30/01/2026
RINGKASAN KITAB ILMU - IMAM GHAZALI
✵✸ Manfaat Ilmu (1) ✸
قَالَ عَزَّوَجَلَّ {يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ}
Firman Allah عز وجل:
“Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu, beberapa derajat.”
قَالَ اِبْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا (لِلْعُلَمَاءِ دَرَجَاتٌ فَوْقَ المُؤْمِنِينَ بِسَبعِمِائَةِ دَرَجَةٍ مَا بَينَ الدَّرَجَتَينِ مَسِيرَةُ خَمسِمِائَةِ عَامٍ)
Ibnu ‘Abbas رضي الله عنهما berkata:
“Sesungguhnya para ulama memiliki derajat di atas orang-orang beriman sebanyak tujuh ratus derajat; jarak antara dua derajat tersebut adalah perjalanan lima ratus tahun.”
وقَالَ عَزَّوَجَلَّ {قُلْ هَلْ يَسْتَوِى ٱلَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَٱلَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ}
Dan Allah عز وجل berfirman:
“Katakanlah: Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?”
وقَالَ تَعَالَى {إِنَّمَا يَخشٰى اللهَ مِنْ عِبَادِهِ العُلَمَاءِ}.
Dan Allah Ta‘ala berfirman:
“Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah orang-orang yang berilmu dan mengamalkan ilmunya.”
✵ Manfaat Ilmu (2)
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ {مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّيْنِ وَيُلْهِمْهُ رُشْدَهُ}
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, maka Allah akan memahamkannya dalam urusan agama dan memberinya ilham petunjuk.”
وقال ﷺ {العُلَمَاءُ وَرَثَةُ الْاَنْبِيَاءِ} — وَمَعْلُوْمٌ أنَّهُ لَا رُتْبَةَ فَوْقَ النُّبُوَّةِ وَلَا شَرَفَ فَوْقَ شَرَفِ الوِرَاثَةِ لِتِلْكَ الرُّتبَةِ
Dan Beliau ﷺ bersabda:
“Orang-orang yang berilmu, lalu mengamalkan dan mengajarkan ilmunya adalah pewaris para nabi.”
Dan telah diketahui bahwa tidak ada kedudukan yang lebih tinggi daripada kenabian, serta tidak ada kemuliaan yang melebihi kemuliaan mewarisi kedudukan tersebut.
وقال ﷺ {يَسْتَغْفِرُ لِلْعَالِمِ مَا فِى السَّمٰوَاتِ وَالْأَرْضِ} وَأَيُّ مُنْصَبٍ يَزِيْدُ عَلَى مَنْصَبِ مَنْ تَشْتَغِلُ مَلَائِكَةُ السَّمٰوَاتِ وَالْأَرْضِ بِالْاِسْتِغْفَارِ لَهُ فَهُوَ مَشْغُوْلٌ بِنَفْسِهِ وَهُمْ مَشْغُوْلُوْنَ بِالْاِسْتِغْفَارِ لَهُ
Dan Beliau ﷺ bersabda:
“Segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi memohonkan ampunan bagi seorang alim (orang yang berilmu dan mengamalkan ilmunya).”
Maka jabatan atau kedudukan apakah yang lebih tinggi daripada kedudukan seseorang yang para malaikat langit dan bumi sibuk memohonkan ampunan untuknya, sementara ia sendiri sibuk dengan dirinya, adapun mereka para malaikat sibuk memintakan ampunan baginya?
✵ Manfaat Ilmu (3)
وَقَالَ عَلِيُّ أَيْضًا رَضِيَ اللهُ عَنْهُ (الْعَالِمُ أَفْضَلُ مِنَ الصَّائِمِ الْقَائِمِ الْمُجَاهِدِ، وَإِذَا مَاتَ الْعَالِمُ ثُلِمَ فِى الْإِسْلَامِ ثَلْمَةً لَا يَسُدُّهَا إِلَّا خَلَفٌ مِنْهُ)
Dan ‘Ali رضي الله عنه juga berkata:
“Orang berilmu lebih utama daripada orang yang berpuasa (sunnah), mendirikan shalat malam, dan berjihad. Apabila seorang alim wafat, maka terjadilah celah (kerusakan) dalam Islam yang tidak dapat ditutup kecuali oleh pengganti darinya.”
