Tiga Strata

Tiga Strata Media Kelas Menulis Online dan Kelas Bahasa.

Tiga Strata merupakan sekolah online yang memberikan layanan Kelas Menulis bagi kamu yang mempunyai minat dalam dunia kepenulisan, dan Kelas Bahasa Inggris.

    1. Deskripsikan gambar di bawah ini menjadi fiksi mini. Genre bebas2. Jumlah kata maksimal 5003. Deadline tanggal 05...
02/11/2024




1. Deskripsikan gambar di bawah ini menjadi fiksi mini. Genre bebas
2. Jumlah kata maksimal 500
3. Deadline tanggal 05 November 2024 pukul 19.00 wib.
4. Cerita diposting di wall pribadi dengan tagar dan sertakan foto di bawah ini
5. Pemenang dipilih dua orang dengan masing-masing mendapatkan reward 50k
6. Wajib seret link ke kolom postingan ini

Suka-s**a kelen aja mau tag atau gak. Jumlah pemenang akan bertambah menyesuaikan kualitas naskah yang masuk.

Judulnya adalah Ketika Bekerja di Bawah Tekanan Sang Boss Cewek. Pada depresi pegawainya.
28/10/2024

Judulnya adalah Ketika Bekerja di Bawah Tekanan Sang Boss Cewek. Pada depresi pegawainya.

Ada begitu banyak elemen-elemen dalam pembuatan cerita. Entah itu novel, cerita pendek, atau fiksi mini. Salah satunya a...
28/10/2024

Ada begitu banyak elemen-elemen dalam pembuatan cerita. Entah itu novel, cerita pendek, atau fiksi mini. Salah satunya adalah emosi dalam cerita. Bagaimana caranya kita membangun cerita agar pembaca mampu merasakan emosi yang terkandung dalam narasi?

Emosi cerita itu datang dari mana? Tentu saja dari bangunan ceritanya.

Bagi Teman-teman yang ingin belajar silakan join. Kelas akan dimentori oleh Shin Elqi si anak pungut

Biaya pendaftaran : 50.000
Kelas berlangsung selama dua pekan
1x tugas
Kelas dimulai pada tanggal 28 Oktober 2024
Pendaftaran ditutup pada tanggal 28 pukul 19.00 wib

Untuk pembayaran terpenting sebelum kelas selesai sudah lunas.

Note : Tidak diperuntukan bagi kelen yang emosian. Takut nambah kena mental.

Selamat bertugas malam ini anak pungut.

02/10/2024

Iya, data naskah kelen jaman bahola masih gue simpen. Kek ada manis-manisnya.

Debar Cemburu

Ketika kicau burung berkabar
Merapuhkan kelopak-kelopak mawar
Menghantam sabar menempa kau dengan gusar

Engkau embus suasana selain surga
Di mana pada setiap tiupannya menjelma
Pintu neraka yang malaikat lupa tutup seharian

Zah, lantas bagaimana dengan aku?
Yang pada setiap malamnya mendengarkan desau angin
Bercerita perihal engkau dan kekasihmu di sana?

Kita masih berpelukan
Engkau dengan kekasihmu, sementara aku
Mendekap bayang yang masih menjelmakanmu

