Deva Shastravan Community

Deva Shastravan Community Trainer of Indonesian Horror Authors in Universitas Horor Indonesia (UNIHA)

16/08/2024

Menjadi Apa yang Kita Yakini, Lebih dari Sekadar Pikiran dan Keinginan
Oleh Deva Shastravan

===

Ada saat-saat dalam hidup di mana kita berhenti sejenak, merenungkan siapa diri kita sebenarnya dan apa yang ingin kita capai. Di tengah segala kebingungan itu, ada sebuah kutipan dari Oprah Winfrey yang terasa begitu kuat: "You become what you believe, not what you think or what you want." Mungkin sepintas terlihat sederhana, tapi makna di balik kata-kata itu menyentuh inti dari bagaimana kita menjalani hidup.

Oprah, seorang wanita yang dikenal karena kebijaksanaannya, mengajak kita untuk merenungkan tentang kekuatan dari sebuah keyakinan. Kita semua tentu memiliki pikiran, ide, dan keinginan. Pikiran datang dan pergi, seperti awan yang bergerak di langit. Terkadang, kita memikirkan hal-hal yang besar, ingin mencapai banyak hal, tetapi seringkali semua itu hanya berputar dalam kepala tanpa benar-benar menghasilkan tindakan nyata.

Namun, yang dimaksud Oprah bukan sekadar apa yang kita pikirkan, melainkan apa yang kita yakini. Keyakinan adalah sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang tertanam kuat dalam diri kita, yang secara tak sadar memengaruhi setiap langkah yang kita ambil. Coba kita bayangkan, jika seseorang percaya bahwa mereka tidak layak mendapatkan kesuksesan, maka sekeras apa pun mereka bekerja, selalu ada bayang-bayang keraguan yang menghantui. Seolah ada dinding tak terlihat yang membatasi langkah mereka.

Sebaliknya, jika kita benar-benar percaya bahwa kita bisa, bahwa kita mampu mengatasi tantangan apa pun, keyakinan itu akan menjadi bahan bakar yang mendorong kita terus maju. Ketika kita percaya bahwa kita bisa mencapai sesuatu, kita tidak hanya berpikir tentang hal itu atau menginginkannya, tetapi kita akan bertindak dengan cara yang sesuai dengan keyakinan tersebut. Keyakinan inilah yang membentuk tindakan kita, dan pada akhirnya, siapa kita sebenarnya.

Mari kita ambil contoh sederhana dari kehidupan sehari-hari. Bayangkan seseorang yang bercita-cita menjadi seorang penulis. Mereka mungkin memikirkan betapa menyenangkannya menulis novel yang sukses, atau mereka menginginkan pengakuan dari orang lain sebagai seorang penulis hebat. Tetapi, jika di dalam hati mereka ada keraguan, jika mereka tidak benar-benar percaya bahwa mereka mampu menulis sesuatu yang berharga, maka keinginan dan pikiran itu hanya akan menjadi mimpi yang tidak pernah terwujud.

Sebaliknya, jika orang tersebut benar-benar yakin bahwa mereka bisa menjadi penulis, keyakinan itu akan mengarahkan mereka untuk terus menulis, meskipun menghadapi kritik, meskipun ada saat-saat di mana mereka merasa karya mereka tidak cukup baik. Keyakinan itu akan membuat mereka terus belajar, berlatih, dan mencoba lagi, hingga akhirnya mereka menjadi seorang penulis seperti yang mereka yakini.

Ini mengingatkan kita bahwa keinginan atau pikiran saja tidak cukup. Banyak orang yang punya mimpi besar, tetapi hanya sedikit yang berhasil mewujudkannya. Rahasianya terletak pada keyakinan. Apa yang kita yakini tentang diri kita sendiri adalah fondasi dari apa yang akan kita capai. Keyakinan ini bukan hanya tentang optimisme buta, tetapi tentang sebuah kepercayaan mendalam bahwa kita mampu, bahwa kita layak, dan bahwa kita akan bertindak untuk mencapai tujuan kita.

Penting bagi kita untuk menggali lebih dalam dan bertanya pada diri sendiri: "Apa yang benar-benar saya yakini?" Apakah kita percaya bahwa kita layak bahagia? Apakah kita yakin bahwa kita bisa mencapai impian kita? Jika jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini adalah ya, maka kita sudah memiliki dasar yang kuat untuk membangun masa depan kita.

