkan energi kehidupan.

Melalui kisah hidupnya, He Xian'gu dipuja oleh banyak orang (khususnya kaum wanita) sebagai simbol kesucian, keberbakian kepada orang tua, keanggunan, serta pelindung bagi kesehatan fisik dan mental.

#何仙姑

Lan Caihe 蓝采和 Lan Caihe adalah salah satu Dewa dari Delapan Dewa Abadi ajaran Tao, hidup mengembara sejak zaman Dinasti ...
11/06/2026

Lan Caihe 蓝采和

Lan Caihe adalah salah satu Dewa dari Delapan Dewa Abadi ajaran Tao, hidup mengembara sejak zaman Dinasti Tang. Berpenampilan sederhana: baju biru lusuh, satu kaki bersepatu satu lagi telanjang, membawa keranjang bunga dan alat musik kayu . Ia bernyanyi syair yang terdengar sederhana namun sarat makna tentang keterikatan manusia pada Nama, Harta, Kedudukan, dan keabadian jiwa. Banyak orang mengira dia pengemis atau gila, padahal hatinya sudah bebas dari ikatan dunia. Suatu hari di kedai minuman, awan surgawi turun menjemputnya; Beliau naik ke langit, hanya keranjang dan alas kakinya yang tertinggal di bumi.

☯️ Sisi Kedewaan Lan Caihe蓝采和

1. Bebas dari batasan dunia — Melampaui aturan sosial, usia, jenis kelamin, dan keinginan materi; melambangkan kebebasan batin
2. Kebijaksanaan tersembunyi — Nasihat lewat nyanyian mengajarkan hidup sederhana dan melihat hakikat kehidupan
3. Simbol kedamaian & kelimpahan — Keranjang bunganya membawa berkah, kesuburan, kebahagiaan.
4. Keseimbangan & harmoni — Menggabungkan seni, alam, dan rohani; mewakili “keselarasan” dalam nama dan perbuatannya
5. Jalan pencerahan yang sederhana — Tidak lewat kekuasaan, tapi lewat ketulusan, kerendahan hati, dan kasih sayang

Lan Caihe, Dewa Pengembara pembawa keranjang bunga. Ia melambangkan kebebasan, kesederhanaan,kebijaksanaan, dan kebahagiaan sejati yang tak terikat pada Nama, Harta atau Kedudukan.

#蓝采和

09/06/2026

Ge Hong (葛洪)

Ge Hong (葛洪) hidup pada masa Dinasti Jin (283–343 M), adalah salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah Taoisme, alkimia, dan pengobatan tradisional Tiongkok.
Berikut adalah ringkasan mengenai kontribusi dan warisan penting dari beliau:

1. Alkemis dan Filsuf Taoisme
Ge Hong dikenal sebagai tokoh utama dalam aliran Taoisme Alkimia Rohaniah dan Lahiriah (*Neidan* dan *Waidan*). Berbeda dengan beberapa pemikir Taois pendahulunya yang lebih fokus pada aspek filosofis murni, Ge Hong sangat percaya bahwa keabadian spiritual dan fisik dapat dicapai manusia melalui meditasi, teknik pernapasan, moralitas yang baik, serta ramuan alkimia (eliksir).

2. Penulis Kitab *Baopuzi* (抱朴子)
Karya terbesarnya yang paling fenomenal adalah Baopuzi (Master yang Memeluk Kesederhanaan). Kitab ini dibagi menjadi dua bagian:
☯️Neipian (Bagian Dalam): Membahas tentang teknik-teknik Taoisme, ritual, cara menghindari penyakit, dan formula alkimia untuk mencapai keabadian.
☯️Waipian (Bagian Luar): Berisi pandangan politik dan sosialnya, di mana ia mencoba menjembatani nilai-nilai etika Konghucu (Konfusianisme) dengan praktik spiritual Taoisme.

3. Pionir Pengobatan Tradisional Tiongkok (TCM)
Selain seorang spiritualis, Ge Hong adalah seorang tabib dan ilmuwan praktis yang sangat hebat pada zamannya. Dalam kitab medisnya, Zhouhou Beijifang (Panduan Pertolongan Pertama Darurat), ia mencatat berbagai resep obat herbal untuk masyarakat umum yang murah dan mudah didapat.

