16/08/2024
Menjadi Apa yang Kita Yakini, Lebih dari Sekadar Pikiran dan Keinginan
Oleh Deva Shastravan
===
Ada saat-saat dalam hidup di mana kita berhenti sejenak, merenungkan siapa diri kita sebenarnya dan apa yang ingin kita capai. Di tengah segala kebingungan itu, ada sebuah kutipan dari Oprah Winfrey yang terasa begitu kuat: "You become what you believe, not what you think or what you want." Mungkin sepintas terlihat sederhana, tapi makna di balik kata-kata itu menyentuh inti dari bagaimana kita menjalani hidup.
Oprah, seorang wanita yang dikenal karena kebijaksanaannya, mengajak kita untuk merenungkan tentang kekuatan dari sebuah keyakinan. Kita semua tentu memiliki pikiran, ide, dan keinginan. Pikiran datang dan pergi, seperti awan yang bergerak di langit. Terkadang, kita memikirkan hal-hal yang besar, ingin mencapai banyak hal, tetapi seringkali semua itu hanya berputar dalam kepala tanpa benar-benar menghasilkan tindakan nyata.
Namun, yang dimaksud Oprah bukan sekadar apa yang kita pikirkan, melainkan apa yang kita yakini. Keyakinan adalah sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang tertanam kuat dalam diri kita, yang secara tak sadar memengaruhi setiap langkah yang kita ambil. Coba kita bayangkan, jika seseorang percaya bahwa mereka tidak layak mendapatkan kesuksesan, maka sekeras apa pun mereka bekerja, selalu ada bayang-bayang keraguan yang menghantui. Seolah ada dinding tak terlihat yang membatasi langkah mereka.
Sebaliknya, jika kita benar-benar percaya bahwa kita bisa, bahwa kita mampu mengatasi tantangan apa pun, keyakinan itu akan menjadi bahan bakar yang mendorong kita terus maju. Ketika kita percaya bahwa kita bisa mencapai sesuatu, kita tidak hanya berpikir tentang hal itu atau menginginkannya, tetapi kita akan bertindak dengan cara yang sesuai dengan keyakinan tersebut. Keyakinan inilah yang membentuk tindakan kita, dan pada akhirnya, siapa kita sebenarnya.
Mari kita ambil contoh sederhana dari kehidupan sehari-hari. Bayangkan seseorang yang bercita-cita menjadi seorang penulis. Mereka mungkin memikirkan betapa menyenangkannya menulis novel yang sukses, atau mereka menginginkan pengakuan dari orang lain sebagai seorang penulis hebat. Tetapi, jika di dalam hati mereka ada keraguan, jika mereka tidak benar-benar percaya bahwa mereka mampu menulis sesuatu yang berharga, maka keinginan dan pikiran itu hanya akan menjadi mimpi yang tidak pernah terwujud.
Sebaliknya, jika orang tersebut benar-benar yakin bahwa mereka bisa menjadi penulis, keyakinan itu akan mengarahkan mereka untuk terus menulis, meskipun menghadapi kritik, meskipun ada saat-saat di mana mereka merasa karya mereka tidak cukup baik. Keyakinan itu akan membuat mereka terus belajar, berlatih, dan mencoba lagi, hingga akhirnya mereka menjadi seorang penulis seperti yang mereka yakini.
Ini mengingatkan kita bahwa keinginan atau pikiran saja tidak cukup. Banyak orang yang punya mimpi besar, tetapi hanya sedikit yang berhasil mewujudkannya. Rahasianya terletak pada keyakinan. Apa yang kita yakini tentang diri kita sendiri adalah fondasi dari apa yang akan kita capai. Keyakinan ini bukan hanya tentang optimisme buta, tetapi tentang sebuah kepercayaan mendalam bahwa kita mampu, bahwa kita layak, dan bahwa kita akan bertindak untuk mencapai tujuan kita.
Penting bagi kita untuk menggali lebih dalam dan bertanya pada diri sendiri: "Apa yang benar-benar saya yakini?" Apakah kita percaya bahwa kita layak bahagia? Apakah kita yakin bahwa kita bisa mencapai impian kita? Jika jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini adalah ya, maka kita sudah memiliki dasar yang kuat untuk membangun masa depan kita.
Keyakinan ini akan membimbing kita, menjadi kompas dalam mengambil keputusan, menghadapi tantangan, dan terus maju meskipun jalan di depan tampak sulit. Dan pada akhirnya, kita akan melihat bahwa hidup kita tidak terbentuk dari apa yang kita pikirkan atau inginkan, tetapi dari apa yang kita yakini dengan sepenuh hati.
Oprah Winfrey, dengan bijaksananya, telah memberikan kita sebuah peta sederhana namun mendalam tentang bagaimana menjalani hidup. Kuncinya ada di dalam diri kita, dalam keyakinan yang kita pegang teguh. Jadi, mulai sekarang, perkuatlah keyakinan kita, karena itulah yang akan menentukan siapa kita dan apa yang akan kita capai. Kita adalah apa yang kita yakini, dan dengan keyakinan yang kuat, kita bisa menjadi versi terbaik dari diri kita.
Saat kita benar-benar mempercayai sesuatu, keyakinan itu menjadi lebih dari sekadar pikiran yang melintas—ia menjadi prinsip yang mengarahkan hidup kita. Ini bukan hal yang terjadi dalam semalam, melainkan sebuah proses yang terus berkembang seiring waktu.