Keyakinan ini akan membimbing kita, menjadi kompas dalam mengambil keputusan, menghadapi tantangan, dan terus maju meskipun jalan di depan tampak sulit. Dan pada akhirnya, kita akan melihat bahwa hidup kita tidak terbentuk dari apa yang kita pikirkan atau inginkan, tetapi dari apa yang kita yakini dengan sepenuh hati.

Oprah Winfrey, dengan bijaksananya, telah memberikan kita sebuah peta sederhana namun mendalam tentang bagaimana menjalani hidup. Kuncinya ada di dalam diri kita, dalam keyakinan yang kita pegang teguh. Jadi, mulai sekarang, perkuatlah keyakinan kita, karena itulah yang akan menentukan siapa kita dan apa yang akan kita capai. Kita adalah apa yang kita yakini, dan dengan keyakinan yang kuat, kita bisa menjadi versi terbaik dari diri kita.

Saat kita benar-benar mempercayai sesuatu, keyakinan itu menjadi lebih dari sekadar pikiran yang melintas—ia menjadi prinsip yang mengarahkan hidup kita. Ini bukan hal yang terjadi dalam semalam, melainkan sebuah proses yang terus berkembang seiring waktu.

Tidak bisa dipungkiri, hidup ini penuh dengan tantangan. Dari yang kecil, seperti mengatasi rasa malas, hingga yang besar, seperti menghadapi kegagalan besar dalam hidup. Di sini, keyakinan kita benar-benar diuji. Ketika kita yakin bahwa kita bisa bangkit dari kegagalan, bahwa setiap tantangan adalah peluang untuk tumbuh, maka kita akan memiliki keberanian untuk menghadapi segala rintangan.

Bayangkan seorang atlet yang berlatih untuk olimpiade. Mereka tidak hanya berpikir bahwa mereka ingin memenangkan medali emas atau sekadar berharap mereka bisa melakukannya. Mereka meyakini dalam hati bahwa mereka mampu meraih kemenangan. Keyakinan inilah yang membuat mereka bangun setiap pagi untuk berlatih, bahkan saat tubuh mereka lelah atau cedera. Mereka tidak membiarkan rasa takut atau keraguan menguasai diri mereka, karena keyakinan mereka lebih kuat.

Begitu p**a dalam kehidupan kita sehari-hari. Ketika kita yakin bahwa kita bisa mencapai tujuan kita, kita akan menemukan cara untuk melakukannya, tidak peduli seberapa sulitnya jalan yang harus dilalui. Keyakinan ini menjadi seperti jangkar yang menahan kita di tempat saat badai datang. Tanpa keyakinan yang kuat, kita mungkin akan mudah menyerah dan membiarkan angin kencang membawa kita pergi, jauh dari tujuan kita.

Membangun keyakinan bukanlah sesuatu yang terjadi begitu saja. Itu adalah proses yang membutuhkan waktu, usaha, dan kesadaran diri. Salah satu cara untuk membangun keyakinan adalah dengan mulai memperhatikan bagaimana kita berbicara pada diri sendiri. Self-talk, atau dialog internal, memainkan peran besar dalam membentuk keyakinan kita.

Jika kita terus-menerus mengatakan pada diri sendiri bahwa kita tidak cukup baik atau bahwa kita tidak akan pernah berhasil, maka keyakinan negatif ini akan tertanam dalam pikiran kita. Sebaliknya, jika kita mulai mengganti pikiran-pikiran negatif dengan afirmasi positif—seperti, "Saya mampu," "Saya layak," atau "Saya bisa mengatasi ini"—maka lambat laun, keyakinan kita akan berubah menjadi lebih positif.

Penting juga untuk dikelilingi oleh orang-orang yang mendukung kita, yang percaya pada kemampuan kita. Lingkungan yang positif bisa menjadi cermin yang memperkuat keyakinan diri kita. Ketika kita berada di sekitar orang-orang yang juga memiliki keyakinan yang kuat dan mendukung pertumbuhan kita, kita akan lebih mudah membangun keyakinan yang kokoh.

Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa ada kalanya kita merasa ragu, bahkan ketika kita telah berusaha keras untuk membangun keyakinan. Ini adalah bagian dari proses. Yang penting adalah bagaimana kita merespons keraguan tersebut. Alih-alih membiarkan keraguan mengalahkan kita, kita bisa melihatnya sebagai tanda bahwa kita perlu kembali mengevaluasi tujuan kita, memperkuat tekad, dan terus bergerak maju.