Ge Hong adalah Penemu Obat Malaria: Berabad-abad kemudian, catatan Ge Hong tentang penggunaan tanaman *Artemisia annua* (Qinghao) untuk meredakan demam menjadi inspirasi utama bagi ilmuwan Tu Youyou untuk mengisolasi zat "artemisin", yang akhirnya membuahkan Penghargaan Nobel Kedokteran pada tahun 2015.

4. Representasi Visual
Dalam berbagai peninggalan sejarah dan seni—mulai dari patung perunggu kuno hingga lukisan tradisional—Ge Hong sering kali digambarkan sebagai seorang cendekiawan atau pertapa tua berjanggut yang sedang memegang kuas, membaca gulungan kitab suci, atau berada di dekat tungku alkimia tempatnya meracik obat-obatan herbal.

#葛洪

  ( #韓湘子) Han Xiang Zi adalah salah satu dari Delapan Dewa Abadi dalam legenda Taoisme Tiongkok. Ia dikenal sebagai pemi...
08/06/2026

( #韓湘子)

Han Xiang Zi adalah salah satu dari Delapan Dewa Abadi dalam legenda Taoisme Tiongkok. Ia dikenal sebagai pemimpin musik surgawi dan simbol kebebasan serta bakat seni.

Han Xiang Zi adalah keponakan dari Han Yu, seorang pejabat besar dan penulis terkenal di zaman dinasti Tang. Sejak muda, ia tidak s**a kekayaan, jabatan, atau urusan duniawi. Ia lebih s**a mengembara, bermain seruling, dan mempelajari jalan keabadian. Pamannya sering menasihatinya agar belajar dan menjadi pejabat, tapi Han Xiang Zi tetap menolak.

Suatu hari saat pesta keluarga, Han Xiang Zi menunjukkan keajaibannya. Ia menanam bunga di depan tamu, dan dalam sekejap bunga itu mekar indah dengan tulisan emas di kelopaknya:

"Awan tebal menutup pegunungan Qin, di mana kuda akan berhenti saat salju menutup jalan."

Ia berkata kalimat ini akan menjadi nasib pamannya kelak. Tak lama kemudian, Han Yu benar-benar diasingkan ke tempat jauh karena menentang Kaisar. Di tengah perjalanan yang sulit dan bersalju, Han Xiang Zi muncul tiba-tiba, menyambut pamannya dan membantunya melewati kesulitan itu. Han Yu pun akhirnya sadar akan kehebatan jalan Tao.

Setelah bertahun-tahun berlatih dan menempuh jalan Xiu Dao, Han Xiang Zi akhirnya mencapai keabadian dan diangkat menjadi Dewa. Ia selalu digambarkan membawa seruling ajaib, nadanya bisa menenangkan jiwa, menumbuhkan keindahan, dan mengusir kejahatan.

pesan yang disampaikan Han Xiang Zi adalah
Kekayaan dan kekuasaan tidak abadi, tapi "bakat", ketulusan hati, dan kesederhanaan adalah jalan menuju kebahagiaan sejati.

Bakat
Apa maksudnya: “Bakat adalah jalan menuju kebahagiaan sejati”?

Dalam cerita Han Xiang Zi, kata bakat di sini bukan sekadar kemampuan pintar atau hebat, tapi maknanya lebih dalam:

✅ 1. Bakat = Jati diri & Takdir Kamu
Han Xiang Zi punya bakat alami di musik dan seni, dan hatinya memang tertuju pada jalan Tao (kebenaran). Ia tidak memaksakan diri menjadi pejabat kaya seperti yang dipaksa pamannya.
👉 Menjalani apa yang sesuai dengan bakat dan hati nurani = Hidup terasa ringan, tenang, dan bahagia.

✅ 2. Bakat adalah bawaan alam diri dari lahir.
Saat kita menggunakannya dengan tulus dan baik (seperti Han Xiang Zi yang memakai serulingnya untuk menenangkan makhluk hidup dan menyebarkan kedamaian), maka kita sejalan dengan alam semesta.
👉 Di situlah letak kebahagiaan yang tidak bisa dibeli dengan uang atau jabatan.

