Achmad Syafii

Achmad Syafii Literasi. Jalan-jalan. Semunya!

Hingga pada 365x2, aku akhirnya mampu benar-benar mengerti bahwa pergi adalahh pergi.
24/05/2026

Hingga pada 365x2, aku akhirnya mampu benar-benar mengerti bahwa pergi adalahh pergi.

Saya pernah di posisi "Opo aku leren wae yo le nulis puisi? Toh, ra ono perkembangan blas?" Sampai saat saya membuka buk...
22/05/2026

Saya pernah di posisi "Opo aku leren wae yo le nulis puisi? Toh, ra ono perkembangan blas?" Sampai saat saya membuka buku gelatik kembar berisi arsip puisi, saya menemukan diri saya yang lain. Diri saya yang menye-menye, yang gampang kangen, yang patah hati, yang nangisan.

Sepertinya walaupun puisi saya jelek—dulu sampai sekarang, paling tidak bisa sedikit menjadi catatan seperti apa saya dulu. Ya, semacam catatan perjalanan, namun dalam bentuk puisi.

Dengan nekad saya mulai melempar arsip puisi lama saya yang berdebu di dalam buku gelatik kembar. Puisi yang rata-rata j...
20/05/2026

Dengan nekad saya mulai melempar arsip puisi lama saya yang berdebu di dalam buku gelatik kembar. Puisi yang rata-rata jelek saja belum itu, paling tidak bisa dibaca orang-orang. Meski, ya, dibaca dengan hati-hati, karena kalau tidak, akan membuat muntah. Sudah jelek, efek sampingnya banyak.

Akhhhhh. 2019, malam Jum'at tanggal berapa dan bulan apa saya menulis ini? Saya mencurahkan doa rindu ini untuk siapa? T...
17/05/2026

Akhhhhh. 2019, malam Jum'at tanggal berapa dan bulan apa saya menulis ini? Saya mencurahkan doa rindu ini untuk siapa? Teks puisi semakin lama saya rasakan, ternyata bisa berdiri sendiri tanpa obyek yang saya lekatkan dulu ketika menulisnya.

7 tahun lalu mungkin puisi ini saya tujukan untuk seseorang yang saya lupa tepatnya siapa. Tahun-tahun itu adalah tahun di mana saya masih belum bisa hengkang dari rasa memiliki seseorang yang saya buatkan puisi tentang paket kemarin. Jadi jelas, itu bukan untuk dia.

Kembali ke renungan awal, saya membaca puisi ini sekarang masih terasa nyambung. Bukan karena obyeknya sama, tapi hadirnya obyek baru dalam hidup saya yang sama-sama menjadi muara untuk rindu-rindu yang saya rasakan.

Bukan rindu yang 'mak pet mak byar', bukan rindu yang terkadang terasa 'sangat' lalu tiba-tiba 'biasa saja', tapi rindu yang stabil. Jelas. Lebih stabil rindu saya daripada ekonomi Indonesia. Hehehe

Kalau kenangan yang indah-indah, boleh, kan?
15/05/2026

Kalau kenangan yang indah-indah, boleh, kan?

Jika kau adalah tujuan, maku aku adalah kaki, kendaraan, dan apapun yang bisa membantuku untuk menujumu.
13/05/2026

Jika kau adalah tujuan, maku aku adalah kaki, kendaraan, dan apapun yang bisa membantuku untuk menujumu.

Hari ini, akulah kurir sekaligus pengirim paket yang senantiasa mengirim rindu untuk 'kau' yang lain—bukan 'kau' yang ya...
11/05/2026

Hari ini, akulah kurir sekaligus pengirim paket yang senantiasa mengirim rindu untuk 'kau' yang lain—bukan 'kau' yang yang tak pernah menerima paketku itu. 'Kau' yang sekarang, adalah penerima paket yang baik, yang selalu menerima paket berisi apapun itu dariku.

Masa masa itu, apapun tentang kau melekat erat dalam ingatku. Berulang kali aku ingin 'ngelalekake', tapi ego yang menga...
31/03/2026

Masa masa itu, apapun tentang kau melekat erat dalam ingatku. Berulang kali aku ingin 'ngelalekake', tapi ego yang menganggap kau masih mencintai, terlalu kuat.

Huh!

Waktu itu, sulit untuk menerima bahwa kau telah dengan mudah menempatkan aku dalam kotak lupa milikmu. Aku masih saja me...
18/03/2026

Waktu itu, sulit untuk menerima bahwa kau telah dengan mudah menempatkan aku dalam kotak lupa milikmu. Aku masih saja merasa kita masih dekat, kau masih belum beralih.

Wayahe move on le

Entah sudah berapa lama saya tidak serius menulis puisi lagi— meski yang saya tulis bukan puisi yang 'serius'. Dalam wak...
05/11/2025

Entah sudah berapa lama saya tidak serius menulis puisi lagi— meski yang saya tulis bukan puisi yang 'serius'. Dalam waktu yang lama itu, hanya ada bait bait tak selesai yang saya catat di catatan smartphone. Malah terkadang masih berupa ide—yang akhirnya tak selesai juga. Padahal tulisan (baca: puisi) yang baik itu adalah tulisan yang selesai. Dan, saya tak pernah menyelesaikannya. Baru ini, tulisan yang sekarang kalian baca, yang bisa saya selesaikan (atau mungkin saya paksa untuk selesai?)

Entahlah. Saya sendiri bingung. Ternyata memilih untuk bekerja, memilih untuk punya tanggungjawab—tentunya bagi saya, adalah pilihan untuk sedikit menidurkan beberapa hobi.

Address

Bantul

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Achmad Syafii posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Establishment

Send a message to Achmad Syafii:

Shortcuts

Share

Category