Kunci dari quote Oprah Winfrey adalah bahwa keyakinan kita harus tercermin dalam tindakan nyata. Ini bukan hanya tentang berpikir positif atau berharap sesuatu terjadi, tetapi tentang mengambil langkah konkret untuk mewujudkan apa yang kita yakini. Keyakinan yang kuat akan memotivasi kita untuk bertindak, dan tindakan ini akan memperkuat keyakinan kita, menciptakan lingkaran positif yang terus berkembang.

Misalnya, jika kita percaya bahwa kita bisa belajar keterampilan baru, kita tidak hanya akan berpikir tentang hal itu atau berharap menjadi lebih baik. Kita akan mendaftar kursus, berlatih setiap hari, dan terus belajar meskipun menghadapi kesulitan. Setiap langkah kecil yang kita ambil memperkuat keyakinan kita dan membawa kita lebih dekat ke tujuan kita.

Ini juga berarti bahwa kita harus siap untuk gagal dan belajar dari kegagalan tersebut. Keyakinan bukan tentang menghindari kesalahan, tetapi tentang memiliki keberanian untuk terus mencoba, belajar dari setiap kegagalan, dan bangkit kembali. Dengan cara ini, keyakinan kita menjadi lebih kuat dan tahan terhadap cobaan.

Pada akhirnya, apa yang Oprah sampaikan adalah bahwa hidup kita dibentuk oleh keyakinan yang kita pegang. Apa yang kita yakini tentang diri kita akan menentukan siapa kita nantinya. Jika kita yakin bahwa kita bisa mencapai hal-hal besar, kita akan menemukan cara untuk melakukannya, meskipun jalan itu penuh dengan rintangan.

Kita semua memiliki potensi untuk menjadi versi terbaik dari diri kita. Namun, untuk mencapainya, kita harus mulai dengan keyakinan. Bukan sekadar berpikir atau menginginkan sesuatu, tetapi benar-benar percaya bahwa kita mampu mencapainya. Keyakinan ini akan membimbing kita melalui setiap keputusan, setiap tantangan, dan setiap keberhasilan yang kita raih.

Dengan membangun dan menjaga keyakinan yang positif, kita tidak hanya akan menjadi apa yang kita yakini, tetapi juga akan menjalani hidup yang penuh makna dan tujuan. Dan ketika kita mencapai hal-hal besar, kita bisa melihat kembali dan menyadari bahwa semua itu dimulai dengan keyakinan kecil di dalam hati kita—keyakinan bahwa kita bisa, bahwa kita mampu, dan bahwa kita layak untuk meraih impian kita.

19/07/2024

Mencari Ide dari Mana Saja
Oleh: Deva Shastravan

Menulis bisa terasa sangat mudah, selama kita punya ide yang ingin dituliskan. Seperti yang sering saya katakan, "menulis itu mudah, asalkan ada ide untuk dituliskan, dan ide bisa didapatkan dari mana saja." Artinya, kunci menulis terletak pada menemukan ide yang bagus.

Namun, mencari ide itu sendiri bisa menjadi tantangan. Ide tidak selalu muncul begitu saja. Kadang, kita harus mencarinya dengan usaha yang lebih keras. Tapi jangan khawatir, karena sebenarnya ide bisa kita temukan di banyak tempat.

Cobalah memperhatikan hal-hal di sekitar kita. Mengamati kejadian sehari-hari, mendengarkan cerita dari teman, membaca buku atau artikel, bahkan merenungkan pengalaman pribadi kita. Semua itu bisa menjadi sumber ide yang bagus.

Selain itu, memperluas pengalaman juga sangat membantu. Mengunjungi tempat baru, mengikuti acara budaya, atau mencoba hobi baru bisa membuka pikiran kita dan memberikan inspirasi. Semakin banyak pengalaman yang kita dapatkan, semakin banyak p**a ide yang bisa kita temukan.

Menulis juga melibatkan imajinasi dan kreativitas. Kadang-kadang, menggabungkan ide-ide yang tampaknya tidak berhubungan bisa menghasilkan sesuatu yang menarik. Ide-ide terbaik sering kali muncul dari kombinasi yang tidak terduga.

Setiap orang punya cara berbeda untuk menemukan ide. Yang penting adalah kita tetap merasa ingin tahu, peduli pada hal-hal di sekitar kita, dan selalu siap belajar. Dengan begitu, menulis tidak lagi menjadi tugas yang sulit, melainkan sebuah petualangan yang menyenangkan.