وَقَالَ فَتْحُ الْمُوْصِلُ رَحِمَهُ اللهُ: أَلَيْسَ الْمَرِيْضُ إِذَا مُنِعَ الطَّعَامَ وَالشَّرَابَ وَالدَّوَاءَ يَمُوْتُ قَالُوْا بَلٰى قَالَ كَذَلِكَ الْقَلْبُ إِذَا مُنِعَ عَنْهُ الْحِكْمَةُ وَالْعِلْمُ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ يَمُوْتُ — وَلَقَدْ صَدَقَ — (فَإِنَّ غِذَاءَ الْقَلْبِ الْعِلْمُ وَالحِكْمَةُ، وَبِهِمَا حَيَاتُهُ كَمَا أَنَّ غِذَاءَ الْجَسَدِ الطَّعَامُ، وَمَنْ فَقَدَ الْعِلْمَ فَقَلْبُهُ مَرِيْضٌ وَمَوْتُهُ لَازِمٌ، وَلَكِنَّهُ لَا يَشْعُرُ بِهِ اِذْ حُبُّ الدُّنْيَا، وَشُغْلُهُ بِهَا أَبْطَلَ إِحْسَاسَهُ كَمَا أَنَّ غَلَبَةَ الْخَوْفِ قَدْ تُبْطِلُ أَلَمَ الْجِرَاحِ فِى الْحَالِ وَإِنْ كَانَ وَاقِعًا).
Dan Fath Al-Mushili رحمه الله berkata:
“Tidakkah kalian melihat bahwa orang sakit apabila dicegah dari makanan, minuman, dan obat, ia akan mati?”
Mereka menjawab: “Benar.”
Ia berkata:
“Demikian p**a hati, apabila dihalangi dari hikmah dan ilmu selama tiga hari, maka ia akan mati.”
Dan sungguh ia telah berkata benar, karena:
“Sesungguhnya makanan hati adalah ilmu dan hikmah; dengan keduanya hati hidup, sebagaimana nutrisi bagi tubuh adalah makanan. Barang siapa kehilangan ilmu, maka hatinya sakit dan kematiannya pasti, namun ia tidak merasakannya, karena kecintaan kepada dunia dan kesibukan dengannya telah menghilangkan rasa tersebut, sebagaimana rasa sakit pada luka dapat hilang sementara ketika rasa takut sangat mendominasi, padahal luka itu benar-benar ada.”
وَقَالَ الزُّبَيْرُ بِنْ أَبِى بَكْرٍ (عَلَيْكَ بِالْعِلْمِ فَإِنَّكَ اِنِ افْتَقَرْتَ كَانَ لَكَ مَالًا وَاِنِ اسْتَغْنَيْتَ كَانَ لَكَ جَمَالًا).
Dan Az-Zubair bin Abi Bakr berkata:
“Hendaklah engkau berpegang teguh pada ilmu, karena jika engkau miskin, ilmu akan menjadi harta bagimu; dan jika engkau berkecukupan, ilmu akan menjadi perhiasan (kehormatan) bagimu.”
✵ ✸ Manfaat Mempelajari Ilmu Agama (1) ✸
قَالَ ﷺ {مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَطْلُبُ فِيْهِ عِلْمًا سَلَكَ اللهُ بِهِ طَرِيْقًا اِلَى الْجَنَّةِ}
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, niscaya Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.”
وَقَالَ ﷺ {لَأَنْ تَغْدُوَ فَتَتَعَلَّمَ بَابًا مِنَ الْعِلْمِ خَيْرٌ مِنْ أَنْ تُصَلِيَ مِائَةَ رَكْعَةٍ}
Dan beliau ﷺ bersabda:
“Sungguh, engkau berangkat pagi untuk mempelajari satu bab ilmu lebih baik daripada engkau melaksanakan seratus rakaat shalat (sunnah).”
وَقَالَ ﷺ {بَابٌ مِنَ الْعِلْمِ يَتَعَلَّمُهُ الرَّجُلُ خَيْرٌ لَهُ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا}
Dan beliau ﷺ bersabda:
“Satu bab ilmu yang dipelajari seseorang lebih baik baginya daripada dunia dan segala isinya.”
وَقَالَ ﷺ {لَا يَنْبَغِى لِلْجَاهِلِ أَنْ يَسْكُتَ عَلَى جَهْلِهِ وَلَا لِلْعَالِمِ أَنْ يَسْكُتَ عَلَى عِلْمِهِ}
Dan beliau ﷺ bersabda:
“Tidak seyogyanya bagi orang yang bodoh untuk terus diam atas kebodohannya, dan tidak seyogyanya bagi orang yang berilmu untuk diam atas ilmunya.”
