21/03/2013
Keruntuhan Teori Evolusi Sebagai Tema Pemersatu Biologi
Oleh : Ayyum Made
Siapapun yang menelusuri alam raya ini, akan menemukan sekitar 250 milyar galaksi yang terdiri atas 300 milyar bintang didalamnya. Keteraturan dan kesempurnaan jagad raya, didesain dengan teramat detil. Bumi yang menempati tempat yang begitu kecil di alam raya ini, memiliki sistem yang sangat seimbang dan rumit. Kondisi atmosfir, permukaan bumi, ciri orbit dan kelayakan suhu serta keberadaan air menunjukkan bahwa bumi adalah ‘suatu rumah’ yang memang diperuntukkan untuk kehidupan. Banyak mahluk hidup yang hidup di dalamnya memiliki desain yang diperuntukkan untuk peran mereka masing-masing dan dimainkan dengan sangat sempurna, menciptakan keselarasan yang sempurna p**a terkecuali jika adanya campur tangan manusia. Dengan kesempurnaan penciptaan ini, sudah pasti keseluruhannya memiliki Pencipta, Dialah Allah, dengan Sifat-Sifat KesempurnaanNya yang telah memperkenalkan dirinya dari suatu ketiadaan.
***
Teori evolusi muncul untuk menolak fakta penciptaan. Teori ini uncul pada abad 19 dengan tema dari teori tersebut bahwa kehidupan muncul dari suatu ketiadaan secara kebetulan. Pencetus teori evolusi adalah seorang ilmuwan pemula ilmu alam, Charles Darwin. Teorinya tersebut dipaparkan di dalam bukunya, The Origin of Species yang terbit tahun 1859. Buku tersebut laris dalam waktu singkat, bukan karena fakta ilmiah, tapi karena pengaruh ideologis yang dikandung buku tersebut.
Buku tersebut mendukung suatu pemikiran (filsafat) yang disebut materialisme yang mana teori tersebut menolak keberadaan Tuhan. Penggagas filsafat materialisme dialegtika Karl Marx memberikan bukunya yang berjudul Das Kapitalis kepada Charles Darwin. Dalam bukunya tersebut tertulis, “Kepada Charles Darwin, dari seorang pengagum setia”.
Menurut teori Darwin, makhluk hidup-makhluk hidup yang beraneka ragam jumlahnya berasal dari moyang yang sama akibat dari perubahan yang tersusun sediki demi sedikit dalam waktu lama. Pada bab yang berjudul Difficulties on Theory, Ia sendiri memaparkan bahwa teorinya bisa saja gugur begitu saja jika fakta penting di alam yang tak dapat dijelaskan. Ia mengharapkan kebuntuan ini dapat dipecahkan dengan pembuktian ilmiah dengan peralatan yang sangat baik pada masa mendatang. Nyatanya, sains yang diketahui pada zaman sekarang malah menggugurkan ajaran-ajaran Darwin satu persatu!
Ajaran-ajaran Darwin yang menyatakan kehidupan bermula dari suatu nenek moyang yang sama memiliki suatu pertanyaan sekaligus pukulan mematikan atas ajarannya ini, Bagaimana mahluk hidup yang pertama muncul? Pertanyaan ini sama sekali belum diulas dalam bukunya. Suatu kewajaran memang, dimana pada zamannya, Darwin menganggap kehidupan yang begitu sempurna dianggap suatu yang sangat sederhana. Misalnya saja, katak berasal dari lumpur, serangga berasal dari sisa makanan dsb. Anggapan ini dimuat dalam suatu pemikiran yang dianggap ilmiah ‘generatio spontanea’ dengan percobaan klasiknya dimana suatu kantung jerami yang ditinggalkan di meja akan memunculkan seekor tikus didalamnya. Percobaan berikutnya adalah sekerat daging yang ditinggalkan berhari-hari meninggalkan belatung didalamnya. Namun setelah itu dapat diketahui bahwa lalatlah yang membawa telur yang berukuran sangat kecil yang menetas sebagai belatung. Anggapan tentang mikroba berasal dari materi yang tak hidup pada zaman Darwin sangatlah umum, hingga akhirnya seorang Ilmuwan Prancis menggugurkan teori tersebut dengan percobaan terkenalnya yang menggunakan ‘tabung leher angsa’. Beliau adalah Louis Pasteur. Pada akhir percobaannya Beliau menyimpulkan: “Dapatkah materi mengorganisasikan diri mereka sendiri? TIDAK! Sekarang ini, tidak ada keadaan yang mana menegaskan bahwa makhluk hidup kecil (mikroskopis) dapat ada dimuka bumi tanpa adanya induk yang menyerupainya.”