Jadi, menulis memang bisa terasa mudah jika kita punya ide yang bagus. Dan ide-ide itu bisa kita temukan di mana saja, asal kita mau membuka mata dan hati. Yuk Menulis!

Bandung, 20 Juli 2024

The Guardians of The Dark Halls003. Misteri Rumah KosongOleh: Deva Shastravan***Malam itu, bulan bersinar redup di langi...
17/07/2024

The Guardians of The Dark Halls
003. Misteri Rumah Kosong
Oleh: Deva Shastravan

***

Malam itu, bulan bersinar redup di langit yang kelam, menjadi malam yang berbeda, tak seperti malam-malam biasanya, menambah kesan misteri pada Desa Sumber Angker.

Entah siapa yang pada awal mulanya menami desa tersebut dengan nama yang sedemikian aneh, namun tak dipungkiri kalau nama yang disematkan pada Desa Sumber Angker, bisa jadi ada kaitannya dengan sebuah bangunan tua, yakni sebuah rumah kosong di pinggir desa yang konon banyak dihuni oleh makluk-makhluk gaib dan roh jahat. Alasan itu p**a yang akhirnya membuat tiga sahabat yang menamai diri mereka Para Penjaga Aula Kegelapan (The Guardians of The Dark Halls) yang mendengar cerita ini, yaitu Reza, Bakri, dan Vieta memutuskan untuk menyelidikinya, sekali pun tanpa ada yang memintanya.

Setibanya mereka di desa, mereka disambut oleh kepala desa, Pak Karta namanya, beliau yang tampak begitu cemas. "Saya sangat senang dengan kedatangan kalian bertiga, sebenarnya sudah lama saya mendengar tentang kalian dan ingin mengundang kalian ke desa ini, tetapi baik saya maupun warga desa tak ada yang tahu di mana tempat tinggal kalian.”

“Sudahlah, Pak Karta. Toh kini kami bertiga sudah berada di desa ini, sekarang sebaiknya langsung saja bapak ceritakan tentang rumah atau bangunan tua tersebut, agar secepatnya kami bisa mengambil tindakan,” kata Reza.
...

===

Baca selengkapnya hanya di Opinia dan gratis. Link ada di kolom komentar.

16/07/2024

"Menulis novel adalah menjelajahi dunia yang baru, di dalam dan di luar." - Deva Shastravan

05/06/2024

"Tugas penulis horor adalah menemukan kegelapan di sudut paling terang sekalipun."

Deva Shastravan

13/11/2022

SEWU GENI returns
Episode : Persiapan Ritual
By Deva Shastravan

===

Tak banyak perbincangan yang terjadi antara Wongso dengan Deva hari itu, karena Deva ingat bahwa dia harus kembali ke rumah Juragan Diran setelah sebelumnya dia berhasil mendamaikan antara Juragan Sungkono dengan Darsono yang terlibat perselisihan, hanya karena kedua anak mereka saling mencintai.

Sebenarnya masih ada satu masalah lagi yang ingin Deva selesaikan, yaitu tentang Mandor yang congkak dan angkuh itu.

Jiwa Deva yang selama ini tidak pernah menerima jika ada ketidakadilan di depan matanya, terasa bergolak ketika dia tahu dan melihat sendiri anak buah sang Mandor yang dibuat babak belur oleh Mandor.

Akan tetapi setibanya Deva di rumah, malam harinya dia berbincang dengan Juragan Diran yang lantas mengatakan kalau dia sudah memberi pelajaran kepada Mandor tersebut, dan menurut penuturan Juragan Diran sendiri bahwa Mandor itu kini telah berjanji tidak akan lagi bersikap semena-mena kepada anak buahnya.

Deva pun tidak bertanya lebih lanjut, pelajaran bagaimana yang diberikan oleh Juragan Diran kepada Mandor itu. Apakah antara Juragan Diran terjadi perkelahian? Ataukah justru hanya sekedar dinasehati saja?

Deva dan Juragan Diran berbincang di ruangan tamu. Sesekali Silvia melintas, seakan sengaja untuk mencari perhatian Deva. Namun Deva seakan-akan bersikap cuek dan tetap fokus berbincang dengan majikannya.
...

Sudah up di grub. Yang minat gabung klik link di atas, dan jawab pertanyaannya.