✵ Manfaat Mempelajari Ilmu Agama (2)
وَقَالَ ابْنُ الْمُبَارَكِ رَحِمَهُ اللهُ (عَجِبْتُ لِمَنْ لَمْ يَطْلُبِ الْعِلْمَ، كَيْفَ تَدْعُوْهُ نَفْسُهُ اِلَى مَكْرُمَةٍ)
Ibnu al-Mubarak رحمه الله berkata:
“Aku heran terhadap orang yang tidak menuntut ilmu; bagaimana ia bisa mengarahkan dirinya kepada kemuliaan?”
وَقَالَ عَطَاءٌ (مَجْلِسُ عِلْمٍ يُكَفِّرُ سَبْعِيْنَ مَجْلِسًا مِنْ مَجَالِسِ اللَّهْوِ)
Imam ‘Atha’ berkata:
“Majelis ilmu menghapus dosa sebanyak tujuh puluh majelis dari majelis-majelis yang diisi dengan hal-hal sia-sia (main-main).”
وَقَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ (مَوْتُ اَلْفِ عَابِدٍ قَائِمِ اللَّيْلِ صَائِمِ النَّهَارِ أَهْوَنُ مِنْ مَوْتِ عَالِمٍ بَصِيْرٍ بِحَلَالِ اللهِ وَحَرَامِهِ)
‘Umar رضي الله عنه berkata:
“Kematian seribu orang yang ahli ibadah (sunnah), yang shalat sunnah malam, dan puasa (sunnah) pada siang hari lebih ringan dibandingkan kematian seorang alim yang memahami apa yang dihalalkan dan yang diharamkan Allah.”
وَقَالَ الشَّافِعِى رَضِيَ اللهُ عَنْهُ (طَلَبُ الْعِلْمِ أَفْضَلُ مِنَ النَّافِلَةِ).
Imam Syafi‘i رضي الله عنه berkata:
“Menuntut ilmu agama lebih utama daripada shalat sunnah.”
✵ ✸ Manfaat Mengajarkan Ilmu Agama (1) ✸
قَالَ ﷺ لَمَّا بَعَثَ مُعَاذًا رَضِيَ اللهُ عَنْهُ اِلَى الْيَمَنِ {لَأَنْ يَهْدِيَ اللهُ بِكَ رَجُلًا وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا}.
Rasulullah ﷺ bersabda, ketika mengutus Mu‘adz رضي الله عنه ke Yaman:
“Sungguh, jika Allah memberi petunjuk kepada seseorang melalui dirimu, itu lebih baik bagimu daripada dunia dan segala isinya.”
وَقَالَ ﷺ {مَنْ تَعَلَّمَ بَابًا مِنَ الْعِلْمِ لِيُعَلِّمَ النَّاسَ اُعْطِيَ ثَوَابَ سَبْعِيْنَ صِدِّيْقًا}
Beliau ﷺ juga bersabda:
“Barang siapa mempelajari satu bab ilmu untuk mengajarkannya kepada orang lain, ia akan diberi pahala seperti pahala tujuh puluh orang shiddiq (yang jujur dalam imannnya).”
وَقَالَ ﷺ {مَنْ عَلِمَ عِلْمًا فَكَتَمَّهُ الجَمَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِلِجَامِ مِنَ النَّارِ}
Dan beliau ﷺ bersabda:
“Barang siapa mempelajari ilmu namun justru menyembunyikannya (tidak mengajarkannya kepada orang lain), Allah akan membelenggunya dengan belenggu dari api neraka pada hari kiamat.”