✅ 3. Berbeda dengan Kebahagiaan Duniawi
Kekayaan, pangkat, harta itu sementara dan bisa hilang. Tapi bakat dan kebaikan yang kita hasilkan dari bakat itu akan tetap ada, membawa kepuasan batin yang abadi.

Jadi intinya:

"Jangan memaksakan diri mengejar apa yang tidak cocok dengan hatimu. Temukan bakatmu, jalani dengan tulus, maka di sanalah kamu akan menemukan kedamaian dan kebahagiaan yang sesungguhnya." 💛

Kuil Han Xiangzi (Xiangzi Temple) terletak di kota Xi'an, Provinsi Shaanxi, Tiongkok.
Kuil ini didedikasikan untuk Han Xiangzi, salah satu dari Delapan Dewa Abadi dalam Taoisme, dan dikenal sebagai kuil Tao

#韓湘子

Zhang Guo Lao 張果老  diperkirakan hidup pada masa dinasti Tang di abad ke 6 atau 7 Masehi. Beliau terlahir di keluarga kal...
08/06/2026

Zhang Guo Lao 張果老

diperkirakan hidup pada masa dinasti Tang di abad ke 6 atau 7 Masehi. Beliau terlahir di keluarga kalangan rakyat jelata. Demi bertahan hidup, Zhang Guo Lao muda bercocok tanam di ladang dan menjual hasil tanamannya ke pasar dengan menunggangi keledai putih. Sepulangnya dari pasar, beliau beristirahat sejenak di sebuah kelenteng. Karena terlalu lelah, beliau pun tertidur. Tak lama, aroma makanan yang lezat mengusik tidurnya dan akhirnya Zhang Guo Lao pun terbangun. Karena belum makan sejak pagi, beliau pun berkeliling mencari asal aroma makanan tersebut.

Ternyata, di ruangan sebelah, terdapat sejumlah makanan lezat yang tak terkira jumlahnya. Merasa bahwa ini adalah hadiah dari langit, Zhang Guo Lao pun mulai menyantap makanan itu dengan girang. Tak lupa, beliau membagikan makanan tersebut untuk keledainya. Setelah selesai, beliau pulang ke rumah, tanpa menyadari bahwa makanan yang dimakannya merupakan sajian yang dibuat oleh seorang pertapa Tao untuk mencapai kesempurnaan.

Zhang Guo Lao pun meneruskan hidupnya hingga ratusan tahun. Beliau terkenal bijaksana dan s**a menolong rakyat jelata. Dengan menunggangi keledainya, beliau berkeliling negeri untuk membantu warga yang kesulitan. Karena kebesaran hati dan kebijaksanaannya, Kaisar dinasti Tang mengutus seseorang untuk mengajak Zhang Guo Lao ke istana. Sesampainya sang utusan di rumah Zhang Guo Lao, sang utusan mendapati bahwa Zhang Guo Lao telah meninggal. Oleh karena itu, ia pulang ke istana dengan tangan hampa.

Namun, Zhang Guo Lao ternyata tidak meninggal. Beliau kembali meneruskan perjalanannya dan membantu rakyat yang membutuhkan. Mendengar hal ini, sang Kaisar merasa dibodohi dan memanggil Fei Wu, seorang pertapa Tao, untuk meyakinkan Zhang Guo Lao agar mau datang ke istana. Sesampainya Fei Wu di kediaman Zhang Guo Lao, ia menyampaikan niatnya untuk mengajak Zhang Guo Lao pergi ke istana. Detik itu juga, Zhang Guo Lao seperti kehilangan napasnya dan meninggal. Merasa amat bersalah, Fei Wu menangisi kepergian rekannya itu dan meminta maaf atas kelancangannya. Zhang Guo Lao pun kembali bernapas dan mengampuni Fei Wu. Beliau pun setuju untuk pergi ke istana dengan syarat bahwa beliau tidak akan dipaksa untuk menerima jabatan dalam pemerintahan.

Sesampainya di istana, Zhang Guo Lao dipersilahkan istirahat di ruang tamu agung. Sementara itu, Kaisar memanggil seorang pertapa Tao lain bernama Fa Shan.

“Apakah kamu mengetahui apa rahasia dari hidup abadi Zhang Guo Lao?”

“Tentu saja Yang Mulia. Hamba mengetahuinya.”

“Apakah itu?”