KOPI LITERASIEPISODE 002. Membaca sebagai Kewajiban PertamaBy Deva Shastravan===Minggu yang cerah, seduhlah secanggir ko...
20/06/2021

KOPI LITERASI
EPISODE 002. Membaca sebagai Kewajiban Pertama
By Deva Shastravan

===

Minggu yang cerah, seduhlah secanggir kopi yang aromanya bisa hilangkan resah, lalu kita berbincang lagi di sini dengan santai.

Bicara tentang literasi, buku dan peradaban. Dalam bahasa ringan yang tak sampai membuat kepala terpecah jadi kepingan.

===

Saya berharap dan benar-benar menekankan, kita akan berbincang sesuatu yang ringan tapi bisa meresap di kedalaman hati dan pikiran, lalu kamu melakukan, tanpa beban.

Artinya, jika kemarin saya bicara tentang menulis maka harapannya kamu sudah mulai mencicil menulis, karena kalau tulisan-tulisanku tentang kopi literasi ini hanya menjadi bacaan kala senggang, tentu tak ada buah yang dapat diharapkan.

Buahnya, seratus persen untukmu, tak usah berpikir untuk berbagi denganku.

Baik, saya berandai-andai saja, kamu telah mulai menulis, dan kamu mulai mengeluh, tulisanku kok begini dan begitu?

Ya ya ... sabar. Setidaknya itu sebuah langkah pertama dari ribuan mil yang akan kamu lintasi mengarungi samudra literasi.

Ibarat pejuang, kamu butuh amunisi, sebuah perjalanan panjang memerlukan bekal dan untuk menjadi penulis sangat-sangat pasti membutuhkan bahan untuk ditulis.

Kini satu lagi yang akan kita obrolkan yaitu tentang betapa pentingnya membaca.

Kisah berikut ini hanyalah sekedar kilas balik saja tentang saya.

Saat kelas 4 SD saya sudah mulai mengenal Perpusda Lampung, kegilaan saya pada buku sebenarnya sudah terlihat bahkan sejak saya belum mengerti baca tulis. Maka setelah pandai baca tulis, mengenal Perpusda tentu saja bagai meneemukan taman bermain tang teramat indah.

Saya menjadi anggotanya, sampai lulus SMP. Setiap harinya saya meminjam dua buku, walaupun batas pengembalian adalah seminggu, tetapi kadang dua tiga hari saya sudah mengembalikan buku yang saya pinjam untuk kemudian meminjam lagi.

Enam tahun saya menjadi anggota Perpusda.

Tiga tahun pertama sebagai siswa SD saya hanya diizinkan berada di ruang anak, maka buku-buku komik beraneka judul dan buku-buku dongeng serta novel-novel anak menjadi sasaran bacaan saya kala itu.

Hal serupa juga berlangsung di SD, di mana buku-buku cerita di perpustakaan SD terbitan Depdiknas menjadi santapan paling lezat yang mengenyangkan rasa lapar saya akan bahan bacaan.

Tiga Tahun berikutnya, saat duduk di bangku SMP saya mulai diizinkan berada di ruangan untuk umum di Perpusda Lampung, kegilaan saya pada buku pun semakin menjadi-jadi.

Maka buku-buku Novel tebal karangan Agatha Christie, John Grisham, S Mara Gd, Arthur Conan Doyle dll jadi hiburan saya yang berat tapi mengasikkan.

Sedangkan yang agak ringan seperti Lima Sekawan, Trio Detektif, maupun STOP (Sporty, Thomas, Oscar dan Petra) sudah lebih dulu saya baca habis.

Adapun untuk buku-buku non-fiksi saya saat itu lebih tertarik pada buku-buku bertema pengembangan diri, motivasi, psikologi dll.

Itulah sedikit perjalanan saya mengenal dunia buku, terjun sedalam mungkin ke dalamnya.

Jadi diri saya yang sekarang, jika dilihat dalam karya-karya yang saya tulis baik berupa cerpen, puisi, artikel maupun Novel atau cerita bersambung, sudah pasti masa-masa enam tahun itu berpengaruh besar pada perkembangan saya dalam menulis.

Adapun masa-masa setelah enam tahun dengan Perpusda Lampung, bukan berarti saya berhenti membaca, tetapi saya lebih banyak waktu yang saya habiskan di Gramedia.

Jika memiliki uang lebih, atau setelah gajian, selalu saya sisihkan untuk membeli sebuah buku, tema apapun itu, baik fiksi maupun non-fiksi yang saya s**ai.