وَقَالَ ﷺ {الدُّنْيَا مَلْعُوْنَةٌ مَلْعُوْنٌ مَا فِيْهَا اِلَّا ذِكْرِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَمَا وَالَاهُ اَوْ مُعَلِّمًا اَوْ مُتَعَلِّمًا}
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Dunia itu terlaknat, dan terlaknat segala yang ada di dalamnya, kecuali dzikir kepada Allah dan apa yang mendekatkan pada-Nya, atau orang yang mengajarkan ilmu agama, atau orang yang belajar ilmu agama”
✵ Manfaat Mengajarkan Ilmu Agama (2)
وَخَرَجَ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ ذَاتَ يَوْمٍ فَرَأَى مَجْلِسَيْنِ اَحَدُهُمَا يَدْعُوْنَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَيَرْغَبُوْنَ اِلَيْهِ، وَالثَّانِى يُعَلِّمُوْنَ النَّاسَ، فَقَالَ {اَمَّا هَٰؤُلَآءِ فَيَسْأَلُوْنَ اللهَ تَعَالَى فَإِنْ شَآءَ اَعْطَاهُمْ وَاِنْ شَآءَ مَنَعَهُمْ وَاَمَّا هَٰؤُلَآءِ فَيُعَلِّمُوْنَ النَّاسَ وَاِنَّمَا بُعِثْتُ مُعَلِّمًا} ثُمَّ عَدَلَ اِلَيْهِمْ وَجَلَسَ مَعَهُمْ
Suatu hari Rasulullah ﷺ keluar rumah dan melihat dua majelis:
Yang satu berdoa kepada Allah dan memohon kepada-Nya.
Yang lain mengajarkan ilmu kepada orang-orang.
Beliau ﷺ bersabda:
"Adapun mereka yang berdoa, mereka meminta kepada Allah, jika Allah menghendaki, Dia memberi, dan jika Dia menghendaki, Dia mencegah doa mereka. Adapun mereka yang mengajarkan ilmu agama kepada manusia, sungguh Aku diutus sebagai seorang yang mengajarkan ilmu."
Kemudian Beliau ﷺ berpaling kepada mereka yang mengajarkan ilmu agama dan Beliau duduk bersama mereka.
وَقَالَ ﷺ {الدَّالُّ عَلَى الْخَيْرِ كَفَاعِلِهِ}
Dan beliau ﷺ bersabda:
"Orang yang menunjukkan kebaikan adalah seperti orang yang mengerjakannya."
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ
Dari Abu Hurairah رضي الله عنه bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
"Barang siapa mengajak kepada suatu petunjuk (kebaikan), maka baginya pahala sebagaimana pahala orang-orang yang mengikutinya."
✵ ✸ Ilmu yang Fardu 'Ain untuk dipelajari ✸
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ»
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Menuntut ilmu adalah kewajiban atas setiap Muslim."
فَمِنْهُ مَا يُدْرَكُ بِهِ التَّوْحِيدُ وَيُعْلَمُ بِهِ ذَاتُ اللَّهِ تَعَالَى وَصِفَاتُهُ، وَمِنْهُ مَا تُعْرَفُ بِهِ الْعِبَادَاتُ وَالْحَلَالُ وَالْحَرَامُ وَمَا يُحَرَّمُ مِنَ الْمُعَامَلَاتِ وَمَا يَحِلُّ، وَمِنْهُ مَا تُعْلَمُ بِهِ أَحْوَالُ الْقَلْبِ مَا يُحْمَدُ مِنْهَا كَالصَّبْرِ وَالشُّكْرِ وَالسَّخَاءِ وَحُسْنِ الْخُلُقِ وَحُسْنِ الْمُعَاشَرَةِ وَالصِّدْقِ وَالْإِخْلَاصِ، وَمَا يُذَمُّ كَالْحِقْدِ وَالْحَسَدِ وَالْغِشِّ وَالْكِبْرِ وَالرِّيَاءِ وَالْغَضَبِ وَالْعَدَاوَةِ وَالْبَغْضَاءِ وَالْبُخْلِ،
Maka sebagian darinya adalah:
Ilmu yang dengannya dapat dipahami tauhid dan diketahui Dzat Allah Subhanahu wa Ta‘ala beserta sifat-sifat-Nya. (ilmu tauhid)
Sebagian darinya adalah:
Ilmu yang dengannya diketahui ibadah, halal dan haram, serta hukum-hukum muamalah. (ilmu fiqih)
Dan sebagian darinya yang lain adalah:
Ilmu yang dengannya diketahuilah keadaan-keadaan hati, apa yang terpuji seperti: sabar, syukur, dermawan, akhlak mulia, cara bergaul yang baik, jujur, dan ikhlas, dan apa yang tercela seperti: dengki, iri hati, menipu, sombong, riya’, marah, permusuhan, kebencian, dan kikir. (ilmu tasawuf / tazkiyatun nafs)
✵ ✸ Tanda-tanda 'Ulama Akhirat & 'ulama yang buruk (A) ✸
Sesungguhnya 'Ulama Akhirat adalah orang-orang yang beruntung yang didekatkan (kepada Allah). Adapun tanda mereka adalah:
(١) فَمِنْهَا: أَنْ لَا يَطْلُبَ الدُّنْيَا بِعِلْمِهِ
فَإِنَّ أَقَلَّ دَرَجَاتِ الْعَالِمِ أَنْ يُدْرِكَ حَقَارَةَ الدُّنْيَا وَخِسَّتَهَا وَكُدُوْرَتَهَا وَانْصِرَامَهَا وَعَظِمَ الْآخِرَةِ وَدَوَامَهَا وَصَفَاءَ نَعِيْمِهَا وَجَلَالَةَ مُلْكِهَا، وَيَعْلَمَ أَنَّهُمَا مُتَضَادَّتَانِ، وَأَنَّهُمَا كَالضُّرَّتَيْنِ مَهْمَا أَرْضَيْتَ إِحْدَاهُمَا أَسْخَطْتَ الْأُخْرٰى، وَأَنَّهُمَا كَكَفَّتَيِ الْمِيْزَانِ مَهْمَا رَجَحَتْ إِحْدَاهُمَا خَفَّتِ الْأُخْرَى، وَأَنَّهُمَا كَالْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ مَهْمَا قَرُبْتَ مِنْ أَحَدِهِمَا بَعُدْتَ عَنِ الْآخَرِ —
(1) Tidak menjadikan ilmu akhiratnya sebagai sarana untuk mencari dunia.
Sesungguhnya tingkatan paling rendah dari orang alim adalah bahwa ia menyadari kehinaan dunia, kerendahannya, kekeruhannya, dan cepatnya ia berlalu, serta mengetahui keagungan akhirat, keabadiannya, kejernihan kenikmatannya, dan kemuliaan kerajaannya.
Dan Ia memahami bahwa dunia dan akhirat saling bertentangan, seperti dua istri yang dimadu: ketika salahsatunya, maka yang lain akan tidak s**a.
Dan keduanya seperti dua sisi timbangan: ketika salah satunya berat, yang lain pasti ringan.
Dan sungguh keduanya seperti timur dan barat: ketika semakin dekat kepada salahsatunya, semakin jauh dari yang lain.
فَإِنَّ مَنْ لَا يَعْرِفُ حَقَارَةِ الدُّنْيَا وَكُدُوْرَتَهَا وَامْتِزَاجَ لَذَّاتِهَا بِأَلَمِهَا ثُمَّ انْصِرَامُ مَا يَصْفُوْ مِنْهَا فَهُوَ فَاسِدُ الْعَقْلِ — وَمَنْ لَا يَعْلَمْ عِظَمَ أَمْرِ الْآخِرَةِ وَدَوَامَهَا فَهُوَ كَافِرٌ مَسْلُوْبُ الْإِيْمَانِ — وَمَنْ عَلِمَ هٰذَا كُلَّهُ ثُمَّ لَمْ يُؤْثِرِ الْآخِرَةَ عَلَى الدُّنْيَا فَهُوَ أَسِيْرُ الشَّيْطَانِ قَدْ أَهْلَكَتْهُ شَهْوَتُهُ وَغَلَبَتْ عَلَيْهِ شَقْوَتُهُ
Maka barang siapa tidak mengetahui kehinaan dunia, kekeruhannya, serta bercampurnya kenikmatannya dengan penderitaan, lalu cepatnya kenikmatan itu sirna, maka ia adalah orang yang rusak akalnya.
Dan barang siapa tidak mengetahui keagungan urusan akhirat dan keabadiannya, maka ia adalah orang yang kufur dan tercabut imannya.
Dan barang siapa mengetahui semua itu, namun tetap tidak mengutamakan akhirat daripada dunia, maka ia adalah tawanan setan, telah dibinasakan oleh hawa nafsunya dan dikuasai oleh kesengsaraannya sendiri.
قَالَ الْحَسَنُ رَحِمَهُ اللهُ (عُقُوْبَةُ الْعُلَمَاءِ مَوْتُ الْقَلْبِ وَمَوْتُ الْقَلْبِ طَلَبُ الدُّنْيَا بِعَمَلِ الْآخِرَةِ)
Al-Hasan رحمه الله berkata:
“Hukuman bagi para ulama adalah matinya hati; dan matinya hati adalah menjadikan amal akhirat sebagai sarana untuk mencari dunia.”
