02/10/2024
Sejenak kita bernostalgia pada event yang mengharuskan sesama penulis saling berbalas.
Sebelum Engkau
Sebelum cahaya
Membinasakan rintik hujan
Engkau akan selalu menjadi embun
Di rimbun dedaun
Sebelum sunyi
Melindapkan malam
Di kesepian paling kelam
Puisimu bertabur gemintang
Sebelum engkau, mencipta Bara
Di dadaku yang berbunga
Cinta 'tlah dulu tiba
Sebelum engkau
Meriakkan cemburu
Rasa telah terlebih dahulu
Menyebut engkau rindu
~~~~~~♡♡♡♡♡~~~~~~
Hati yang Terbuka
Aku sedang membuka jendela kamar, ketika gerimis kembali turun pagi ini. Perlahan. Lama-lama mulai deras. Lebih deras dari hujan semalam. Bukan hanya di luar sana, tapi hujan juga ada di mataku. Bedanya, hujan di luar bisa leluasa tertumpah, sedang di mataku tertahan.
Angin membawa hawa dingin dan tempias masuk ke kamar. Alih-alih menutup kembali jendela, aku malah mendongak sembari memejam, menghidu udara dalam-dalam, berharap kecamuk di dada mereda. Namun, yang kudapati bukan udara segar, melainkan aroma nasi goreng. Tunggu! Nasi goreng?
Kutinggalkan segala pesona hujan demi mencari sumber aroma nasi goreng. Saat memijakkan kaki di dapur, terlihat laki-laki yang menikahiku tiga bulan lalu tengah berdiri di depan kompor. Tangan kirinya memegang sisi penggorengan dan tangan kanan memegang sudip.
"Abang lagi ngapain?" Aku menghampirinya. "Kok nggak manggil Zah? Sini, biar Zah yang lanjutin masak."
"Hari ini kamu harus cobain masakan abang."
"Abang bisa masak?"
Bang Bara menghentikan gerakan tangannya mengaduk nasi dalam penggorengan.
"Abang bahkan bisa masak beberapa menu lainnya, bukan cuma nasi goreng," jawabnya sambil menoleh kepadaku sebentar.
Aku mengangguk-angguk. Sedikit penasaran dengan rasa masakannya. Yang pasti, kuketahui satu hal lagi tentangnya. Selain s**a membaca buku selama tiga puluh menit usai mengerjakan sholat Subuh, dia bisa memasak.
Selanjutnya, dua piring nasi goreng, secangkir kopi untuknya, dan secangkir teh untukku terhidang di meja. Dia menyiapkan semuanya dan melarangku membantu.
"Gimana, enak nggak?" tanyanya begitu aku memasukkan sesendok nasi goreng ke mulut.
Aku tak menjawab, hanya terus mengunyah. Maksudku, aku akan menjawabnya nanti, setelah merasai setiap bumbu yang menyatu dalam nasi goreng buatannya.
"Tolong, kasih penilaian yang jujur, Sayang."
Bang Bara memajukan kursinya, lalu menopang dagu dengan kedua tangan. Dia menatap lekat, membuatku jadi salah tingkah. Padahal, ini bukan pertama kalinya--setelah pernikahan--dia menatapku seperti ini. Namun, rasanya tetap gugup. Kurasakan ada hawa panas yang menjalar di wajah. Sementara kurasakan kebahagiaan meledak dalam dada.
Hingga akhirnya kuberikan penilaianku, agar dia berhenti menatap. Agar detak jantungku kembali normal. Dia tersenyum. Senyuman yang hangat, disertai binar di matanya.
Pagi ini, saat sarapan ini, aku merasa kembali jatuh cinta padanya untuk kesekian kali. Meski, aku tidak tahu pasti, kapan pertama kalinya cinta bersemayam dalam hatiku. Saat-saat perjumpaan secara kebetulan kami, yang anehnya sering terjadi, atau saat dia melamarku secara tidak resmi waktu itu, lamaran yang awalnya kuanggap bercandaan. Entahlah, aku tidak tahu.
Namun, apa Bang Bara juga mencintaiku? Kalau benar, iya. Sepenuh atau setengah hati?
Aku ingin menanyakan secara langsung. Perihal hatinya, perihal buku catatan miliknya yang tak sengaja kutemukan di laci kamarnya, tapi sengaja kubaca karena penasaran. Buku yang berisi segala hal tentang Nisa; sahabatku dan cinta pertama Bang Bara. Tentang kisah cinta dalam diam mereka, yang kuketahui berakhirnya sebab ada orang lain yang mendahului Bang Bara melamar dan menikahi Nisa.
Aku ingin menanyakannya. Sejak kemarin, tadi pagi-pagi buta, pun sekarang. Tapi, sampai nasi goreng dalam piring habis, dan secangkir teh tandas, segala hal yang mengusik benakku itu tak kunjung kukatakan.
Sejujurnya, aku sedikit takut mendengar jawabannya nanti. Aku tidak siap jika ternyata, Nisa bukan sekadar singgah di hatinya, melainkan masih menetap. Aku benar-benar dalam dilema besar.
Sepanjang hari, hingga malam tiba, aku berusaha meyakinkan hati, dengan mengatakan pada diri sendiri: tak apa jika akhirnya terluka akan kenyataan, daripada hati dirundung prasangka dan kegelisahan. Toh, jika cintaku benar, Bang Bara akan merasa, pun menyediakan tempat paling istimewa.
Sesaat, pemikiran itu membuatku merasa tenang dan siap untuk bicara. Hanya sesaat. Karena kenyataannya, aku pura-pura tidur begitu mendengar suara handle pintu diputar.
"Tidur yang nyenyak, Sayang," bisiknya seraya mengecup keningku. "Abang mencintaimu. Abang tau, ada yang mengusik hatimu. Maaf, kalau itu karena Abang. Abang nggak akan maksa kamu cerita. Abang akan menanti dengan sabar, saat-saat kamu merasa nyaman dan mempercayai Abang sebagai penampung seluruh isi hatimu."
Jebol sudah pertahananku. Dalam dekapannya, aku menangis. Menumpahkan segala sesak yang tertahan.
Pasanganku memahami dukaku. Dia berusaha menjadi teman, bukan hanya suami. Maka cukuplah bagiku mengerti bahwa itu cinta.
"Maaf, Bang," lirihku.
Dia tak menjawab, hanya mempererat dekapannya.
Filazah Tamimi
Gresik, 22022021
Ratu bodo amat Kerry Dee