Kalau saja semua buku-buku yang saya beli itu masih ada, tentulah saya akan butuh banyak rak untuk menyimpannya, namun semua buku itu habis dipinjam tanpa pernah dikembalikan. Entah hilang atau memang sengaja tak dip**angkan.

Fase berubah, era Hp Nokia, saya banyak membaca ebook yang saya download dari Google, formatnya biasanya Prc, denga hape nokia 7610.

Beralih ke jaman Blackberry, mulai mengenal ebook pdf.

Hingga kini di jaman Android, saya masih gemar membaca, baik di blog-blog, aplikasi ebook atau sengaja mendownload ebook dalam beraneka format.

Tentu saja, saya tidak akan mengajakmu untuk segila saya dalam mencintai buku dan hobby dalam membaca, tetapi point penting di sini yang akan saya tekankan adalah seorang penulis itu sangat-sangat butuh akan bahan bacaan.

Bahkan andai kamu bukan seseorang yang hendak berprofesi menjadi Penulis, jika kamu muslim, bukankah kamu tahu bahwa sangat jelas perintah pertama yang diminta Allah kepada hamba-Nya adalah Iqra’ : Bacalah!

Jadikan membaca sebagai kebiasaanmu, selalu sisihkan waktu dalam sehari untuk membaca.

Yaah .... semampunya saja, yang pasti, pastikan bahwa hari ini ada pegetahuan baru yang kamu dapat dari apa yang kamu baca.

Sebuah ungkapan lawas, “Buku adalah Jendela Dunia.” Rasanya ungkapan itu masih sangat relevan di jaman yang serba digital ini.

Satu buku motivasi yang kamu baca, akan membakar semangatmu untuk berbuat sesuatu.

Satu buku Pengembangan diri yang kamu baca, akan semakin mematangkan dan mendewasakanmu.

Satu buku biografi, akan menambah wawasanmu dan mengambil banyak hikmah dari seorang tokoh, pengalamannya seumur hidup dapat kamu serap hanya dalam waktu beberapa jam membaca biografinya, edan sekali bukan?

Bahkan sebuah cerpen, puisi, juga novel yang kamu baca, akan melembutkan jiwamu, memperkaya pengalaman dan wawasanmu, juga menjadi inspirasi untuk cerita-ceritamu (Jika kamu ingin menulis novel juga) selain tentu saja sebuah novel yang bagus akan memberimu sebuah hiburan yang menguras emosi.

So, saya tidak mau berpanjang-panjang kata.

Intinya, s**a nggak s**a, mau jadi Penulis atau tidak, jadikan membaca menjadi bagian dari habbitmu.

Karena sebuah buku, andai diibaratkan cahaya, sekali kamu membacanya, maka seumur hidup dia akan menerangimu dengan pengetahuannya.

Bahkan artikel kecil ini yang gak penting-penting amat sih, yang hanya sebagai teman kopimu di pagi hari, tetap saja saya harapkan ada sesuatu yang membekas. Syukur-syukur membakar dan menggelorakan semangatmu untuk mulai membaca.

Akhirnya, selamat ber-aktifitas untuk hari ini, kita akan jumpa lagi dalam obrolan santai literasi dengan tema-tema ringan lainnya.

Salam Kopi Literasi

===

KOPI LITERASIEPISODE 001. Tuliskan SajaBy Deva Shastravan===Sabtu pagi, dengan segelas kopi yang ada di hadapan saya, sa...
19/06/2021

KOPI LITERASI
EPISODE 001. Tuliskan Saja
By Deva Shastravan

===

Sabtu pagi, dengan segelas kopi yang ada di hadapan saya, saya ingin berbagi sesuatu, sesuatu yang menyemangati, sesuatu yang menginspirasi. Layaknya sebuah racikan secangkir kopi, dibuat dengan beraneka bahan dan cara penyajian, hakikatnya kopi ya tetaplah kopi. Sumber semangat pagi untuk mulai beraktivitas melewati hari.

Jadi, sudahkah kamu menyeduh secangkir atau segelas kopi sebelum membaca artikel kecil ini? Kalau belum taruh smartphonemu, tinggalkan layar komputer atau laptopmu, buatlah secangkir kopi dengan hati riang, kita akan bincang-bincang sejenak dengan ditemani kopi yang hangat.