Sekitar tahun 1930-an, seorang pendukung teori evolusi dari Rusia, Alexander Oparin berusaha menjelaskan bagaimana terbentuknya sel dan malah berakhir pada kesimp**an : “Sayangnya, asal-muasal sel bertahan sebagai suatu pertanyaan yang sangat buram dikeseluruhan bagian dari tori evolusi.” Disusul kemudian oleh Ahli Kimia Amerika, Stanley Miller pada tahun 1953 melalui percobaannya berhasil menemukan senyawa-senyawa organik dari reaksi gas-gas yang Ia yakini berhasil dari atmosfir bumi purba. Dengan itu, bukti ilmiah ini mendukung teori evolusi. Namun dikemudian hari, ternyata gas-gas yang direaksikan tersebut sangat berbeda dengan kondisi gas-gas pada atmosfir bumi purba. Ia sendiri telah mengakui ketidakabsahan eksperimennya tersebut. Upaya-upaya para pendukung ajaran evolusi untuk membuktikan ajarannya tersebut pada abad 21 telah berakhir dengan kegagalan. Jeffrey Bada, seorang ahli biokimia sekaligus pendukung evolusi dalam majalah Earth edisi Februari 1998 yang termasuk p**a didalamnya literatur evolusionis terkemuka. Ia menyatakan dalam majalahnya, “Today as we leave 20th century, we still face the biggest unsolved problem that we had when we entered 20th century: How did life originate on earth?” (Sekarang setelah kita meninggalkan abad 20, kita masih menghadapi masalah yang belum terselesaikan yang kita punya ketika memasuki abad 20: Bagaimana asal-muasal kehidupan bermula?).
Penghalang terbesar teori evolusi adalah struktur sel yang sangat rumit, dimana teori evolusi sulit untuk menjelaskan dari mana asal-muasal mereka bermula. Hewan bersel satupun bahkan sudah dilengkapi dengan alat pembuangan, alat gerak berupa bulu dan ekor, titik mata dan sistem yang bahkan menyerupai penanggapan rangsang yang ada pada hewan bersel banyak. Bagaimana p**a dengan hewan bersel banyak seperti kita? Masing-masing kita terdiri atas sel-sel yang memiliki bentuk yang berkaitan erat dengan perannya, dilokasikan pada tempat yang tepat, dengan aktivitas kimia yang sulit diterima akal bahwa mereka ada secara kebetulan! Sebut saja untuk satu sel tubuh kita, sudah dilengkapi kerangka sendiri yang sekaligus mengatur lalu lintas zat kimia dalam sel, bungkus sel kita yang ‘secara sadar’ mengontrol apa yang masuk dan keluar sel, memiliki gudang energi yang menopang kegiatan sel, dan banyak lagi keajaiban sel yang merupakan suatu keajaiban yang tidak bisa didustakan. Dalam inti dari sel, terdapat sebuah bank data yang kompleks yang mengatur seluruh kegiatan rumit dalam sel. Data itu berupa senyawa organik yang kita kenal sebagai asam nukleat dan secara umum diketahui adalah DNA. DNA terdiri atas basa-basa nitrogen yang ditopang oleh gugus fosfat dan gula berkarbon lima yang disusun secara rapi dalam suatu tangga yang terlilit (heliks ganda). Setiap basa nitrogen terdiri atas senyawa yang dikenal dengan purin dan pirimidin, masing-masing diantara mereka terdiri atas adenin dan guanin juga sitosin dan timin. Mereka berpasang-pasangan dalam heliks ganda yang masing-masing pasangan terdiri atas adenin-timin dan sitosin guanin. Keempat basa ini disingkat dengan huruf alfabetis, A untuk adenin, G untuk guanin, C untuk sitosin dan T untuk timin. Masing-masing basa-basa nitrogen itu entah bagaimana bisa dianalogikan sebagai berikut. Jika kita menaruh molekul DNA dalam sesendok teh, data didalamnya dapat mencakup miliaran buku yang mengalahkan kelengkapan ensiklopedia terlengkap sekalipun yang pernah dibuat oleh manusia bahkan seluruh buku yang pernah ditulis oleh manusia. Struktur heliks ganda ini ditemukan oleh James Watson dan Francis Crick pada tahun 1955. Francis Crick sendiri adalah seorang evolusionis yang mengakui struktur seperti ini tidak akan terbentuk secara kebetulan belaka. Dengan urutan-urutan basa yang panjang tersebut mengatur semua aspek dari tubuh, yang bahkan hanya membutuhkan tempat yang sangat kecil dalam satu untai ganda DNA. Apabila kita mengamati tempat tersebut, kita bagaikan mencari sebuah jarum dalam setumpuk jerami! Tempat ini disebut gen.
Pada zaman Darwin, mikroskop belum mampu membuka tabir kerumitan sel. Setelah ditemukannya mikroskop cahaya dan mikroskop elektron ditemukan, barulah tabir ini tersingkap secara nyata. Seorang matematikawan dan ahli astronomi asal Inggris, Sir Fred Hoyle, menganalogikan teori evolusi engan pernyataan: “The chance that higher life forms might have emerged by chance with the comparable that a tornado sweeping through a junk-yard might assemble a Boeing 747 from materials therein.” (Kemungkinan munculnya bentuk yang kompleks dari kehidupan dari suatu kebetulan sebanding dengan sebuah tornado yang melewati tumpukan-tumpukan sampah yang dengan itu sebuah pesawat Boeing 747 bisa terakit dengan benda-benda yang berada pada penampungan sampah itu).
Upaya-upaya bodohpun seketika itu ditinggalkan, dimana para evolusionis mencoba merakit sebuah sel dengan materi tak hidup. Dengan kompleksitas yang luar biasa ini, dimanapun kita menyaksikan kehidupan dimuka bumi, penciptaan luar biasa ini adalah sebuah keajaiban dan sebuah mahakarya. Dan setiap karya yang diciptakan, pastilah Yang menciptakan karya itu bertujuan p**a untuk memperkenalkan diriNya melalui karyaNya. Dialah Allah, dengan segala ilmu dan hikmahNya yang tak terbatas di jagad raya ini.
***