Meski lebam menghuni dadaku
Engkau tak akan rela kubiarkan cemburu
Tersebab kau tak akan pernah mampu menjadi aku

~~~~~~~~~~oO💔Oo~~~~~~~~~~

Pelangi Selepas Badai

Malam pun datang, menitipkan seulas wajah perempuan di antara rintik hujan yang bertandang tanpa bilang-bilang. Melindapkan suasana hatiku semakin tidak karuan, akibat pertengkaran rindu yang salah paham.

Mungkin amarah di dada perempuan itu masih bergemuruh, selepas membaca buku harianku di masa lalu; sementara di setiap detiknya, aku kehilangan tempat berlabuh.

Zah, semarah itukah kamu kepadaku?

"Aku menyerah untuk melanjutkan hubungan kita. Kamu terlalu megah untuk aku cintai, Bara." Ucapan Zah menghujam dadaku pada waktu itu.

Ck!

"Masih tentang puisi-puisi yang kamu temukan di buku catatan usangku?"

Perempuan berhijab jingga itu mengatupkan bibirnya. Tak ada kata. Mendung menggelayut di wajahnya, menahan hujan atau mungkin juga badai.

"Terlalu banyak wanita di hidupmu, dan puisi-puisi itu menunjukan betapa mereka sangat berharga. Terutama, Nisa."

"Zah ...."

"Sudahlah, Bara." Zah merajuk.

Aku mencoba menggenggam tangan Zah, akan tetapi ia menepisnya.

"Coba dengar penjelasanku." Kutatap lekat matanya sedalam yang aku mampu.

"Nggak ada yang perlu dijelaskan lagi, Bara. Semuanya begitu jelas."

"Sayang, jangan cemburu. Cemburu itu hanya untuk orang-orang yang lemah."

Tatapan Zah berubah, matanya begitu nyalang. "Dan sekarang, sedang lemah-lemahnya aku. Mengertilah, sebentar saja."

Pandangannya meredup seiring dengan matanya yang memerah.

Semesta ikut bicara dengan menjatuhkan rintik hujan di sore itu. Mengiringi tangisan yang pecah di wajah perempuanku. Di antara rintik hujan, kami menjelma hening yang sangat menyesakkan dada.

Kemudian semua reda, tetapi tak ada pelangi. Suasana masih basah. Lantas mana yang harus aku tenangkan terlebih dahulu? Tempias di wajahnya, atau kecamuk di dadaku?

"Biarkan aku sendiri dulu." Zah masih enggan menatapku. "Jangan cari aku, biarlah rindu mendewasakanku," sambungnya.

Ia kemudian pamit pulang, meninggalkan segala ketidakpastian di benakku.

Hingga pada suatu malam, sepi menertawaiku dengan kejam. Entah berapa kali hening di sepertiga pagi kuhabiskan merayu Tuhan. Kesunyian memaksaku berkeluh kesah. Tak hanya lewat doa dan air mata, tetapi tertulis juga pada selembar kertas yang kutujukan untuk Filazah, perempuanku.

***

Teruntuk: Filazah, si pencemburu.

Sayang, ketika masa lalu aku eja dalam setiap kata, bisakah kau membacanya sebagai dongeng belaka.

Ketika rahasia di dariesoar hatiku terungkap perlahan, kuharap kau hanya diam mendengarkan.

Ketika banyak kenangan di masa lalu yang tersimpan di dalam kalbuku, bisakah kau bersikap pura-pura tidak tahu.

Hanya satu yang engkau perlu tahu. Tentang semua lagu rinduku, tak serta merta dari masa lalu.

Cinta ini ada di setiap detik bersamamu. Dimulai ijab kobulku hingga nanti terbujur menuju debu.

Dari aku: kekasihmu, Bara.

Sepucuk surat itu kukirim kepadanya.

Detik demi detik berlalu. Entah seminggu, entah berapa lama waktu mengolok-ngolokku. Rindu enggan usai di dadaku.

"Zah, pulang. Tuhan, maafkan jika kerinduanku kepada mahluk-Mu telah membuat-Mu cemburu." Doa penutup di antara segala pinta yang kupanjatkan.

Seperti biasa, selepas Subuh kedua mataku dipaksa lelap oleh tubuh yang kelelahan.

Pagi datang, aku terbangun setelah mendengar ketukan terdengar di pintu kamar, diiringi sebuah suara yang tak asing di telinga memanggil namaku. Menggema mengisi ruangan yang sebelumnya sunyi.

Aku membuka pintu.

"Bara ...." Seraut wajah yang kukenali sedang berdiri dengan tubuh gemetar.

Untuk beberapa saat, kami mematung.

"Aku terlalu cemburu, dan perasaan itu membuatku limbung, aku lelah mencari peraduan. Di mana segala ingatan dapat kularung, tapi pada akhirnya semua bermuara kepadamu." Tangis Zah tak terbendung.

Ia menghentikan ucapannya sejenak.

"Meski sakit, rindu itu masih kusimpan berbukit-bukit. Terkadang tumpah ruah tertulis dalam kertas-kertas, juga pada air mata. Aku bingung, rasa cemburu itu tak kunjung reda. Lalu, surat darimu tiba, dalam setiap kata-katanya aku menemukan kembali hidup yang hampir redup, aku--"

"Ssst ...." Ujung telunjukku menahan ucapannya.

"Maaf, aku terlalu cemburu." Zah menghambur dalam pelukanku.

Gerimis masih terjatuh di pipinya, perlahan kudekap perempuan pencemburu itu.

"Kita tak sedang di masa lalu. Aku di sini untuk sekarang hingga nanti, selamanya," bisikku.

kemudian, kukecup keningnya.

Tangisan Zah mereda, diiringi pipinya yang merona merah. Kini, spektrum warna pelangi di wajahnya lengkap sudah.

Bara El Raki
Bandung, 24 Februari 2021

Catatan kaki
Dariesoar: Bufet, lemari.

Tag juragan hajat Kerry Dee

02/10/2024

Sejenak kita bernostalgia pada event yang mengharuskan sesama penulis saling berbalas.

Sebelum Engkau

Sebelum cahaya
Membinasakan rintik hujan
Engkau akan selalu menjadi embun
Di rimbun dedaun

Sebelum sunyi
Melindapkan malam
Di kesepian paling kelam
Puisimu bertabur gemintang

Sebelum engkau, mencipta Bara
Di dadaku yang berbunga
Cinta 'tlah dulu tiba

Sebelum engkau
Meriakkan cemburu
Rasa telah terlebih dahulu
Menyebut engkau rindu