Sesuai dengan tema inti dari artikel-artikel saya, terhitung dari artikel pertama ini, bahwa kita akan bicara tentang literasi, tentang dunia buku, dunia fiksi, dunia imajinasi. Dunia tulis menulis yang sarat akan ilmu dan informasi, namun di kemas dengan simple saja.

Tidak menggunakan bahasa yang njelimet, karena saya memang bukan pakarnya, tidak berbelit-belit karena hidup saja sudah penuh dengan hal-hal rumit, jadi bacalah artikel ini tanpa harus mengerutkan kening, semoga tulisan saya tidak membuatmu tambah pening.

Nah, yang akan kita bicarakan kali ini adalah sesuatu yang mendasar sekali dari dunia kepenulisan, yaitu tentang bagaimana caranya menulis.

Banyak penulis yang sudah punya nama besar di jagad literasi, saat ditanyakan bagaimana caranya menulis? Maka jawabannya adalah : tuliskan saja.

Ya, tuliskan saja apa yang akan kamu tuliskan, karena bagaimana seseorang akan mempunyai karya tulis, baik fiksi maupun non fiksi kalau hanya sekedar dipikirkan dalam angan semata.

Ambil kertas dan pena lalu tuliskan, atau di smartphone, laptop, komputer lantas ketikkan.

Apa yang harus ditulis? Lha ... ya jangan tanya, kamu sendiri maunya nulis tentang apa?

Mau nulis artikel? Ya tulislah sebuah artikel.

Mau nulis cerpen? Ya mulai tuliskan paragraph pertamamu.

Menulis itu pada dasarnya simpel kok, hanya tinggal menulis saja.

Terus, bagaimana soal tata bahasa? PUEBI? KBBI?

Itu sudah beda lagi urusannya, karena yang terpenting dari menulis adalah ya menulis itu sendiri.

Kalau tulisanmu sudah kelar, entah itu mencapai seribu kata, lima ribu kata, atau bahkan sepuluh ribu kata, barulah pertanyaan soal KBBI, PUEBI dan tata bahasa itu dipertanyakan.

Saat ini kamu nggak perlu memiliki buku tebal tentang KBBI dan PUEBI, karena sudah tersedia dalam bentuk ebook maupun aplikasi di smarphone. Kamu tinggal unduh dan mulai mempelajarinya, di youtube juga banyak tutorial belajar PUEBI. Kamu bisa menontonnya dan mempraktekkannya.

Jadi maksud saya adalah tetaplah menulis sambil belajar PUEBI-nya.

Lantas apa manfaatnya menulis itu sendiri, kalau ternyata kamu belum menguasai materi PUEBI?

Menulis itu adalah kebiasaan, dan kebiasaan tentu saja perlu dibiasakan, dan untuk memulai sesuatu pasti akan menemui kes**aran, itu hal yang lumrah dan sangat bisa dimaklumi.

Bukankah kamu sudah terbiasa mengetikkan pesan chat di whatsapp? Menulis status di Twitter dan Facebook? Lalu apa bedanya?

Bedanya adalah, dari kuantitasnya saja. Kalau pesan whatsapp, status Twitter dan Facebook mungkin hanya memakan tidak lebih dari puluhan kata, kini kamu hanya mulai menulisnya jadi ratusan atau ribuan kata, menulis sesuatu yang memiliki tujuan, tak peduli seremeh apa pun tujuanmu dalam menulis.

Nah, untuk tahap awal sebagai pembelajaran, kamu bisa mulai menulis di buku harian atau diary, menuliskan apa yang kamu telah lakukan selama seharian ini, siapa saja yang sudah kamu temui, apa saja yang kamu perbincangkan, atau bisa juga menulis sebagai ajang curhat, menuliskan perasaan senang tentang sesuatu atau perasaan kebencian dengan sesuatu.

Menulis diary sebenarnya bisa diartikan juga sedang menabung data, diarymu akan jadi sebuah bank data yang entah kapan nanti bisa saja menjadi sumber inspirasi bagi tulisan-tulisanmu yang lebih serius dan diniatkan untuk dipublish dan dibaca oleh publik.

Dengan terbiasa menulis kamu sama saja membentuk otot-otot menulis, sehingga kamu nantinya akan memiliki daya tahan untuk menulis banyak, duduk berjam-jam menulis sesuatu yang mengasyikkanmu.

Menulis akan menjadi kebiasaan, menjadi sebuah rutinitas harian yang biasa saja bagimu, bahkan akan tiba nanti ketika kamu mulai merasa bahwa menulis menjadi sebuah kebutuhan.

