24/01/2015
Berkesempatan berpartisipasi dalam Tokyo Project Gathering pada Tokyo International Film Festival tahun 2006 dan Asian Project Market pada Busan Film Festival 2013, kenangan-nya masih terus membayangi saya.
Film, dilihat sebagai komoditi, ditempatkan sebagai ruang ekspresi paling tinggi, diperlakukan sebagai satu-satunya media paling efisien untuk berkomunikasi.
Meja-meja dengan snack seadanya karena jadwal pitching memungkinkan kita untuk tidak sempat keluar dan makan cantik. Peserta pitching, calon investor, businessman, art collector, atau sekedar seseorang yang cinta seni, semua menyapa hangat satu sama lain. Semua bicara sama, -dari manapun asalnya-, karya.
Tema setiap tahun berubah, namun tidak pernah jauh dari nilai kemanusiaan, dan semua batasan-batasan yang sudah lama manusia lewati. Juga tidak pernah lari dari kenyataan, dari mana pun sutradara memasang POV-nya.
Dari cerita anak perempuan yang kehilangan ibunya di halte bis, sampai cerita tentang Babi buta yang ingin terbang, semua unik, semua indah, semua penting untuk dibuat.
5 menit pitching di depan calon investor dan businessman, pertanyaan soal BEP dan worldwide production value, semua harus dijawab dengan baik oleh Sutradara, dan Produser, terutama.
Tiket? Tidak sekalipun saya dengar siapa bicara soal penjualan tiket bioskop.
Saya bercita-cita, Insya Allah, kita nanti punya forum yang sama. Dimana semua punya kesempatan yang sama. Dan yang terpilih selalu adalah yang memang layak terpilih.
Pesta Sinema Indonesia.
Insya Allah, suatu saat nanti ^_^