20/10/2025
Bahkan, KH. Hasyim Asy'ari, yang telah ditetapkan sebagai pahlawan oleh B**g Karno, juga tidak dituliskan!
TKR (Tentara Keamanan Rakyat) pertama, yang kelak menjadi TNI, memiliki komandan divisi pertama bernama Kolonel KH. Sam’un, seorang pengasuh pesantren di Banten. Komandan divisi ketiga juga seorang Kyai, yaitu Kolonel KH. Arwiji Kartawinata dari Tasikmalaya. Bahkan, hingga tingkat resimen, kepemimpinan dipegang oleh para Kyai.
Faktanya, Resimen 17 dipimpin oleh Letnan Kolonel KH. Iskandar Idris, dan Resimen 8 oleh Letnan Kolonel KH. Yunus Anis. Di tingkat batalyon pun banyak komandan dari kalangan Kyai. Contohnya, Komandan Batalyon TKR Malang adalah Mayor KH. Iskandar Sulaiman, yang saat itu menjabat sebagai Rais Suriyah NU Kabupaten Malang. Data ini tercatat dalam dokumen arsip nasional, termasuk di Sekretariat Negara dan TNI.
Namun, ironisnya, semua fakta ini tidak tercantum dalam buku pelajaran anak SD/SMP/SMA. Seolah-olah peran Kyai tidak pernah ada. Bahkan, KH. Hasyim Asy'ari, yang telah ditetapkan sebagai pahlawan oleh B**g Karno, juga tidak dituliskan. Jasa para Kyai dan santri seolah disingkirkan dari sejarah berdirinya Republik Indonesia.
Pada masa awal kemerdekaan, Indonesia mengalami kesulitan keuangan untuk membayar tentara. Hanya para Kyai dan santri yang bersedia menjadi tentara dan berjuang tanpa bayaran. Mereka, dengan tentara-tentara Hizbullah, rela mengorbankan nyawa tanpa imbalan. Bahkan hingga kini, NU masih memiliki Banser, tentara swasta yang tidak dibayar.
Tentara baru menerima gaji pada tahun 1950. Selama periode perjuangan dari tahun 1945 hingga 1950-an, tidak ada tentara yang dibayar oleh negara.
Peristiwa 10 November di Surabaya adalah momen yang penuh kejanggalan. Bagaimana mungkin pertempuran besar terjadi setelah Perang Dunia berakhir pada 15 Agustus?
Sebelum 10 November, terjadi perang selama empat hari di Surabaya, yaitu pada tanggal 26, 27, 28, dan 29 Oktober 1945. Peristiwa ini dipicu oleh gejolak di Surabaya setelah fatwa resolusi jihad PBNU pada tanggal 22 Oktober, yang kini diperingati sebagai Hari Santri.
Tentara Inggris awalnya tidak menyangka akan terlibat pertempuran dengan penduduk Surabaya. Mereka mengira perang sudah selesai. Namun, karena masyarakat Surabaya terpengaruh oleh fatwa dan resolusi jihad, mereka menyerang Inggris yang baru mendarat di Surabaya. Inilah sejarah yang selama ini ditutupi.
Jika resolusi jihad diabaikan, peristiwa 10 November akan tampak tidak masuk akal. Mengapa tentara Inggris membombardir Surabaya tanpa alasan yang jelas? Namun, jika dilihat dari rangkaian peristiwa setelah resolusi jihad, baru menjadi jelas: mereka marah karena jenderal dan pasukannya dibunuh oleh arek-arek Suroboyo.
Fatwa Jihad muncul karena Presiden Soekarno meminta fatwa kepada PBNU tentang tindakan yang harus diambil warga negara Indonesia jika diserang musuh, mengingat Belanda ingin kembali berkuasa. B**g Karno juga menanyakan cara agar Indonesia diakui oleh dunia. Sejak proklamasi 17 Agustus, belum ada negara yang mengakui Indonesia.
Di mata dunia, Indonesia dianggap sebagai negara boneka buatan Jepang, bukan atas kehendak rakyat. Artinya, Indonesia dianggap sebagai negara yang tidak dibela oleh rakyatnya. Fatwa dan Resolusi Jihad kemudian dikeluarkan oleh PBNU. Akibatnya, Inggris yang hendak datang pada 25 Oktober tidak diperbolehkan masuk Surabaya karena penduduk sudah siap berperang.
Namun, sore harinya, Gubernur Jawa Timur mempersilakan Inggris masuk, tetapi hanya di tempat yang terbatas. Beberapa lokasi ditunjukkan, dan mereka masuk. Pada 26 Oktober, Inggris justru membangun banyak pos pertahanan dengan karung pasir yang ditumpuk dan diisi senapan mesin.
Arek-arek bertanya-tanya, "Apa maunya Inggris? Bukankah sudah tersiar kabar bahwa Belanda akan kembali menguasai Indonesia dengan membonceng tentara Inggris?" Pada 26 Oktober sore, pos pertahanan itu diserang massa. Penduduk Surabaya dari kampung-kampung keluar menyerbu pasukan Inggris. "Ayo tawur... tawuran...!"