Jadi tidak ada cara instan untuk menjadi penulis dengan gaya tulisan yang bagus dan memukau banyak orang, semua berawal dari menulis apa adanya. Bagaimana mungkin kita akan tahu kesalahan-kesalahan tulisan kita kalau kita sendiri tak pernah menuliskannya?

Saya sangat berharap tulisan saya yang singkat tentang menulis ini bisa meninggalkan sebuah kesadaran akan arti pentingnya menulis, apalagi jika kamu memang memiliki niat untuk menjadi seorang penulis.

Menulislah dengan hati yang riang, menulislah dengan perasaan lapang, menulislah dengan tanpa merasa terbeban, menulislah tanpa ada tekanan, menulislah dengan santai.

Menulislah dari hati, membiasakan diri untuk jujur, menulis apa adanya, tidak mendramatisir apalagi memutar balikkan isi tulisan dari fakta yang ada.

Menulis dapat menjadi sebuah terapi yang bagus untuk kesehatan, menuliskan unek-unek kekesalan yang sedang dirasakan, justru akan membuatmu bisa melihat dengan jelas apa yang sedang membuatmu kesal, dibandingkan jika kamu hanya memendamnya saja di dalam hati, atau kamu ceritakan pada seseorang yang nyatanya tak ada jaminan ceritamu akan tetap jadi rahasia di tangan seseorang itu.

Perjalanan ribuan mil sekalipun sudah pasti akan dimulai dengan langkah pertama. Jadi mulailah melangkah, tuliskan sebuah kalimat, tulislah satu paragraph.

Ketika menulis sudah menjadi karakter dan habbit dalam dirimu, selanjutnya mudah saja, sedikit imajinasi liarmu yang kamu tuliskan bisa saja akan mewujud jadi sebuah cerpen, sebuah novel, atau seperti artikel ini, ya, seperti artikel kecil yang sedang kamu baca ini, saya bisa menulis sejauh ini tanpa beban karena menulis memang sudah menjadi karakter dan habbit saya.

Jadi masih bisakah diterima alasan seseorang yang ingin menjadi penulis, jika dia beralasan, "Saya tidak bisa menulis." atau "Saya tidak tahu cara menulis." Karena kalimat seperti itu akan menjadi dinding kokoh yang menghalangi keinginan besarmu menjadi seorang penulis.

Jika sudah mulai sedikit demi sedikit kamu memahami PUEBI, maka mulailah menulis, lalu biasakan mengeditnya sebelum publish, karena bagaimana pun bagusnya isi sebuah tulisan kalau tulisannya kacau, tak sesuai PUEBI, ya pastinya bikin sakit mata yang membaca tulisanmu juga.

Mulai hari ini menulislah, sedikit demi sedikit, menuliskan apa pun, kapan pun dan di mana pun, selama kamu punya kesempatan untuk menulis.

Nanti akan kamu rasakan sendiri perbedaannya, ketika dulu saat kamu berpikir menulis itu susah, dengan kini setelah kamu terbiasa menulis hingga menjadi karakkter dan Habbitmu.

Bagaimana bedanya? Ya saya memang tahu, tapi tak bisa saya tuliskan, karena ini tentang rasa, jadi kamu sendiri harus ikut merasakan.

Lebih baik saya buatkan secangkir kopi manis buatmu, lalu kamu meminumnya, daripada saya menulis panjang lebar tentang bagaimana nikmatnya sebuah kopi.

Finally.

Selamat ber-aktivitas, selamat menulis. Kita jumpa lagi esok dengan kopi-kopi literasi hangat lainnya yang akan memberi kesegaran baru buatmu, juga saya, tentu saja ... Sebagai penulis.

===

Keesokan harinya jenazah Dewi dikuburkan, namun siapa sangka jika malam sebelumnya Hantu Dewi mulai gentayangan di Desa ...
23/07/2020

Keesokan harinya jenazah Dewi dikuburkan, namun siapa sangka jika malam sebelumnya Hantu Dewi mulai gentayangan di Desa Medasari.

Sebuah kilas balik di tahun 1993, kisah cinta seorang pemuda bernama Sukirman, yang kebahagiaan cintanya ternyata tak be...
23/07/2020

Sebuah kilas balik di tahun 1993, kisah cinta seorang pemuda bernama Sukirman, yang kebahagiaan cintanya ternyata tak berlangsung lama ....

Address

Bandar

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Deva Shastravan Community posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share