~~~~~~♡♡♡♡♡~~~~~~

Hati yang Terbuka

Aku sedang membuka jendela kamar, ketika gerimis kembali turun pagi ini. Perlahan. Lama-lama mulai deras. Lebih deras dari hujan semalam. Bukan hanya di luar sana, tapi hujan juga ada di mataku. Bedanya, hujan di luar bisa leluasa tertumpah, sedang di mataku tertahan.

Angin membawa hawa dingin dan tempias masuk ke kamar. Alih-alih menutup kembali jendela, aku malah mendongak sembari memejam, menghidu udara dalam-dalam, berharap kecamuk di dada mereda. Namun, yang kudapati bukan udara segar, melainkan aroma nasi goreng. Tunggu! Nasi goreng?

Kutinggalkan segala pesona hujan demi mencari sumber aroma nasi goreng. Saat memijakkan kaki di dapur, terlihat laki-laki yang menikahiku tiga bulan lalu tengah berdiri di depan kompor. Tangan kirinya memegang sisi penggorengan dan tangan kanan memegang sudip.

"Abang lagi ngapain?" Aku menghampirinya. "Kok nggak manggil Zah? Sini, biar Zah yang lanjutin masak."

"Hari ini kamu harus cobain masakan abang."

"Abang bisa masak?"

Bang Bara menghentikan gerakan tangannya mengaduk nasi dalam penggorengan.

"Abang bahkan bisa masak beberapa menu lainnya, bukan cuma nasi goreng," jawabnya sambil menoleh kepadaku sebentar.

Aku mengangguk-angguk. Sedikit penasaran dengan rasa masakannya. Yang pasti, kuketahui satu hal lagi tentangnya. Selain s**a membaca buku selama tiga puluh menit usai mengerjakan sholat Subuh, dia bisa memasak.

Selanjutnya, dua piring nasi goreng, secangkir kopi untuknya, dan secangkir teh untukku terhidang di meja. Dia menyiapkan semuanya dan melarangku membantu.

"Gimana, enak nggak?" tanyanya begitu aku memasukkan sesendok nasi goreng ke mulut.

Aku tak menjawab, hanya terus mengunyah. Maksudku, aku akan menjawabnya nanti, setelah merasai setiap bumbu yang menyatu dalam nasi goreng buatannya.

"Tolong, kasih penilaian yang jujur, Sayang."