قَالَ يَحْيَى بْنُ مُعَاذٍ (إِنَّمَا يَذْهَبُ بَهَاءُ الْعِلْمِ وَالْحِكْمَةِ إِذَا طَلَبَ بِهِمَا الدُّنْيَا)
Yahya bin Mu‘adz berkata:
“Sesungguhnya keindahan ilmu dan hikmah akan hilang apabila keduanya dijadikan sarana untuk mencari dunia.”
وَقَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ (إِذَا رَأَيْتُمُ الْعَالِمَ مُحِبًّا لِلدُّنْيَا فَاتَّهِمُوْهُ عَلَى دِيْنَكُمْ فَإِنَّ كُلَّ مُحِبٍّ يَخُوْضُ فِيْمَا أَحَبَّ)
Dan ‘Umar رضي الله عنه berkata:
“Apabila kalian melihat seorang alim mencintai dunia, maka curigailah (waspadalah terhadap) agamanya; karena setiap orang yang mencintai sesuatu pasti akan tenggelam dalam apa yang ia cintainya.”
✦ PENJELASAN APA YANG DISEBUT SEBAGAI DUNIA ✦
دُنْيَاكَ وَآخِرَتُكَ عِبَارَةٌ عَنْ حَالَتَيْنِ مِنْ أَحْوَالِ قَلْبِكَ، فَالْقَرِيبُ الدَّانِي يُسَمَّى دُنْيَا، وَهُوَ كُلُّ مَا قَبْلَ الْمَوْتِ، وَالْمُتَرَاخِي الْمُتَأَخِّرُ يُسَمَّى آخِرَةً، وَهُوَ مَا بَعْدَ الْمَوْتِ، فَكُلُّ مَا لَكَ فِيهِ حَظٌّ وَنَصِيبٌ، وَغَرَضٌ، وَشَهْوَةٌ، وَلَذَّةٌ - عَاجِلُ الْحَالِ قَبْلَ الْوَفَاةِ فَهِيَ الدُّنْيَا فِي حَقِّكَ
Duniamu dan akhiratmu pada hakikatnya adalah dua keadaan dari keadaan hatimu. Yang dekat dan segera disebut dunia, yaitu segala sesuatu sebelum kematian. Sedangkan yang jauh dan tertunda disebut akhirat, yaitu segala sesuatu setelah kematian.
Maka segala hal yang di dalamnya engkau memiliki bagian, kepentingan, tujuan, syahwat, dan kenikmatan yang bersifat segera sebelum wafat, maka itulah dunia.
كُلُّ حَظٍّ عَاجِلٍ مُعِينٍ عَلَى أَعْمَالِ الْآخِرَةِ، وَهُوَ مَا لَا بُدَّ مِنْهُ لِيَتَأَتَّى لِلْإِنْسَانِ الْبَقَاءُ وَالصِّحَّةُ الَّتِي بِهَا يَصِلُ إِلَى الْعِلْمِ وَالْعَمَلِ، وَهَذَا لَيْسَ مِنَ الدُّنْيَا .. لِأَنَّهُ مُعِينٌ عَلَى الْأَوَّلِ وَوَسِيلَةٌ إِلَيْهِ، فَمَهْمَا تَنَاوَلَهُ الْعَبْدُ عَلَى قَصْدِ الِاسْتِعَانَةِ بِهِ عَلَى الْعِلْمِ وَالْعَمَلِ لَمْ يَكُنْ بِهِ مُتَنَاوِلًا لِلدُّنْيَا، وَلَمْ يَصِرْ بِهِ مِنْ أَبْنَاءِ الدُّنْيَا، وَكَانَتِ الدُّنْيَا فِي حَقِّهِ مَزْرَعَةً لِلْآخِرَةِ
Setiap bagian kenikmatan dunia yang bersifat segera, selama ia membantu amal-amal akhirat, yaitu hal-hal yang tidak bisa ditinggalkan agar manusia dapat bertahan hidup dan memiliki kesehatan, yang dengannya ia dapat sampai kepada ilmu dan amal, maka hal itu bukan termasuk (tercela sebagai) dunia.
Karena ia menjadi penolong bagi urusan akhirat dan sarana menuju kepadanya.
Maka apa pun yang diambil oleh seorang hamba dengan niat untuk menjadikannya sebagai bantuan dalam menuntut ilmu dan beramal ibadah, maka ia tidak dianggap sebagai orang yang sibuk mengejar dunia, dan tidak termasuk golongan pecinta dunia.
Bahkan dunia dalam keadaannya itu menjadi ladang bagi akhiratnya.