Para pelaku menyebutnya bukan perang, melainkan tawuran. Tidak ada komando, tidak ada yang memimpin. "Pokoknya, begitu dengar jihad... jihad... Mbah Hasyim... Mbah Hasyim..." Berduyun-duyun, arek-arek Suroboyo keluar rumah dan langsung tawur sambil berteriak 'Allahu Akbar', dan itu berlangsung pada 27 Oktober.
Mereka bergerak karena seruan jihad Mbah Hasyim disiarkan melalui langgar-langgar, masjid-masjid, dan pengeras suara. Pada 28 Oktober, tentara ikut bergabung dengan arek-arek, ikut berkelahi dengan Inggris. Massa langsung dipimpin tentara. Dalam pertempuran 28 Oktober ini, lebih dari 1.000 tentara Inggris tewas.
Namun, tentara tidak mau mengakui, karena Indonesia belum diakui kemerdekaannya. Ini akan menjadi masalah besar di tingkat dunia jika ada kabar tentara Indonesia membunuh Inggris. Tentara tidak mau ikut campur. Negara belum diakui, bagaimana bisa mengklaim membunuh tentara Inggris? Itu semua adalah inisiatif arek-arek Suroboyo.
Pada 29 Oktober, pertempuran terus berlanjut. Inggris akhirnya mendatangkan Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta untuk melakukan mediasi. Pada 30 Oktober, ditandatanganilah kesepakatan damai untuk tidak saling menembak. Gubernur Jawa Timur juga ikut menandatangani. Namun, meskipun sudah ada kesepakatan damai, massa kampung tidak setuju.
Pada 30 Oktober, Brigadir Jenderal Mallaby akhirnya terkena granat arek-arek Suroboyo. Ia tewas mengenaskan di tangan pemuda Ansor. Ditembak, mobilnya diledakkan dengan granat di Jembatan Merah. Sejarah kematian Mallaby ini tidak diakui oleh Inggris. Ada yang menyebut Mallaby dibunuh secara licik oleh Indonesia. Aneh, seorang jenderal tewas tetapi penyebabnya disembunyikan karena malu.
Inggris sangat marah. Negara kolonial merasa kalah dan malu. Perang sudah selesai, tetapi pasukan Inggris diserang dan jenderalnya dibunuh. Apa maksudnya? "Jika sampai tanggal 9 November pukul 18.00 pembunuh Mallaby tidak diserahkan, dan pada tanggal itu orang-orang Surabaya masih memegang senjata api, meriam, dan tidak menyerahkan senjata kepada tentara Inggris, maka pada tanggal 10 November pukul 06.00 Surabaya akan dibombardir dari darat, laut, dan udara," begitu ancam jenderal tertinggi Inggris.
Tujuh kapal perang datang ke Pelabuhan Tanjung Perak. Meriam Inggris diarahkan ke Surabaya. Meriam Howitzer yang khusus untuk menghancurkan bangunan juga diturunkan. Satu skuadron pesawat tempur dan pesawat pengebom juga disiapkan. Surabaya akan dibakar habis karena Inggris marah kepada pembunuh Mallaby.
Pada 9 November pukul 15.30, Mbah Hasyim yang baru pulang dari Konferensi Masyumi di Jogja sebagai ketua, mendengar kabar bahwa arek-arek Suroboyo diancam Inggris. "Fardhu ain bagi semua umat Islam yang berada dalam jarak 94 kilometer dari Kota Surabaya untuk membela Kota Surabaya." Jarak 94 kilometer adalah jarak diperbolehkannya salat qoshor.
Wilayah Sidoarjo, Tulungagung, Trenggalek, Kediri, wilayah Mataraman, Mojokerto, Malang, Pasuruan, Jombang datang semua karena berada dalam radius 94 kilometer. Dari Kediri, Lirboyo datang dipimpin Kyai Mahrus. Seruan Mbah Hasyim langsung disambut luar biasa. Bahkan Cirebon yang jaraknya lebih dari 500 kilometer datang ke Surabaya untuk ikut seruan jihad PBNU.
Anak-anak kecil bahkan orang-orang dari lintas agama juga ikut berperang. Orang Konghucu, Kristen, dan Buddha semua ikut jihad. Selain Mallaby, pertempuran di Surabaya menewaskan Brigadir Jenderal Loder Saimen. Luar biasa pengorbanan arek-arek Surabaya, para Kyai, dan santri. Namun, lihatlah apa yang dilakukan pemerintah di kemudian hari kepada para Kyai ini? Dimanipulasi.
Demikian kultweet dutaislamcom dari KH. Agus Sunyoto saat menghadiri bedah buku "Fatwa dan Resolusi Jihad" di Pondok Lirboyo 3 November 2017.
repost 🙏🏻
— di Indonesia.