07/01/2026
Bab 3: Api yang Membara
kalau kalian s**a komen ya nanti saya lanjut kan ceritanya..
Beberapa hari setelah pengakuan Adrian, Rania tak bisa menghentikan pikirannya yang melayang ke dia. Setiap malam, ia terbangun basah kuyup oleh mimpi-mimpi liar tentang tubuhnya yang menindihnya, tangannya yang menjelajah setiap inci kulitnya. Pekerjaannya sebagai desainer grafis terasa hambar; ia sering kehilangan fokus, membayangkan bagaimana Adrian akan merobek pakaiannya di kantor jika saja ia ada di sana. Pesan-pesan rahasia dari Adrian membuat hatinya berdegup—janji pertemuan malam ini di sebuah hotel mewah di pusat kota, di mana tak ada yang mengenal mereka.
Rania tiba lebih dulu, mengenakan lingerie merah darah di bawah mantel panjang. Kamar suite itu mewah, dengan whirlpool bath yang menggelegak dan pemandangan kota yang berkilauan. Ia melepas mantelnya, berdiri di depan cermin, memeriksa tubuhnya: payudaranya yang montok terdorong oleh bra push-up, celana dalam tipis yang nyaris transparan, menonjolkan lekuk pinggulnya yang menggoda. Ia menyentuh dirinya sendiri, jarinya meluncur ke bawah, merasakan kebasahan yang sudah ada sejak tadi siang.
Pintu terbuka, Adrian masuk dengan setelan rapi, tapi matanya langsung membara melihat Rania. "Kau... sialan, kau membuatku gila," gumamnya, melempar tasnya dan mendekat dengan cepat. Ia menarik Rania ke pelukannya, bibirnya menyerbu bibirnya dalam ciuman ganas, lidahnya menjelajah mulutnya seperti ingin menelan seluruhnya. Tangan Adrian meremas payudara Rania melalui bra, jempolnya memelintir putingnya yang sudah mengeras, membuatnya mengerang keras.
"Kau milikku malam ini," bisik Adrian, suaranya parau. Ia mendorong Rania ke dinding, tangannya turun ke selangkangan, merobek celana dalamnya dengan satu tarikan kasar. Jarinya langsung menyusup masuk ke dalamnya, dua jari sekaligus, mengaduk-aduk dengan ritme cepat. Rania menggeliat, kakinya melemah, tapi Adrian menahannya dengan tubuhnya. "Lihat betapa basahnya kau untukku," goda Adrian, menarik jarinya dan memasukkannya ke mulut Rania, membuatnya menjilat rasanya sendiri.
Rania tak tahan lagi. Ia membalikkan posisi, mendorong Adrian ke tempat tidur, dan membuka celananya dengan cepat. Batang Adrian sudah tegang keras, urat-uratnya berdenyut, dan Rania langsung menggenggamnya, mengocok dengan tangan yang lembab. "Aku ingin merasakanmu di mulutku," katanya, mata penuh nafsu. Ia menunduk, bibirnya menyedot ujungnya, lidahnya menari di sekitar kepala yang sensitif, sementara tangannya memijat bola-bolanya. Adrian mengerang, tangannya meraih rambut Rania, menariknya lebih dalam hingga batangnya menyentuh tenggorokannya.
Mereka berguling di kasur, Adrian naik ke atas, membuka bra Rania dan menyedot payudaranya dengan rakus, gigitannya meninggalkan bekas merah. "Aku ingin kau di atas," perintahnya, membalikkan tubuhnya. Rania naik, memposisikan dirinya di atas batang Adrian, dan turun perlahan, merasakan setiap inci yang memenuhinya. Gerakannya liar, pinggulnya bergoyang maju-mundur, tangannya mencakar dada Adrian hingga berdarah tipis. "Lebih keras," pinta Rania, dan Adrian mendorong dari bawah, tangannya memukul bokongnya dengan suara plak yang bergema.
Mereka pindah ke whirlpool bath, air hangat membasahi tubuh mereka. Adrian duduk di pinggir, Rania berlutut di depannya, melanjutkan oralnya dengan lebih intens, air bercampur dengan air liurnya. Lalu Adrian mengangkatnya, memasukkannya lagi dari belakang, tangannya meraih leher Rania lembut tapi tegas, membuatnya menjerit kenikmatan. "Kau s**a ini, ya? Menjadi pelacurku yang rahasia," bisik Adrian, dorongannya semakin dalam dan cepat.
Orgasme datang bergelombang—pertama Rania, tubuhnya kejang, cairannya membasahi paha Adrian. Lalu Adrian, menyemprotkan panasnya di dalamnya, membuat mereka berdua ambruk ke air. Tapi hasrat tak pudar; mereka melanjutkan di lantai kamar mandi, posisi 69, lidah saling menjelajah bagian paling intim satu sama lain. Rania menyedot Adrian sambil jarinya menyusup ke belakangnya, membuatnya mengerang tak terkendali.
Setelah berjam-jam, mereka berbaring kelelahan, tubuh penuh bekas gigitan dan goresan. "Ini semakin berbahaya," kata Adrian, tapi senyumnya penuh kepuasan. "Istriku mulai curiga. Tapi aku tak bisa berhenti."
Rania menciumnya lagi, tangannya merayap ke bawah. "Maka jangan berhenti. Kita akan temukan cara."
(Bersambung ke Bab 4) kalau kalian s**a komen s**a nanti saya lanjut kan ceritanya