“Hamba tidak bisa mengatakannya Yang Mulia. Karena ini adalah rahasia langit. Jika saya membongkar rahasia ini maka hamba akan mati”

“Begitukah?”

“Ya, Yang Mulia. Kecuali Yang Mulia berjanji untuk melepaskan mahkota dan jubah kebesaran Yang Mulia dan bergegas memohon ampun kepada Zhang Guo Lao apabila hamba meninggal.”

“Baiklah, saya menyanggupinya.”

“Rahasia dari hidup abadi seorang tua Zhang adalah menembus inti dari ….”

Sebelum bisa menyelesaikan kalimatnya, darah mengucur dari telinga, mata, hidung dan telinga Fa Shan. Ia pun terjatuh mati. Kaisar yang amat ketakutan bergegas melepaskan jubah dan mahkotanya dan dengan tanpa alas kaki berlari menuju ruang tamu agung tempat Zhang Guo Lao beristirahat.

Sang Kaisar berlutut memohon ampun di depan Zhang Guo Lao dan mengatakan bahwa ini semua adalah salahnya. Zhang Guo Lao dengan tenang menjawab: “Anak muda itu terlalu banyak bicara. Hamba khawatir jika hamba mengampuninya, maka ia akan kembali membongkar rahasia langit!” Sang Kaisar kembali memohon pengampunan di hadapan Zhang Guo Lao. Akhirnya, Zhang Guo Lao menyeduh sepoci teh, meminumnya sedikit dan menyemburkan sisanya ke muka Fa Shan. Seketika itu juga, Fa Shan pun kembali bernapas.

Kaisar yang menyadari kesaktian dan kebesaran hati Zhang Guo Lao, memutuskan untuk tidak lagi mengganggu beliau dan membungkuk tiga kali saat Zhang Guo Lao pergi meninggalkan istana. Konon, beliau terbang menunggangi keledainya ke langit dan sejak itu, Zhang Guo Lao tidak pernah terlihat lagi.

Meskipun ia adalah sosok historis dan legendaris dari Dinasti Tang, penghormatannya umumnya menyatu dalam perayaan Delapan Dewa secara keseluruhan atau penghormatan terhadap pendeta Tao, bukan hari ulang tahun khusus yang dirayakan secara luas.

#張果老

Lǐ Tiě Guǎi 李鐵拐Lǐ Tiě Guǎi adalah salah satu Dewa dari Delapan Dewa (Ba Xian) yang adalah murid dari Maha Dewa Thay Shan...
05/06/2026

Lǐ Tiě Guǎi 李鐵拐

Lǐ Tiě Guǎi adalah salah satu Dewa dari Delapan Dewa (Ba Xian) yang adalah murid dari Maha Dewa Thay Shang Lao Jun. Dikenal sebagai "Li si Tongkat Besi", Beliau digambarkan sebagai pengemis pincang yang sakti, membawa tongkat, dan memegang labu ajaib berisi obat penyembuh.

Sebelum menjadi Dewa, Lǐ Tiě Guǎi dikenal sebagai pertapa yang gagah dan tampan. Suatu hari, saat bermeditasi (Jing zuo), Sukmanya pergi menuju kayangan menemui Maha Dewa Thay Shang Lao Jun di istana mulia Dao Sway Gong, Keesokan harinya, sang murid menerima kabar bahwa ibunya sedang sakit keras. Karena sudah diperintahkan untuk menjaga tubuh sang guru selama 7 hari 7 malam, sang murid pun tak bergeming. Namun, pada hari keenam, ia mendapat kabar bahwa ibunya sekarat dan waktunya sudah tidak lama lagi. Merasa gundah gulana, ia pun memutuskan untuk mengkremasi tubuh gurunya, menganggap bahwa gurunya pasti sudah naik ke kayangan. Ia pun bergegas pulang ke kampung halamannya.

Pada hari ke-7, Lǐ Tiě Guǎi pun kembali mencari tubuhnya, tetapi hanya menemukan seonggok abu di dalam gua. Karena harus bergegas, beliau mencari tubuh yang bisa untuk digunakan. Tak jauh dari goa, ada jasad seorang pengemis tua, dengan rambut berantakan dan kaki yang pincang. Maka, Lǐ Tiě Guǎi pun masuk ke dalam tubuh sang pengemis.