Bang Bara memajukan kursinya, lalu menopang dagu dengan kedua tangan. Dia menatap lekat, membuatku jadi salah tingkah. Padahal, ini bukan pertama kalinya--setelah pernikahan--dia menatapku seperti ini. Namun, rasanya tetap gugup. Kurasakan ada hawa panas yang menjalar di wajah. Sementara kurasakan kebahagiaan meledak dalam dada.

Hingga akhirnya kuberikan penilaianku, agar dia berhenti menatap. Agar detak jantungku kembali normal. Dia tersenyum. Senyuman yang hangat, disertai binar di matanya.

Pagi ini, saat sarapan ini, aku merasa kembali jatuh cinta padanya untuk kesekian kali. Meski, aku tidak tahu pasti, kapan pertama kalinya cinta bersemayam dalam hatiku. Saat-saat perjumpaan secara kebetulan kami, yang anehnya sering terjadi, atau saat dia melamarku secara tidak resmi waktu itu, lamaran yang awalnya kuanggap bercandaan. Entahlah, aku tidak tahu.

Namun, apa Bang Bara juga mencintaiku? Kalau benar, iya. Sepenuh atau setengah hati?

Aku ingin menanyakan secara langsung. Perihal hatinya, perihal buku catatan miliknya yang tak sengaja kutemukan di laci kamarnya, tapi sengaja kubaca karena penasaran. Buku yang berisi segala hal tentang Nisa; sahabatku dan cinta pertama Bang Bara. Tentang kisah cinta dalam diam mereka, yang kuketahui berakhirnya sebab ada orang lain yang mendahului Bang Bara melamar dan menikahi Nisa.

Aku ingin menanyakannya. Sejak kemarin, tadi pagi-pagi buta, pun sekarang. Tapi, sampai nasi goreng dalam piring habis, dan secangkir teh tandas, segala hal yang mengusik benakku itu tak kunjung kukatakan.

Sejujurnya, aku sedikit takut mendengar jawabannya nanti. Aku tidak siap jika ternyata, Nisa bukan sekadar singgah di hatinya, melainkan masih menetap. Aku benar-benar dalam dilema besar.

Sepanjang hari, hingga malam tiba, aku berusaha meyakinkan hati, dengan mengatakan pada diri sendiri: tak apa jika akhirnya terluka akan kenyataan, daripada hati dirundung prasangka dan kegelisahan. Toh, jika cintaku benar, Bang Bara akan merasa, pun menyediakan tempat paling istimewa.

Sesaat, pemikiran itu membuatku merasa tenang dan siap untuk bicara. Hanya sesaat. Karena kenyataannya, aku pura-pura tidur begitu mendengar suara handle pintu diputar.

"Tidur yang nyenyak, Sayang," bisiknya seraya mengecup keningku. "Abang mencintaimu. Abang tau, ada yang mengusik hatimu. Maaf, kalau itu karena Abang. Abang nggak akan maksa kamu cerita. Abang akan menanti dengan sabar, saat-saat kamu merasa nyaman dan mempercayai Abang sebagai penampung seluruh isi hatimu."

Jebol sudah pertahananku. Dalam dekapannya, aku menangis. Menumpahkan segala sesak yang tertahan.

Pasanganku memahami dukaku. Dia berusaha menjadi teman, bukan hanya suami. Maka cukuplah bagiku mengerti bahwa itu cinta.

"Maaf, Bang," lirihku.

Dia tak menjawab, hanya mempererat dekapannya.

Filazah Tamimi
Gresik, 22022021

Ratu bodo amat Kerry Dee

Anda lelah ikut berbagai macam kelas, tapi belum bisa menciptakan karya yang layak dibaca? Setelah kelas EMOSI(AN) saya ...
25/09/2024

Anda lelah ikut berbagai macam kelas, tapi belum bisa menciptakan karya yang layak dibaca?

Setelah kelas EMOSI(AN) saya menyediakan kelas merenung. Kenapa harus merenung? Karena tulisan tanpa perenungan akan menghasilkan karya yang buruk.

Isi materi apa aja, Miss?

Diam. Diam. Dan diam. Namanya juga kelas merenung ya, kudu diem. Gitu aja otak gak nyampe!

Yang mau daftar silakan japri. 🙏🏻 (sengaja kasih emot macam itu biar nampak santun).