Tidak bisa dipungkiri, hidup ini penuh dengan tantangan. Dari yang kecil, seperti mengatasi rasa malas, hingga yang besar, seperti menghadapi kegagalan besar dalam hidup. Di sini, keyakinan kita benar-benar diuji. Ketika kita yakin bahwa kita bisa bangkit dari kegagalan, bahwa setiap tantangan adalah peluang untuk tumbuh, maka kita akan memiliki keberanian untuk menghadapi segala rintangan.
Bayangkan seorang atlet yang berlatih untuk olimpiade. Mereka tidak hanya berpikir bahwa mereka ingin memenangkan medali emas atau sekadar berharap mereka bisa melakukannya. Mereka meyakini dalam hati bahwa mereka mampu meraih kemenangan. Keyakinan inilah yang membuat mereka bangun setiap pagi untuk berlatih, bahkan saat tubuh mereka lelah atau cedera. Mereka tidak membiarkan rasa takut atau keraguan menguasai diri mereka, karena keyakinan mereka lebih kuat.
Begitu p**a dalam kehidupan kita sehari-hari. Ketika kita yakin bahwa kita bisa mencapai tujuan kita, kita akan menemukan cara untuk melakukannya, tidak peduli seberapa sulitnya jalan yang harus dilalui. Keyakinan ini menjadi seperti jangkar yang menahan kita di tempat saat badai datang. Tanpa keyakinan yang kuat, kita mungkin akan mudah menyerah dan membiarkan angin kencang membawa kita pergi, jauh dari tujuan kita.
Membangun keyakinan bukanlah sesuatu yang terjadi begitu saja. Itu adalah proses yang membutuhkan waktu, usaha, dan kesadaran diri. Salah satu cara untuk membangun keyakinan adalah dengan mulai memperhatikan bagaimana kita berbicara pada diri sendiri. Self-talk, atau dialog internal, memainkan peran besar dalam membentuk keyakinan kita.
Jika kita terus-menerus mengatakan pada diri sendiri bahwa kita tidak cukup baik atau bahwa kita tidak akan pernah berhasil, maka keyakinan negatif ini akan tertanam dalam pikiran kita. Sebaliknya, jika kita mulai mengganti pikiran-pikiran negatif dengan afirmasi positif—seperti, "Saya mampu," "Saya layak," atau "Saya bisa mengatasi ini"—maka lambat laun, keyakinan kita akan berubah menjadi lebih positif.
Penting juga untuk dikelilingi oleh orang-orang yang mendukung kita, yang percaya pada kemampuan kita. Lingkungan yang positif bisa menjadi cermin yang memperkuat keyakinan diri kita. Ketika kita berada di sekitar orang-orang yang juga memiliki keyakinan yang kuat dan mendukung pertumbuhan kita, kita akan lebih mudah membangun keyakinan yang kokoh.
Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa ada kalanya kita merasa ragu, bahkan ketika kita telah berusaha keras untuk membangun keyakinan. Ini adalah bagian dari proses. Yang penting adalah bagaimana kita merespons keraguan tersebut. Alih-alih membiarkan keraguan mengalahkan kita, kita bisa melihatnya sebagai tanda bahwa kita perlu kembali mengevaluasi tujuan kita, memperkuat tekad, dan terus bergerak maju.
Kunci dari quote Oprah Winfrey adalah bahwa keyakinan kita harus tercermin dalam tindakan nyata. Ini bukan hanya tentang berpikir positif atau berharap sesuatu terjadi, tetapi tentang mengambil langkah konkret untuk mewujudkan apa yang kita yakini. Keyakinan yang kuat akan memotivasi kita untuk bertindak, dan tindakan ini akan memperkuat keyakinan kita, menciptakan lingkaran positif yang terus berkembang.
Misalnya, jika kita percaya bahwa kita bisa belajar keterampilan baru, kita tidak hanya akan berpikir tentang hal itu atau berharap menjadi lebih baik. Kita akan mendaftar kursus, berlatih setiap hari, dan terus belajar meskipun menghadapi kesulitan. Setiap langkah kecil yang kita ambil memperkuat keyakinan kita dan membawa kita lebih dekat ke tujuan kita.
Ini juga berarti bahwa kita harus siap untuk gagal dan belajar dari kegagalan tersebut. Keyakinan bukan tentang menghindari kesalahan, tetapi tentang memiliki keberanian untuk terus mencoba, belajar dari setiap kegagalan, dan bangkit kembali. Dengan cara ini, keyakinan kita menjadi lebih kuat dan tahan terhadap cobaan.
Pada akhirnya, apa yang Oprah sampaikan adalah bahwa hidup kita dibentuk oleh keyakinan yang kita pegang. Apa yang kita yakini tentang diri kita akan menentukan siapa kita nantinya. Jika kita yakin bahwa kita bisa mencapai hal-hal besar, kita akan menemukan cara untuk melakukannya, meskipun jalan itu penuh dengan rintangan.
Kita semua memiliki potensi untuk menjadi versi terbaik dari diri kita. Namun, untuk mencapainya, kita harus mulai dengan keyakinan. Bukan sekadar berpikir atau menginginkan sesuatu, tetapi benar-benar percaya bahwa kita mampu mencapainya. Keyakinan ini akan membimbing kita melalui setiap keputusan, setiap tantangan, dan setiap keberhasilan yang kita raih.
Dengan membangun dan menjaga keyakinan yang positif, kita tidak hanya akan menjadi apa yang kita yakini, tetapi juga akan menjalani hidup yang penuh makna dan tujuan. Dan ketika kita mencapai hal-hal besar, kita bisa melihat kembali dan menyadari bahwa semua itu dimulai dengan keyakinan kecil di dalam hati kita—keyakinan bahwa kita bisa, bahwa kita mampu, dan bahwa kita layak untuk meraih impian kita.