Beliau awalnya merasa tidak puas dan memutuskan untuk mencari tubuh lain yang lebih baik untuk digunakan. Namun, Maha Dewa Thay Shang Lao Jun menasihati beliau agar tetap menggunakan tubuh sang pengemis dan mengisyaratkan bahwa mungkin ini adalah satu-satunya cara agar beliau bisa mendapatkan kesempurnaan. Mendengar hal itu, Lǐ Tiě Guǎi menyadari bahwa tubuh fisiknya tidaklah berarti dalam proses kehidupan. Semua orang pasti akan tua dan badan fisik seseorang pasti akan memburuk. Karena melihat bahwa muridnya sudah mendapatkan pencerahan, Maha Dewa Thay Shang Lao Jun memberikan Li Tie Guai sebuah tongkat besi dan botol labu yang berisi ramuan ajaib.

Maha Dewa Thay Shang Lao Jun menganjurkan Lǐ Tiě Guǎi untuk terus membantu banyak orang dengan menggunakan tubuhnya yang sekarang. Beliau pun berangkat menemui muridnya. Di sana, sang murid sedang berduka karena ibunya baru saja meninggal dunia. Dengan menggunakan ramuan ajaib dari botol labunya, Lǐ Tiě Guǎi membangkitkan kembali ibu sang murid. Tanpa berkata-kata panjang lebar, beliau melanjutkan perjalanannya.

Setelah kejadian tersebut, Lǐ Tiě Guǎi banyak menolong nelayan, petani dan rakyat yang sedang kesulitan. Karena banyak menolong orang, maka beliau bisa mencapai kesempurnaan dan menjadi Dewa yang dipuja-puja masyarakat luas.

Hari kebesaran atau hari peringatan Lǐ Tiě Guǎi (salah satu dari Delapan Dewa/Ba xian) diperingati setiap tahun pada tanggal 15 bulan ke-3 dalam kalender Imlek.

#李鐵拐

Hari kebesaran Beliau dirayakan padaMinggu, 7 Juni 2026bulan empat tanggal dua puluh dua penanggalan Imlek (农历: 四月二十二日)....
03/06/2026

Hari kebesaran Beliau dirayakan pada
Minggu, 7 Juni 2026
bulan empat tanggal dua puluh dua penanggalan Imlek (农历: 四月二十二日).

Wén Cái Shén (文财神)

Pada zaman Dinasti Běi Wèi (北魏), pada masa pemerintahan Kaisar Xiào Wén (孝文帝), antara tahun 471 – 499 Masehi, ada seorang pejabat negara bernama Lǐ Guǐ Zǔ (李诡祖). Selama menjalankan tugasnya, beliau sangat memperhatikan kesejahteraan masyarakat yang dipimpinnya. Misalnya, melakukan pengerukan sungai agar aliran air lancar sehingga tidak menimbulkan banjir dan penyakit, menyediakan air bersih, menyisihkan sebagian gajinya untuk membantu orang-orang yang kekurangan, serta menjalani kehidupan yang sederhana. Hal ini menyebabkan beliau sangat dicintai oleh rakyatnya. Berdasarkan catatan yang menuliskan kebaikan-kebaikannya, kaisar-kaisar dari dinasti berikutnya menganugerahkan berbagai gelar kedewaan kepadanya.

Kaisar Dinasti Tang menganugerahkan gelar Cái Bó Xīng Jūn (财帛星君).
Kaisar Dinasti Yuan menganugerahkan gelar Fú Shàn Píng Shī Gōng (福善平施公).
Secara umum, Wén Cái Shén (文财神) ditampilkan dalam wujud seorang pejabat dengan wajah penuh senyum sedang menggenggam yuán bǎo (元宝) atau koin emas dan rúyì (如意). Hari kebesaran Beliau dirayakan pada bulan empat tanggal dua puluh dua penanggalan Imlek (农历: 四月二十二日).

Zhongli Quan 鐘離權 merupakan salah seorang dari legenda Delapan Dewa yang terkenal. Beliau digambarkan selalu memegang seb...
02/06/2026

Zhongli Quan 鐘離權 merupakan salah seorang dari legenda Delapan Dewa yang terkenal. Beliau digambarkan selalu memegang sebuah kipas besar atau sebuah persik. Dari ke-delapan Dewa, Zhongli Quan merupakan Dewa yang paling senior karena beliau dilahirkan pada dinasti Han (206 SM – 220 M).