 Terkait saudari Supriatin  yang tanpa izin mencatut materi kelas Tiga Strata, yaitu Epistolary dan Opening untuk diseba...
23/09/2024



Terkait saudari Supriatin yang tanpa izin mencatut materi kelas Tiga Strata, yaitu Epistolary dan Opening untuk disebarluaskan di ruang publik sebuah komunitas. Saya telah menghubungi pihak saudari Supriatin dan dia telah mengakui kesalahan tersebut. Saya memberikan hukuman skorsing selama beberapa waktu dari semua kegiatan Tiga Strata agar dia bisa benar-benar menyadari kesalahannya. Sayangnya, saudari Supriatin sepertinya tidak tahu bagaimana dunia ini bekerja, khususnya kode etik kepenulisan. Dia tidak menindaklanjuti kesalahan tersebut, baik itu menghubungi pihak terkait (dalam hal ini komunitas tersebut) dan mengatakan ada permasalahan dengan materi yang telah ia bagikan, hingga konten tersebut masih ada dan bisa dilihat oleh semua orang.

Saya sebagai ketua dari Tiga Strata yang memiliki hak cipta atas materi tersebut, berusaha menghubungi PJ terkait untuk menyelesaikan masalah di atas. Sayangnya, saya mendapatkan respon yang kurang baik, dan saudari Supriatin masih belum meminta maaf kepada peserta komunitas tersebut yang telah menerima materi hasil pencurian.

Dengan ini, Tim Tiga Strata yang bermusyawarah cukup lama telah mengambil keputusan tegas, yaitu meng-blacklist saudari Supriatin dari segala kegiatan Tiga Strata untuk selamanya.

Konten terkait yang berisi materi Tiga Strata di aplikasi Tik Tok telah di-takedown, setelah mengalami sedikit drama saling sikut di kolom chat, sedangkan yang sudah tersimpan di komunitas tersebut saya berharap sang pemilik segera mengatasi masalah ini dengan bijaksana. Tapi, hal itu tidak mengubah keputusan Tim Tiga Strata. Keputusan Tim sudah bulat, dan faktor utamanya adalah ketidaktahuan saudari Supriatin tentang kode etik dan bagaimana dunia kepenulisan itu bekerja.

Sekian.

Pengumuman pemenang lomba menulis cerpen Erotika sudah terbit. Silakan check di
20/09/2024

Pengumuman pemenang lomba menulis cerpen Erotika sudah terbit. Silakan check di

Kelas Menulis dan Bahasa

Kepada pemateri dua kelas ini. Saya sudah request membawa kelen ke arah sastra. Apakah saya kudu ganti nama biar nampak ...
30/08/2024

Kepada pemateri dua kelas ini. Saya sudah request membawa kelen ke arah sastra. Apakah saya kudu ganti nama biar nampak nyastra dikit?

Ok, gas! Oke, gas! Oke, gas!

Hadiah bertambah. Banner pun gantilah. Biar lapak gue dan Tiga Strata isinya foto.  Kalo sampe pemenag area Kalimantan, ...
28/08/2024

Hadiah bertambah. Banner pun gantilah. Biar lapak gue dan Tiga Strata isinya foto.

Kalo sampe pemenag area Kalimantan, Sulawesi, or Papua, ntar Mak Hannah mo salaman virtual ma orang yang nyumbang oven listrik.
Welcome to the club. Buang duit banyak untuk ongkir 🤝🤣

Yang males mikir berat, beban idupnya banyak, atau yang sudah memiliki banyak fans jangan ikutan Battle di Tiga Strata. ...
27/08/2024

Yang males mikir berat, beban idupnya banyak, atau yang sudah memiliki banyak fans jangan ikutan Battle di Tiga Strata. Tar kelen ngamuk begitu liat hasil kurasinya. Saya sudah males tawuran. Moso, tiap event hampir selalu nambah musuh. Ih, kek kurang kerjaan aja.

Mewujudkan impian kelen yang ingin menambah beban idup.
26/08/2024

Mewujudkan impian kelen yang ingin menambah beban idup.

Address

Bandung
12250

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Tiga Strata posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share