Sejak lahir, Zhongli Quan seperti sudah ditakdirkan untuk menjadi orang yang mulia. Beliau sudah mampu berbicara saat berusia 7 hari. Beliau mampu menceritakan pada kedua orangtuanya tentang kehidupan di istana khayangan. Saat beranjak dewasa, karena kepintarannya, Zhongli Quan berhasil masuk ke dalam istana dan diangkat menjadi pejabat oleh Kaisar.

Alkisah, Zhongli Quan diperintahkan untuk membawa lima ribu prajurit untuk melawan pas**an musuh di daerah perbatasan. Namun, pas**an Zhongli Quan kalah telak dan beliau harus melarikan diri dari medan peperangan. Setelah berhari-hari berjalan tak kenal arah, beliau mendapati dirinya tersesat di sebuah lembah gunung bersalju. Merasa bahwa ajalnya sudah dekat, Zhongli Quan duduk bersandarkan salju dan memejamkan mata.

Tak lama kemudian, seorang kakek tua yang membawa sebuah tongkat berjalan melewati lembah tersebut. Sang kakek pun memberitahu Zhongli Quan bahwa ada sebuah rumah di ujung lembah itu. Zhongli Quan pun berjalan ke arah yang ditunjukkan si kakek tua. Sesampainya di sebuah rumah yang reyot, beliau dengan serta-merta disambut oleh si kakek tua yang membawa tongkat itu. Merasa bahwa sang kakek tua bukanlah manusia biasa, Zhongli Quan berlutut dan meminta untuk diajarkan ajaran kebenaran (TAO), sang kakek pun mengangguk senang. Zhongli Quan pun diajarkan ilmu alkimia dan filsafat ajaran Tao. Sembari memulihkan fisiknya, Zhongli Quan membantu sang kakek memperbaiki rumah reyot tersebut.

Setelah tiga minggu berlalu, sang kakek memerintahkan agar Zhongli Quan menggunakan ilmunya untuk menolong orang banyak. Sesaat setelah Zhongli Quan berjalan pergi meninggalkan rumah sang kakek, beliau menyadari bahwa beliau belum sempat berterima kasih atas didikan sang kakek. Namun, saat Zhongli Quan membalikkan badannya, rumah tersebut sudah tidak ada.

Semenjak kejadian itu, Zhongli Quan mengabdikan dirinya untuk menolong rakyat miskin dan hidup untuk terus memperbaiki diri untuk mencapai kesempurnaan. Di suatu waktu, Zhongli Quan menggunakan ilmu alkimia untuk menciptakan batangan perak yang dibagikan kepada rakyat miskin yang kelaparan. Beliau juga mengajar rakyat kecil untuk bercocok tanam dengan menggunakan batangan perak itu sebagai modal.

Konon, dengan menggunakan ilmu alkimia-nya, Zhongli Quan berhasil menemukan cara untuk mencapai kedewaan. Setelah mencapai kedewaan, Zhongli Quan terus menolong banyak orang. Salah satu kisah yang paling terkenal adalah kisah bagaimana Zhongli Quan membantu Lu D**gbin, salah satu dari delapan dewa, untuk mencapai kesempurnaan.

Hari Kemuliaan Nya diperingati setiap tanggal 15-4 Imlek

#八仙 #鐘離權

Lü D**gbin呂洞賓Lu D**g Bin adalah salah seorang delapan dewa Ba Xian (八仙) yang paling terkenal. Lu D**g Bin diperkirakan h...
02/06/2026

Lü D**gbin
呂洞賓
Lu D**g Bin adalah salah seorang delapan dewa Ba Xian (八仙) yang paling terkenal. Lu D**g Bin diperkirakan hidup pada akhir dinasti Tang (618-906) dan lahir di keluarga yang sederhana. Sejak kecil, Lu D**g Bin sudah menunjukkan bakat kepintaran dan kepandaian yang jauh melebihi anak-anak sebayanya. Menginjak usia remaja, beliau memutuskan untuk mengikuti jejak sang ayah untuk menjadi pejabat negara.

Pada masa itu, untuk menjadi seorang pejabat, setiap orang diharuskan mengikuti ujian negara. Sayangnya, Lu D**g Bin tidak berhasil lolos ujian di tahun pertama. Pantang menyerah, beliau mencoba belajar dan bekerja lebih keras, siang dan malam. Namun, di tahun berikutnya, beliau kembali gagal. Dalam perjalanan pulang, beliau mulai meragukan jalan hidupnya untuk menjadi seorang pejabat. Di dalam keraguannya, beliau singgah di sebuah penginapan dan bertemu dengan seorang pria tambun yang sedang memasak bubur. Sang pria kemudian menawarkan Lu D**g Bin untuk duduk dan makan semangkuk bubur yang sedang dimasaknya. Lu D**g Bin pun duduk di sebelah pria tambun itu dan seketika merasa lelah dan mengantuk. Tak lama, beliau pun tertidur lelap.

Setelah terbangun, langit sudah gelap dan sang pria sudah tidak ada. Lu D**g Bin pun memutuskan untuk pulang ke rumah. Setahun setelah kejadian itu, Lu D**g Bin kembali mengikuti ujian negara. Kali ini, beliau berhasil lulus dengan hasil yang gemilang dan diangkat menjadi pejabat tinggi negara. Karena kepiawaiannya dalam mengatur administrasi negara, beliau dengan cepat dipromosikan menjadi wakil menteri. Kemudian, beliau menikah dan memiliki dua orang anak, laki-laki dan perempuan. Karena kesuksesannya, ada seorang rekan kerja yang iri dan menuduh Lu D**g Bin melakukan korupsi.

Lu D**g Bin pun dicopot dari jabatannya dan dipindahkan ke desa terpencil. Istrinya kemudian meninggalkan dirinya serta membawa kedua anaknya pergi. Lu D**g Bin yang jatuh miskin hanya bisa hidup di pinggiran jalan dan meringkuk kedinginan di musim dingin. Merasa ajalnya telah tiba, Lu D**g Bin pun menutup matanya dan berserah diri. Saat itu juga, beliau terbangun karena ada sinar terang yang menyinari dirinya. Beliau pun terbangun di sebuah penginapan dan sedang duduk di depan seorang pria tambun yang sedang memasak bubur.

Sang pria pun berkata: “Engkau telah menjalani seluruh hidup dalam waktu yang lebih singkat daripada waktu yang saya butuhkan untuk memasak semangkuk bubur.” Lu D**g Bin yang kaget berusaha mencerna perkataan pria tersebut dan menyadari bahwa apa yang dialaminya adalah sebuah mimpi gambaran kehidupannya. Merasa bahwa pria di depannya adalah seorang yang suci, Lu D**g Bin pun menanyakan apa yang terjadi. Sang pria kemudian memperkenalkan diri dengan nama Zhongli Quan (salah seorang dari delapan dewa). Lu D**g Bin pun bertekad untuk mengikuti jejak Zhongli Quan dengan mempelajari ajaran Tao dan mencari jalan menuju kesempurnaan. Namun, Zhongli Quan menolak Lu D**g Bin sebagai muridnya dan menyuruh Lu D**g Bin untuk melakukan 3000 kebajikan terlebih dahulu.

Lu D**g Bin pun hidup sebagai seorang pengembara dan selalu membantu orang yang kesusahan. Di berbagai kesempatan, Zhongli Quan berulang kali menguji kebijaksanaan Lu D**g Bin dalam menjalani kehidupan, mulai dari ditipu seorang pedagang hingga kehilangan keluarga yang dicintai. Dianggap telah lolos dari ujian-ujian yang diberikan, Zhongli Quan menampakkan dirinya dan mengangkat Lu D**g Bin sebagai murid. Zhongli Quan kemudian mengajarkan filsafat ajaran Tao dan ilmu kedewaan, sehingga tak lama kemudian Lu D**g Bin bisa mencapai kesempurnaan dan menjadi dewa.

Hari Kemuliaan Nya diperingati setiap tanggal 14-4 Imlik.

**gBin #八仙

人生要记住“树高千尺不忘根 滴水之恩洞泉报”
01/06/2026

人生要记住“树高千尺不忘根 滴水之恩洞泉报”

Address

Denpasar

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when TAO TSM Bali posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share